
Basofi menatap kain segitiga yang dilemparkan Sofiyah dan jatuh tepat mengenai mukanya. Matanya mengerjap-ngerjap tak percaya. Bagaimana bisa dia mendapatkan bonus yang tak terduga. Seolah-olah Sofiyah menyerahkan diri padanya dengan sukarela.
Tak berhenti di situ dia malah mengendus-endusnya mencari aroma lain Sofiyah yang mungkin masih tersisa tapi hanya bau wangi pencuci pakaian yang tercium di hidungnya.
Dasar pria edan tak tahu diri yang pikirannya tak pernah jauh dari hal yang itu-itu saja.
Ia pun mencoba untuk melipat kain itu menjadi gulungan seperti semula tapi tidak bisa-bisa juga. Akhirnya diapun menyerah dan menaruh kain penting Sofiyah dengan asal-asalan di kotak pertama dan segera menutupnya.
Lelaki berpostur tinggi itu segera berpakaian dengan lengkap kemudian melempar handuk yang dipakainya begitu saja ke atas kasur si Aya. Dia mengerucutkan bibirnya berulang-ulang tidak tahu apa yang ada dalam otak mesumnya.
Di ruang tamu sudah ada tiga orang yang duduk membentuk lingkaran dengan makanan yang sudah di tata berada di tengah mereka. Ada ayam panggang utuh di besek besar, lalapan, sambal dan enam kotak nasi lengkap dengan lauknya. Juga beberapa minuman dalam kemasan gelas plastik dengan berbagai rasa.
Basofi menatap tidak suka pada lelaki remaja yang ikut duduk di situ, sayangnya di tak bisa menampakkannya dengan jelas seperti biasanya karena ada calon mertua yang kini juga duduk bersamanya.
" Ayo ko....! Mami sudah lapar.... Koko pesan makannya banyak amat. Habis nggak ya?" Kata wanita paruh baya itu sambil mulai mengambil piring dan memindahkan nasi dan ayam panggang dari kotak nasi ke dalam piringnya.
Kebiasaan mereka jika makan lebih suka menggunakan piring daripada langsung makan dari kotak makan yang terbuat dari kerdus.
Basofi yang memang sudah lapar segera mengambil piring dan melakukan hal yang sama dengan calon mertuanya. Mereka berdua terlihat makan dengan lahap terutama wanita yang dipanggil mami oleh ketiganya. Beberapa hari dirundung duka membuat nafsu makannya hilang dan hari ini dia merasa bahagia ditemani oleh tiga anak muda yang sudah seperti keluarga sehingga ia bisa makan dengan lahapnya. Ia bahkan lupa dengan kejadian yang baru saja dilihatnya di kamar putri satu-satunya.
Sofiyah dan Daniel nampak tidak terlalu bersemangat dan itu tak luput dari pengamatan Basofi.
"Nak Daniel suka mi kayak Fiah ya?" tanya wanita paruh baya itu sambil tersenyum ramah.
"We have the same taste Fiah...." Kata Daniel sambil melebarkan senyumnya menatap gadis yang makan dengan pelan, bukan karena mencari muka tapi karena memang tak berselera.
__ADS_1
Jiwa iblis Basofi bak tersulut kobaran api yang tak kasat mata. Cemburu karena ternyata kesukaan Fiah dan adiknya sama. Tapi lagi-lagi ia tak bisa bertindak seenaknya karena sang calon mertua berada di dekatnya. Dia harus menekan egonya sekuat mungkin agar tak menumpahkannya pada Daniel dan Sofiyah saat ini juga.
"Sebentar ya... " Kata mami sambil beranjak berdiri.
"Mami mau ngambil apa, biar Fiah yang ambil kan..." Sofiyah sudah siap berdiri tapi mami mendorong pundaknya pelan agar ia tetap duduk.
"Sudah.... kamu makan saja! Kamu pasti lapar , baru pulang kerja...!" Kata sang mami kemudian berlalu masuk ke dalam menuju dapur kecilnya.
"Kapan-kapan kita jalan cari bakmi. Do you want?" Tanya Daniel sambil mengamati gadis putih bermata sipit itu.
