
Sofiyah membaca pesan Basofi antara percaya dan tidak percaya tapi hatinya mencoba meyakinkan dirinya bahwa seorang Basofi tidak mungkin melakukan hal gila semacam itu. Menunggu di depan pintu berjam-jam sampai istrinya membukakan pintu untuknya.
Memangnya ini serial meteor garden. Yang ceweknya nunggu semalaman di depan gerbang agar diperbolehkan masuk oleh orang tua si pria.
Sofiyah makan camilan yang ia bawa sampai cuma tinggal beberapa dan minum air putihnya sampai tersisa setengah.
Sofiyah kemudian merasa mengantuk dan menarik selimut sebatas dada kemudian mulai memejamkan mata.
Ceklek ceklek
Tok tok tok
Basofi mencoba membuka pintu ingin tahu apakah pintu kamarnya benar-benar dikunci oleh sang istri atau tidak.
"Ay...! Nasi gorengnya sudah siap disantap!"
Tok tok tok!!
__ADS_1
"Ay bukain pintunya!" Basofi masih mencoba merayu sang istri.
"Ay.... aku minta maaf!" Suaranya terdengar melas. Kalau saja Aya tahu ternyata ujung mata Basofi basah tentu ia akan trenyuh dan luluh.
Sofiyah yang memang belum bisa tidur menunggu kata-kata suaminya lagi. Tapi sayangnya sudah sepi. Babas tak bersuara lagi. Ia menggulingkan badannya ke kiri dan ke kanan merasa resah dan gelisah. Dia yang sudah terbiasa tidur dipeluk Basofi kini merindukan bau khas tubuh sang suami.
Aya merasa badannya sangat lelah tapi matanya tak mau menutup untuk menuju alam mimpi. Dia merindukan pelukan Basofi dan kehangatan yang tercipta saat keduanya berdekatan tanpa kata. Cukup lama ia membolak-balik kan badannya di atas tempat tidur milik Basofi. Mungkin karena sudah lama tidak tidur di situ kasurnya tak menebarkan bau khas si empunya, hanya ada bau deterjen yang sampai di Indra penciuman Sofiyah.
Karena tak bisa tidur juga, dia pun bangun dan memilih bermain dengan ponsel miliknya. Cukup lama dia berkutat melihat instagram mencoba mencari-cari instagram milik Basofi tapi tak ketemu juga. Ia jadi seperti stalker sekarang.
Melalui instagram milik Mikail dia akhirnya menelusuri para pengikutnya dan bisa melihat beberapa foto Basofi dengan berbagai gadis dengan berbagai pose dan gaya. Dari yang lokal sampai yang bule. Dari yang berkulit coklat sampai yang putih. Beraneka ragam corak dan warna rambutnya.
Sofiyah menenggak air minumnya sampai habis karena tenggorokannya terasa kering. Ia beranjak dari tempat tidur untuk ke bawah, mengambil air minum dan mendinginkan kepalanya.
Gadis sipit yang kini matanya berwarna merah dan sembab karena baru saja menangis itu membuka pintu dan terjengat kaget karena Basofi sedang bersandar di dinding sambil membawa piring nasi goreng. Pria itu pun langsung berdiri tegak saat melihat Sofiyah membuka pintu.
"Astaghfirullahaladzim!!!"
__ADS_1
"Ay.....!"
"Koko!!! bikin kaget saja!!" Gadis itu mengelus dadanya saking kagetnya.
"Maaf!!" Koko Babas mengangkat piring dengan kedua tangannya agar Sofiyah melihatnya.
Melihat tingkah Basofi yang sok cute itu Sofiyah langsung masuk kembali ke dalam kamar dan naik ke atas peraduan milik Babas. Dia jadi lupa dengan niatnya kalau mau mengambil air minum di bawah.
Sofiyah langsung menarik selimut sampai dada dan memunggungi suaminya. Basofi menarik nafasnya karena tahu ia harus berusaha membujuk istrinya dan itu butuh kesabaran ekstra.
Ini adalah pengalaman pertamanya membujuk seorang wanita karena gadis-gadis yang pernah dekat dengannya tidak ada yang berani ngambek apalagi uring-uringan padanya. Kalau ada yang gelagatnya seperti itu biasanya Babas malah dengan senang hati meninggalkan gadis itu. Dan itu sudah menjadi rahasia umum untuk para penggemarnya. Di grup wa, Satu sama lain saling mewanti-wanti agar tidak mencoba untuk ngambek dan merajuk pada si playboy.
Babas menaruh nasi goreng buatannya yang sudah dingin di atas meja dan ikut berbaring di sebelah istrinya. Berada satu selimut dengan Aya rasanya hangat dan menenangkan jiwanya.
"Ay, maaf!!" Basofi memeluk istrinya itu dari belakang.
Pria yang biasanya mulutnya sepedas cabe itu tiba-tiba menjadi melow dan Sofiyah Sebenarnya juga tak tega mendengar suaranya yang memelas seperti itu. Menghiba-hiba minta dimaafkan. Sesuatu yang belum pernah ia saksikan selama mengenal Basofi. Tapi kali ini ia memilih untuk mempertahankan keras kepalanya. Memilih untuk meluapkan amarah yang sudah terpendam di dada bertumpuk-tumpuk di dalam kepala.
__ADS_1
Ia menepiskan tangan Babas dengan kasar sambil mengatakan, "Gak usah pegang-pegang!"