
ROMANTISME PAHLAWAN
Bung Hatta, wakil presiden RI yang pertama adalah sosok pendiam, kutu buku, orang yang serius dan juga orang yang datar, tidak berekspresi.
Berbeda dengan sang presiden yang suka tebar pesona dengan dandanan yang necis dan klimis, flamboyan, penuh energi dan menyenangkan. Bung Hatta sebaliknya selalu tampil sederhana.
Pada tahun 1920 an ada pegawai penerjemah dari Aceh yang mempunyai seorang putri bernama Ani Nurdin. Ia seorang gadis yang cerdas, pandai dan solihah.
Teman-temannya menjodohkannya dengan bung Hatta.
"Serius, kamu itu cocok sekali dengan Hatta. Kamu bisa mengimbangi keseriusannya", begitu kata teman-temannya.
Ani Nurdin tentu tertarik dengan sosok bung Hatta yang cerdas, pintar dan berasal dari keluarga terpandang.
Tapi ternyata justru bung Hatta yang menolak perjodohan itu. Di Den Haag beliau pernah bersumpah, tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka.
__ADS_1
Setelah Proklamasi terjadi bung Karno mendatangi bu Ani Nurdin dan berkata, "Ani, mungkin ini akan menjadi keputusan yang sulit. Kau punya anak perempuan yang bernama Rahmi Rachim. Bagaimana kalau putrimu itu menjadi istri dari sahabat terbaikku?"
Deg,
bu Ani kaget mendengar kata sahabat dari mulut bung Karno. Jangan-jangan yang dimaksud adalah Hatta. Orang yang pernah dijodohkan dengannya.
"Maksudnya siapa?", tanya Bu Ani Nurdin.
"Siapa lagi? Hatta..!", jawab bung Karno.
"Aku tahu... tapi di zaman sekarang ini suami seperti apakah yang diharapkan oleh seorang perempuan? Adakah yang seperti Hatta? Aku jamin dia adalah seorang yang jujur, aku jamin dia adalah seorang yang pintar, aku jamin dia adalah seorang yang setia, aku jamin dia adalah orang yang pengertian....", Bung Karno menjelaskan kelebihan bung Hatta dengan menggebu-gebu.
"Ya sudah biar Yuke (nama panggilan Rahmi Rachim) yang memutuskan...", jawab bu Ani Nurdin.
Kemudian hal itu diceritakan pada Rahmi Rachim. Dan adiknya yang bernama Titi Rachim mengatakan, "Jangan mau kak! Dia itu sudah tua banget. Om om.... Masak kakak mau nikah sama om-om?"
Saat itu bu Rahmi baru menginjak usia 19 tahun sedangkan bung Hatta sudah 43 tahun.
__ADS_1
Tapi ternyata bu Rahmi menerimanya. "Dia bukanlah sembarang lelaki, pria istimewa, satu diantara berjuta-juta pria", begitu ungkapnya.
Pada akhirnya mereka kemudian menikah dan lebih gilanya lagi bung Hatta memberi sang istri mas kawin berupa buku yang berjudul 'ALAM PIKIRAN YUNANI'. Buku yang beliau tulis sendiri dan di dalamnya berisi tentang filsafat semua.
Teman-temannya heran dan geleng-geleng kepala sampai Sjahrir berkata, "gila kamu Hatta! Kamu memang kering seperti padang pasir".
Bung Hatta bisa memanggil bu Ani Nurdin yang dulu di jodoh-jodohkan dengannya dengan panggilan ibu karena sudah menjadi mertuanya dan tampak tidak ada beban di sana karena bung Hatta punya kelebihan menyembunyikan perasaan dengan baik dan orang tidak mudah membaca pikirannya.
Perbedaan umur yang fantastis, 24 tahun nyatanya tak menggoyahkan cinta keduanya dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Terbukti selama 35 tahun bersama tidak pernah sekalipun terdengar berita buruk tentang rumah tangga bung Hatta yang menyeruak ke permukaan.
Meski dingin dan pendiam Bung Hatta nyatanya mampu membawa bahtera rumah tangganya dengan bahagia, penuh pengertian dan setia sampai akhir hayatnya meski keluarga mereka harus hidup sederhana.
DIRGAHAYU KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA YANG KE 77
semangat semuanya!!!
__ADS_1