"Yang sopan kamu kalau sama cece!". Basofi menekan suaranya sambil menatap tajam pada Daniel yang memutar kepalanya dengan malas tak ingin menanggapi kakaknya.
Sofiyah yang merasa tidak punya muka karena kekonyolannya pada Basofi tadi hanya diam menunduk tak bereaksi apa-apa. Hal itu justru disalah artikan oleh pria tampan yang sedang kepanasan karena diserang cemburu itu sebagai persetujuan.
Kedatangan mami Aya menghentikan aksi Basofi yang ingin mengintimidasi keduanya.
"Waw.... its delicious.." Daniel langsung mengambil piring berisi mi itu dengan mata berbinar bahagia. Ia hendak membaginya dengan Sofiyah tapi si gadis menolaknya dengan alasan sudah kenyang.
Mata gadis berperawakan kecil itu mulai berkaca-kaca. Mi adalah makanan favorit papi dan dirinya seperti kebanyakan keturunan Tionghoa lainnya. Ia ingat bagaimana mereka berdua selalu rebutan mi dengan sumpit. Dan anehnya menjelang beliau berpulang sang papi malah memberikan satu piring mi yang dibuat oleh mami kepadanya.
"Biar tumbuh besar jadi anak cantik yang membanggakan mami dan papi." Ujar papi di sisa-sisa usia beliau.
Sofiyah memalingkan muka sambil mengusap air matanya agar wanita yang duduk di sebelahnya tidak tahu jika ia sedang menangis karena teringat sang papi yang mereka sayangi.
"Mami solat Ashar dulu ya...." kata mami setelah menyelesaikan makanannya.
__ADS_1
" Koko tadi belum solat kan?" Tanya Sofiyah di depan maminya agar Basofi tak bisa mengelak dan mau menjalankan solat meski terpaksa.
"Habis ini " Jawabnya dengan terpaksa karena memang tidak ada dalam agendanya untuk menunaikan solat Ashar. Rencananya dia hanya akan solat Maghrib dan Isya' berjamaah nantinya.
Setelah selesai makan pria tinggi besar itu terpaksa melangkahkan kakinya ke masjid yang kini masih dipenuhi para jamaah pengajian. Sebenarnya dia sangat tidak rela meninggalkan Sofiyah dengan adiknya. Rasa cemburu merayapi dadanya. Berkobar-kobar seperti kertas yang terbakar.
"Kau mau apa disini? Pulang ke rumah mama mu sana!" Kata Basofi ketus sambil berjalan keluar
" You keberatan Fiah?" Tanya Daniel pada Sofiyah ketika Basofi sudah berada di luar rumah.
" No " Jawab Sofiyah singkat.
Setelah Solat Ashar Babas tidak langsung kembali ke rumah Sofiyah karena ingin mendengarkan tanya jawab yang sedang berlangsung di masjid. Ada sedikit rasa ingin memperdalam agama tapi masih samar-samar.
Sebakda solat Maghrib anak-anak memenuhi masjid untuk mengaji. Basofi mengamati mereka. Apakah dia harus mulai belajar mengaji dan berteman dengan anak-anak seperti mereka. Sekilas saja ia tahu kalau dirinya tidak bahkan tidak tahu apa-apa. Mungkin ia sejajar anak-anak yang berusia lima tahunan yang baru belajar mengenal huruf Hijaiyah dan suara mereka sebagian ada yang masih cadel.
Beberapa saat setelah itu barulah ia kembali ke tempat tinggal Sofiyah dan itu berbarengan dengan kedatangan mamanya.
Mamanya terlihat buru-buru masuk ke kediaman Sofiyah sampai-sampai tidak menyapanya.
"Sinyo...!! Kenapa kamu masih di sini? mama mu sakit nyo!!" Wanita itu langsung memarahi adik Basofi lupa kalau itu bukan tempat tinggal mereka.
"Sudah ada papa kan ma?" Tanya Daniel dengan muka betenya.
" Dia nyariin kamu. Dia kangen sama kamu nyo!!"
__ADS_1
Sofiyah dan maminya yang mendengar hal itu hanya melongo tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.