Kamu Bukan Yg Pertama

Kamu Bukan Yg Pertama
Istri Basofi


__ADS_3

"Ay...... bangun Ay!" Basofi ternyata sudah bangun terlebih dulu padahal hari belum subuh.


Sofiyah mencoba membuka kelopak matanya yang masih terasa berat. Ia meraba matanya dan membersihkannya dari kotoran-kotoran yang menempel di ujung matanya. Akal yang belum kembali sepenuhnya membuat Sofiyah mencerna kenapa Basofi ada di kamarnya dan ia kemudian ingat jika Basofi sekarang sudah menjadi suaminya.


"Ay, antarkan aku ke kamar mandi!" Pinta si suami dengan sedikit menghiba sambil menggoyang-goyang kan lengan istrinya.


"Koko tahu dimana letak kamar mandinya kan ko?" Suara Sofiyah terdengar serak khas suara orang yang baru bangun tidur tapi ia memejamkan matanya kembali.


"Antarkan aku ke kamar mandi dan tunggu di depan pintu sampai aku selesai" Kata Babas dengan nada datar.


Sofiyah kemudian memutar badannya dan melihat Basofi dengan heran.


"Koko takut ya?"


"Eng-enggak..! Ngapain aku takut?" Basofi mencoba mengelak padahal aslinya dia memang takut.


"Ya sudah kalau berani ke kamar mandi saja sendiri!" Jawab Sofiyah sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


Sambil memejamkan mata Sofiyah merutuki dirinya sendiri, kenapa dia bisa merasa nyaman tidur dalam pelukan pria yang sering tidur dengan banyak wanita itu. Dulu dia juga sering memarahinya dan membuatnya kesal dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya. Kenapa setelah diikat menjadi suami istri dia malah terkesan biasa saja tidak merasa risih atau takut diapa-apakan sama si Basofi. Dan herannya lagi ia bahkan sudah ikhlas dengan kepergian sang mami dan tak terlalu sedih lagi. Kenapa ya? Apa dia punya mantra yang bisa membuatnya menjadi tenang seperti sekarang ini? Batinnya.


"Ay.... ayo anterin aku!. Sebentar lagi sudah subuh...!"


"Tinggal ke kamar mandi kan bisa ko...!" Aya sudah mulai sedikit ngegas.


"Aku takuut...." Basofi menunduk sambil meremas jari-jarinya persis seperti gadis yang takut-takut karena telah berbuat salah.


"Dasar aneh!!" Kata Sofiyah sambil menatap sengit pada Basofi. Bagaimana bisa jadi player tapi cemen seperti itu. Nggak salah apa cewek-cewek yang mau sama dia? Batin Sofiyah sibuk ngedumel karena kepribadian Basofi yang sangat berbeda dengan hari-hari biasa. Bahkan sekarang terdengar sedikit manja.


Pria itu kemudian sekonyong-konyong menggendong istrinya lagi membuat gadis itu langsung bereaksi dengan memukul-mukul lengannya.


"Diamlah Ay, mulutmu bau...! Aku sudah menahannya dari tadi.." kata Basofi jujur membuat orang yang ada dalam gendongannya langsung membekap mulutnya sendiri, merasa malu karena sedari tadi bicara dan mulutnya mengeluarkan bau yang tak sedap.


Basofi sebisa mungkin menahan senyum yang ingin keluar dari mulutnya karena sikap Aya yang terlihat lucu di mata Basofi. Aya kemudian diturunkannya di kursi meja makan yang ada di dekat kamar mandi dan dia segera berlalu menuju kamar mandi.


"Mulut koko juga bau jigong." Aya balik mengatai suaminya sendiri karena masih kesal dibilang mulutnya bau.

__ADS_1


"Namanya juga baru bangun tidur. Wajarlah " Kata si suami dengan santainya membuat istrinya mendengus untuk meredakan kekesalannya.


Aya kemudian mencoba berdiri tapi kepalanya langsung pening, ia berhenti di tempatnya sambil memejamkan mata untuk meredakan sakit di kepalanya. Ia baru menyadari kalau badannya masih lemah ya karena kemarin hanya beberapa suap makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Mungkin karena itu si koko tadi menggendongnya.


Sambil berpegangan pada meja ia merambat berjalan ke tempat cuci piring untuk berkumur dan mencuci muka.


"Kolntang klontang...." Tak sengaja Aya menjatuhkan gelas aluminium yang ada di atas meja.


"Ayyy!!!! Apa itu kamu Ayy...???!!!" Tak disangka Basofi yang parnoan berteriak kencang sekali padahal hari masih sangat gelap. Para santri di asrama putra yang letaknya berada di belakang rumahnya pasti mendengar suara teriakannya.


"Ya Alloh ko.... Aku jatuhin gelas aluminium ko!" Kata Fiah sambil mengambil gelas yang jatuh.


"Hati-hati Ay!! Basofi yang ketakutan mengelus dadanya dan bersyukur tak terjadi hal-hal di luar nalar. Ia tak mau ketemu yang begitu-begituan.


Sofiyah mencuci tangannya dan menyadari ada cincin lain di jari manisnya yang sebelah kanan.


'Kapan dia memakaikannya?'.

__ADS_1


Ia kemudian duduk dan mengamati kedua cincinnya. Sofiyah tersenyum getir mengingat keadaan yang terjadi pada dirinya. Tiba-tiba saja ia kehilangan maminya bahkan belum genap 40 hari dari kepergian sang papi, kemudian dalam sekejap dia juga menjadi istri dari seorang Basofi.


Sofiyah menghela nafasnya untuk menerima semua takdir yang terjadi. Sofiyah melihat lagi cincin putih polos yang baru tersemat di jarinya dan ingat pada orang yang memberikannya. Bagaimana semalam ia tidur dalam rengkuhan suaminya bahkan ia merasa sangat nyaman dan nyenyak sekali.


__ADS_2