Kamu Bukan Yg Pertama

Kamu Bukan Yg Pertama
bamper


__ADS_3

Basofi


Aku mengerem mobilku secara mendadak karena mobil di depanku juga tiba-tiba mengerem mobilnya hingga berdecit suara yang ditimbulkannya. Rupanya mobil di depannya lagi adalah biang kerok dari pengereman mobil secara mendadak pagi ini sehingga menimbulkan sedikit kemacetan di daerah perusahaan dan perkantoran yang berada di sekitar sini.


Seorang gadis turun dari mobil biang keladi itu. Kupicingkan mata ku agar bisa melihatnya lebih jelas. Gadis itu seperti Sofiyah.


Mobil di depanku berbelok sedikit dan menyalip mobil biang kerok tadi yang hanya berjalan pelan sekali seperti ingin menyejajarkan diri dengan si gadis.


Mataku terbelalak saat melihat ternyata mobil itu adalah mobil Daniel.


"Sial!! Dia semakin akrab saja dengan bocah tengik itu" umpat ku menganalisa keadaan.


"Tin tin tinnnnn!!!" Kubunyikan klakson dengan sangat keras agar mereka segera berpisah.


Daniel menjalankan mobilnya melewati gerbang pintu masuk dan berhenti di depan pos security. Melalui jendela dia menengok ke arahku dan aku menatapnya dengan tajam. Rupanya dia tak takut dengan ku malah melihatku seolah-olah tak mengenalku tanpa rasa gentar sama sekali.


Aku melewati Sofiyah dan berbelok memasuki pelataran perusahaan. Aku melihatnya dari spion, dia sepertinya menuju ke security, mungkin minta penunjuk jalan atau bertanya hal lainnya. Aku tak perduli.


Gadis kecil itu sama sekali tak mengindahkan perintah ku agar menjauh dari Daniel. Dia benar-benar tidak mau mendengarkanku.


"Aku akan memberimu pelajaran gadis kecil.....!" Aku merasa sangat kesal dengannya. Meskipun mama mendukungnya tapi di sini aku lah yang berkuasa jadi tidak ada yang akan bisa menolongmu keluar dari cengkeraman ku. Lihat saja nanti, batinku sambil menyeringai.


Mobil kuberhentikan tepat di depan pintu masuk perusahaan dengan mesin yang masih menyala. Kutinggalkan begitu saja dan salah satu security langsung sigap dan mengambil alih kemudi menuju tempat parkir istimewaku.


Aku berjalan dengan memasukkan salah satu tangan ke saku ku sambil mengelus dagu ku yang mulai ditumbuhi bulu-bulu hitam.


'Mungkin aku harus memanjangkan jenggot ku agar terlihat lebih macho dan keren' Batinku narsis.


Aku menuju resepsionis dan mereka serempak menyambutku dengan menundukkan kepala sejenak sambil menyapa.


"Pagi pak..!!!!"


"Pagi.... Kamu kenapa makin cantik sih?" Aku menyangga daguku dengan telapak tangan ku sambil mengerlingkan mata pada pegawaiku yang terlihat paling cantik di situ. Gadis itu tersenyum malu. Terlihat sekali wajahnya tersipu-sipu.

__ADS_1


Aku mendekati meja lain setelah berhasil membuat anak gadis orang salah tingkah dan meninggalkannya begitu saja.


"Nanti kalau ada gadis bernama Sofiyah langsung suruh menghadapku, di lantai atas. Katakan aku sudah menunggunya"


"Baik pak..." Kata resepsionis yang terlihat lebih senior dari ke lima orang yang ada di situ.


Aku pun berjalan menuju lift yang akan membawaku ke lantai paling atas di gedung ini. Ruangan pribadiku.


Ada tiga petugas kebersihan di situ yang sedang membersihkan ruanganku dan juga ruangan di depannya yang luas tanpa sekat yang biasanya di pakai Mikail asistenku dan juga sekretaris ku.


