Kamu Bukan Yg Pertama

Kamu Bukan Yg Pertama
Sabar Bas!


__ADS_3

Setelah seharian berkutat dengan pekerjaan Basofi kembali ke rumah sakit tanpa pulang terlebih dahulu dengan diantar oleh pak Ali. Dia butuh istirahat untuk memejamkan mata barang sejenak.


Di dalam mobil Basofi memejamkan matanya tapi alam bawah sadarnya mengingat kejadian tadi pagi. saat ia berangkat kerja dan Sofiyah mengantarkannya.


Ia tersenyum masih dengan mata tertutup rapat. Rasanya itu seperti adegan rumah tangga ketika suami berangkat kerja dan sang istri mengantarnya. Basofi membayangkan jika nanti mereka sudah menikah Sofiyah akan mengantarnya saat ia berangkat kerja dengan bergelayut manja di lengannya.


'Dan aku akan memberinya ciuman di bibirnya dan kecupan di keningnya' Batin Babas sambil senyum-senyum sendiri dan hal itu terlihat oleh pak Ali lewat kaca spion tengah. Pria yang sudah berumur itu ikut mengulum senyum karena majikan mudanya yang terlihat seperti orang yang sedang jatuh cinta.


Sesampainya di ruangan tempat mami Soraya menginap tidak ada siapapun di sana. Ruangan itu sepi dan sunyi. Semuanya tampak rapi seperti sebelum ditempati.


Basofi kemudian meraih ponselnya dan menghubungi mamanya tapi tak juga diangkat. Dan sebelum dia menelpon Sofiyah ada panggilan masuk dari asistennya Mikail yang hari ini harus merangkap pekerjaan menjadi seorang sekretaris juga menggantikan Sofiyah.


"Apa?" Basofi menjawabnya dengan nada sengal.

__ADS_1


"Tadi Sofi mengirim pesan padaku, dia bilang kalau maminya sudah boleh pulang dan memintaku untuk memberitahumu Bos" Kata Mikail dengan sabar.


"Kenapa dia tidak memberitahuku sendiri, kenapa harus lewat kamu Mek?"


"Aku tidak tahu bos.... Mungkin karena aku lebih tampan, sabar, menyenangkan juga humoris...." Jawab Mikail santai.


"Kau jangan-jangan macam-macam Mek! Aku bisa nekat dan memukulimu sampai wajahmu itu tak berbentuk lagi. Bahkan keluargamu saja tidak akan mengenalimu!!!" Basofi berteriak di telponnya, membuat orang-orang yang lewat di situ, di dalam rumah sakit itu menatapnya heran.


"Itu bukan urusanmu!" Kata Basofi dengan mengeratkan gigi gerahamnya.


"Bas.... Seorang gadis itu butuh pengakuan cinta. Kau harus mengalah! Turunkan egomu itu! Lalu bersikap lembutlah padanya! Katakan kalau kau menyukainya dan membutuhkan dia! Jangan sampai menyakiti hatinya! Perempuan itu lemah juga lembut. Mereka tidak bisa dikasari, dan sedikit-sedikit pasti menangis. Percayalah padaku Bas!! Aku berbicara seperti ini sebagai temanmu. Usiamu itu sudah tua tapi kau tidak tahu bagaimana seharusnya memperlakukan seorang wanita yang kau suka"


"Simpan saja ceramahmu itu untuk dirimu sendiri! Umur kita sama dan kau sendiri belum mendapatkan seorang wanita yang bisa menerimamu apa adanya. Apa bedanya dirimu dengan diriku?" Kata Basofi seolah tak bisa menerima perkataan Mikail padahal dalam hatinya dia membenarkan semua yang dikatakan oleh asisten sekaligus sahabatnya itu.

__ADS_1


"Hahh ....!! terserah kau saja lah Bos. Bagaimana kalau begini saja. Kita bersaing secara adil untuk mendapatkan perhatian Sofi? Bagaimana?"


"Kau ingin mati ya?" Tanya Basofi dengan muka merah karena marah.


"Makanya kalau ngomong itu hati-hati. Dulu kau sendiri yang bilang kalau kau sama sekali tak tertarik pada Sofiyah dan aku boleh mendekatinya. Tapi sekarang apa??!" Mikail ikut tersulut emosi.


"Diam kau!! Kenapa kau tidak jadi ustadz saja kalau kau suka sekali berceramah?"


"Kau......"


Tut tut tut.......


Panggilannya langsung dimatikan oleh Basofi sebelum Mikail menyelesaikan kalimatnya yang membuat pria itu marah-marah dan ingin membanting hapenya.

__ADS_1


__ADS_2