
Untuk menyambut kedatangan tamu besar mama Rosi menyiapkan semuanya serba mewah dan teliti. Jangan sampai ada yang kurang berkenan di hati mertuanya yang mulia.
Rumah mewahnya yang menurut kalangan atas cukup sederhana tak mungkin bisa menampung kedatangan keluarga besar suaminya karena itu ia menyewa jasa WO untuk menyelenggarakan acara di taman. Dengan konsep terbuka dan dekat dengan alam. Dengan tulisan besar di samping pagar.
...SELAMAT DATANG TATA...
...DAN SEGENAP KELUARGA HAN...
Euforia yang diciptakan mama Rosi sungguh luar biasa. Membuat seisi rumah ikut larut dalam kepanikan yang berbalut kebahagiaan.
Sofiyah yang sudah berjanji untuk memasak menu-menu spesial dari resep yeye sudah mempelajari resep-resep masakan yang ada di buku tulis maminya. Setiap hari berlatih agar rasanya bisa memuaskan dan tak mengecewakan Tata. Berharap semoga itu berkenan di hati Tata dan beliau mau memaafkan karena itu bukan resep dari papi melainkan resep yang ada di buku mami yang kemungkinan besar adalah resep warisan keluarga mami.
Begitu hari H tiba wajah mama nampak tegang, telapak tangannya dingin dan berkeringat tapi mama Rosi semakin bergerak kesana kemari untuk menghilangkan kegugupannya.
"Mam please! Kepala I jadi pusing lihat mama mondar mandir dari tadi"-Daniel
"Ma, duduk saja! Biar Aya yang handle semuanya."-Sofiyah
"Mama duduk saja, tahu-tahu beres. Mudahkan?"-Koko
Anak dan menantunya sudah coba untuk menenangkan tapi si mama yang pagi ini wajahnya kaku tak bisa tersenyum, hanya menanggapinya dengan berkata, "Biarkan saja mama. Kalian kerjakan saja tugas kalian masing-masing!"
Padahal tak ada tugas apa-apa yang harus diselesaikan. Semua sudah beres.
Sedangkan papa hanya melihat sang istri yang nervous dengan mengulum senyum. Baru kali ini dia bisa melihat wajah istrinya yang panik ketakutan dan baginya itu terlihat lucu sekaligus menggemaskan dalam waktu bersamaan. Istrinya yang biasanya datar dan tak pernah bisa marah padanya kini tiba-tiba nampak ekspresif sekali. Berkali-kali menggigit bibir. Berjalan kesana kemari seperti seorang gadis yang akan diperkenalkan pada calon mertua.
Mama Rosi bahkan meminta suami dan anak-anaknya untuk berdiri dan memeriksa pakaian mereka satu persatu jangan sampai ada yang kurang rapi. Semuanya harus tampak sempurna.
Sampai akhirnya beliau mau duduk dengan raut muka tegang. Mama *******-***** jemarinya sendiri yang dilihat oleh keluarganya dengan gelengan kepala karena tak mampu membuat sang mama tenang.
Tapi keadaan itu tak bertahan lama karena tiba-tiba terdengar nada dering yang lumayan nyaring.
Look who we are,
we are the dreamers
Mama Rosi seketika langsung berjingkat berdiri saking kagetnya sambil memegang dadanya yang berdetak kencang.
"Ma...!" Ketiga pria yang ada disitu ikut berdiri secara refleks.
__ADS_1
We make it happen,
’cause we believe it
Look who we are,
we are the dreamers
We make it happen
cause we can see it
Sementara lagu yang dibawakan oleh personal BTS itu masih mengalun dengan indah. Nadanya yang rancak membuat orang yang mendengarnya ingin ikut bergerak menari.
"Yank, angkat hapenya!" Basofi melirik sang istri yang sepertinya tidak sadar kalau nada dering yang masih mengalun di telinga berasal dari ponselnya yang menggelepar.
Sofiyah pun menoleh ke kanan dan kiri mencari keberadaan ponselnya di kursi yang ia diduduki. Tertera Nomer baru yang tidak diketahui sedang memanggil. Ia pun menggeser gambar berwarna hijau untuk menjawab panggilan tersebut.
"***... " Kalimatnya terpotong karena si penelepon sudah langsung bicara panjang lebar.
"Kenapa tidak langsung diangkat?" suara diseberang sana langsung mengiterupsi. Aku sebentar lagi sampai. Apa kau sudah menyiapkan semuanya?"
"Tata?"
Klik
"Ta....!" Sofiyah melihat layar ponselnya dan sambungan telepon ternyata sudah diakhiri secara sepihak sebelum dia berkata apa-apa.