Mikail, asisten ku bahkan juga belum datang. Aku berangkat terlalu pagi rupanya. Kulihat jam di pergelangan tanganku yang menunjukkan pukul setengah delapan.


Apa aku bangun terlalu cepat tadi ya, kenapa tak ada angin tak ada hujan aku datang terlalu pagi. Sepertinya aku punya semangat berlebih hari ini sampai bisa datang sepagi ini.


Pantas saja wajah para security dan resepsionis tadi seperti merasakan sesuatu yang janggal saat melihatku. Mungkin mereka membatin, kesambet apa pak direktur sampai bisa datang sepagi. Hanya saja mereka semua tak ada yang berani bertanya atau sekedar mengeluarkan suara.


Para pekerja itu melihatku dan menundukkan kepalanya sekejap untuk menyapaku dan aku tak menghiraukannya. Aku melangkahkan kakiku kemudian duduk di kursi sekretaris sambil menggoyangkan nya ke kiri dan ke kanan.


Ku awasi para pekerja di situ. Kulihat satu persatu dan tentu saja setelah itu ku fokuskan pada gadis yang terlihat masih gadis. Dua diantara mereka terlihat masih gadis dan tubuhnya terlihat kerempeng sampai tak terlihat lekukannya sama sekali.


"Kenapa?" Tanyaku dingin sambil memonyongkan mulutku sampai membentuk seperti ***** ayam.


"Mau membersihkan mejanya Pak..."


"Bersihkan saja aku tidak akan mengganggu..." Kataku sambil memundurkan kursi agak ke belakang.


" Ba-baik pak!" Katanya sambil mulai mengambil lap kemudian menyemprotkan pembersih ke meja kaca itu.


Aku memperhatikan bagian belakang tubuhnya.


' Hehe cukup besar bampernya meski tubuhnya kecil. Dan.... apa itu? Sengaja menggoyangkan pinggulnya atau itu memang tak sengaja karena gerakannya saat membersihkan meja sehingga pantatnya pun ikut bergerak.


"Pagi pak!!" Suara bariton itu terdengar dan berhasil membuyarkan lamunanku.

__ADS_1


Aku menoleh ke arah suara yang mengejutkanku itu. Buyar sudah lamunanku.


Mengganggu kesenangan orang saja.


"Maaf terlambat pak!" Katanya lagi.


"Iya! gajimu bulan ini akan ku potong 2 persen..."


"Maaf pak! Saya tidak terlambat pak. saya tepat waktu. Bukankah sekarang masih jam delapan."


"Kau sendiri tadi yang bilang terlambat!"


"Itu karena.... itu karena bapak yang datangnya terlalu pagi...." Mikail mencoba berargumen.


"Oh... jadi aku yang salah..?"


"Bukan.... bukan itu maksud saya pak..."


"Baiklah akan kutambah potongannya menjadi 5 persen. Dan.... kalau masih tak terima akan ku tambah lagi nanti..."


" Iya.... baiklah saya yang salah pak...." Akhirnya dia menyerah dan mengakui kekalahannya.


"Ini kunci mobilnya pak...!" Kata Mikail sambil menyerahkan kunci mobil padaku.


"Suruh mereka bekerja lebih pagi lagi. Agar ketika aku sampai disini jam berapapun aku tak perlu melihat mereka lagi!!!!" Perintahku pada Mikail untuk para cleaning sevice.


"Baik pak....!"


"Kalau nanti ada gadis yang bernama Sofiyah jangan suruh masuk ke ruanganku dulu. Suruh dia duduk disini sampai aku menelponmu."


"Baik pak!!" jawabnya lagi.


Aku berdiri kemudian mendekati gadis yang masih saja berkutat membersihkan meja sedari tadi.

__ADS_1


"Bampermu besar sekali..... Terlalu lebar untuk ku..." Bisikku ditelinganya. Aku pun berlalu begitu saja tak merasa bersalah sama sekali. Aku yakin gadis itu mukanya sudah merah padam dan mungkin ingin marah-marah untuk meluapkan emosinya.


__ADS_2