Sang mama tergopoh-gopoh mendatangi menantunya, "Kenapa, kenapa dengan Tata, apa beliau sudah hampir sampai?" Tanyanya risau.
"Ma!!!" Ketiga pria yang dari tadi ikut khawatir memanggilnya dengan serempak.
"Diam kalian!!" Sontak saja membuat ketiganya menutup mulut sambil menelan ludah. Tak pernah sekalipun mereka pernah mendengar wanita yang mereka sayangi ini berkata ketus seperti yang barusan terjadi. Terutama sang suami yang biasanya hanya tahu sisi lembut dan manisnya saja. Dia hampir tak percaya yang ada di depannya adalah istrinya. Mungkin saja itu jelmaan manusia jadi-jadian.
"Mama!!" Sang suami ingin membuktikan sendiri apa istrinya memang sudah berubah dan berani melawannya atau tidak.
"Papa bisa diam nggak?!!" Bentak sang istri tak ada takut-takut nya.
"Tata bilang apa sayang?" Tanya mama pada Sofiyah.
__ADS_1
"Tata sudah hampir sampai mah" Jawab Sofiyah sambil tersenyum.
"Ayo ayo keluar semua!" Kata sang mama.
"Ma...!" Pak Adi berkata dengan lembut mendekati istrinya dan berniat merengkuh pundak sang istri tapi mama Rosi sudah lebih dulu menggandeng menantu nya keluar. Membuat pak Adi berdecak kesal karena ditinggalkan.
Secara tak sadar Basofi dan Daniel menahan tawa melihat raut muka sang papa kini tak ada harga dirinya. Dicampakkan istri sendiri di depan anak-anaknya.
"Apa kalian lihat. Jalan sana!" Katanya kesal pada kedua putranya yang terlihat seperti mengejek dirinya.
"Papa jangan banyak bicara! Cepat jalan!" Mama Rosi membentak suaminya lagi.
Pak Adi mengusap tengkuknya sambil berjalan di depan istri dan menantunya. Babas dan Daniel tak bisa menahan tawa mereka. Kebahagiaan tersendiri menyaksikan papa bertekuk lutut sedemikian rupa pada sang mama.
"Aku suka kalau mama galak begini!" Kata Basofi sambil berjalan.
Daniel yang ikut berjalan disampingnya menyahuti, " Iya benar. Aku setuju ko" Katanya lantang.
"Kalian berdua bisa diam tidak?" Salak mama. "Cepet jalan!" Perintahnya pada kedua putranya.
"Syukurin!" Kata papa yang ada di barisan paling depan mengejek kedua putranya.
Babas yang berjalan bersisian dengan Daniel tak sengaja saling melihat dan bertatapan.
"Ape lo?" Kata Babas sambil melotot
"What the .....! " Daniel justru balas memaki kokonya.
Keduanya saling berkacak pinggang dan berhadapan siap bergulat untuk mempertahankan keegoisan.
"Kalian bisa diam tidak!!!" Bentak mama lebih sengit membuat ketiga pria itu berlalu sambil menutup mulut rapat-rapat tak berani bicara lagi.
"Ayo sayang! Mereka itu benar-benar tidak tahu keadaan. Sudah tahu situasi genting begini malah ngobrol yang nggak jelas!!" Mama melanjutkan omelannya untuk melegakan kepanikannya sambil berjalan di belakang Basofi dan Daniel.
"Tapi kamu nggak papa kan sayang? Lemes nggak? Semoga dedek bayinya ngerti keadaan yang sedang terjadi. Nanti kalau sudah selesai acaranya biar dipijat sama koko ya sayang! Jangan lupa mandi pakai aroma terapi. Biar otot-ototnya rileks semua!"
"Iya ma...!" Lagi-lagi Sofiyah tersenyum pada mama karena merasa bahagia.
Pak Adi, Basofi, Daniel, mama kemudian Sofiyah berbaris rapi sesuai instruksi dari nyonya besar Adi. Hari ini no debat no interupsi. Semua harus menuruti permintaan mama yang lebih tepat disebut perintah karena tak bisa dibantah.
__ADS_1
Di balik pagar mereka berdiri dan sudah menggelar karpet merah untuk kedatangan grandpa alias Tata.
Tanpa mereka sadari kecanggungan dan pagar yang dibangun tinggi-tinggi diantara mereka mulai runtuh. Es batu yang biasa menyelimuti rumah itu mulai mencair. Satu sama lain tanpa sadar saling bicara dan menyela seperti interaksi keluarga pada umumnya.