
"Allohu Akbar!". Abah Fani sudah berada di depan jenazah pak Basofi dan sudah mulai bertakbir untuk memulai solat jenazah. Beliau menjadi imamnya dan para makmum berdiri di belakangnya termasuk Basofi berada di antara mereka.
"Allohu Akbar...". Abah Fani bertakbir untuk yang kedua kalinya.
Basofi yang memang belum pernah solat jenazah sama sekali membungkukkan tubuhnya untuk ruku' seperti solat fardhu biasanya.
Karena merasa orang di depan dan di sebelahnya tak ruku' dia pun menoleh dan mendapati ternyata orang-orang masih berdiri dan bersedekap. Ia pun menegakkan tubuhnya kembali dan bersedekap. Malu sekali, itu yang dirasakannya.
Tadi sebelum mengikuti solat jenazah sebenarnya dia ragu barangkali tata caranya berbeda. Tapi dia meneguhkan hatinya jika solat ya pasti seperti biasanya. Meskipun dia tidak hapal bacaannya tapi dia hapal semua gerakannya. Maka ia pun dengan percaya dirinya ikut makmum di shof paling depan.
"Allohu Akbar...", Abah Fani bertakbir untuk yang ketiga kalinya dan setelahnya masih berdiri tegap seperti sebelumnya.
Basofi melirik ke kanan dan ke kiri dan mengikuti gerakan takbir imam untuk yang ketiga kali. Ternyata mereka tetap berdiri.
"Allohu akbar...", Abah Fanani bertakbir untuk yang keempat kalinya. Basofi melihat gerakan sang imam dengan seksama dan menirukannya. Dia tak ingin salah gerakan lagi. Bikin malu seisi bumi.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh....", Abah Fani memalingkan mukanya ke samping kanan dengan posisi masih berdiri.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh", kemudian memalingkan wajahnya ke kiri. Setelah itu beliau berdoa dan para makmum mengaminkannya masih dalam posisi yang sama.
Basofi baru tahu ternyata solat jenazah itu empat kali takbir lalu salam tanpa gerakan ruku' maupun sujud. Dia memang beragama islam tapi tidak banyak yang ia tahu. Bahkan satu tahun bisa dihitung berapa kali di melaksanakan solat.
Setelah membaca doa kemudian ada sekitar tiga kali lagi jamaah yang mensolatkan jenazah pak Basuki.
Jenazah pak Basuki kemudian di bawa dan dimasukkan ke dalam keranda setelah disolatkan.
__ADS_1
Para pelayat yang hadir kemudian berkumpul di antara keranda untuk mendengarkan pidato dari pihak wakil keluarga yang kali ini dipasrahkan pada Abah Fani.
Basofi mendengarkan dengan seksama kata demi kata yang di ucapkan abah Fani. Ada beberapa kalimat yang dia dengar dan menancap dalam hatinya.
"Orang yang menunaikan sholat jenazah, ia mendapatkan pahala satu qirath. Yakni setara gunung Uhud. Jika dilanjutkan dengan mengantarkan jenazah hingga ke pemakamannya, ia mendapat pahala dua qirath."
Dan
“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia lantas dishalatkan oleh 40 orang yang tidak berbuat syirik kepada Allah sedikit pun melainkan Allah akan memperkenankan syafa’at (doa) mereka untuknya.” (HR. Muslim)
Dan doa orang yang mensholatkan jenazah memintakan ampunan untuk si mayit.
Juga permintaan maaf dari keluarga untuk semua orang yang sudah hadir semoga sudi memaafkan kesalahan-kesalahan si mayit dan bila ada utang piutang yang belum terselesaikan di mohon untuk berurusan dengan pihak keluarga.
Basofi membayangkan jika dirinya yang meninggal nanti akankah orang-orang yang pernah dia sakiti mau memaafkan kesalahannya yang tidak bisa dibilang banyak karena itu amat buanyak sekali.
Suara gemuruh orang-orang yang mulai berjalan meninggalkan area masjid mengembalikannya pada kesadaran yang beberapa menit lalu ia tinggalkan. Ketakutannya pada kematian membuatnya ingin memperbaiki diri agar suatu saat nanti bisa kembali dalam keadaan diampuni karena setiap orang tidak bisa lari darinya. Semua hanya menunggu waktu. Meski baru sedikit niat yang terbersit setidaknya ada keinginan untuk bertaubat, terutama tentang wanita. Itu adalah godaan terbesarnya.
Kini para pelayat berjalan beriringan menuju pemakaman milik keluarga pesantren yang ada di area pondok pesantren sambil melafadzkan tahlil untuk saling mengingati diri jika setiap manusia yang lahir ke muka bumi pasti suatu saat akan kembali ke bumi lagi. Agar manusia tak jumawa dengan segala karunia yang dimilikinya karena semua itu hanya titipan belaka.
Tiga orang sudah berada di liang lahat untuk menerima jenazah pak Basuki. Satu di bagian kepala, yang ke dua berada di tengah dan yang satu lagi di bagian kaki jenazah. Basofi berada di dalam liang lahat di sisi tengah. Awalnya ia diminta untuk berada di bagian kepala karena ia adalah wakil keluarga agar bisa mengadzani si mayit tapi Basofi menolaknya karena ia takut salah saat mengadzaninya.
Tali kain kafan dilepaskan kemudian wajahnya dibuka dan dihadapkan ke kiblat.
Tiga bulatan tanah yang sudah disediakan di taruh di bagian atas tengah dan bawah si mayit gunanya untuk menyangga posisi mayit agar tidak terlentqng dan tetap menghadap kiblat.
__ADS_1
Kemudian orang yang berada di bagian kepala mayit mengadzaninya.
Setelah itu ketiga orang yang berada di liang lahat naik ke atas dan selembar papan ditaruh di atas jenazah barulah kemudian raga yang sudah tak bernyawa itu ditimbun dengan tanah.
Gundukan tanah yang baru itu kemudian disiram dengan air dan ditaburi bunga. Dan
Mata Basofi melihat dengan seksama bagaimana prosesi penguburan jenazah untuk yang pertama kalinya. Ada debar kekhawatiran yang membuncah dalam dadanya bagaimana jika itu dirinya dan apa yang akan dilakukannya ketika raganya sudah di timbun dengan tanah. Siapa yang akan menemaninya di sana. Tidak ada lampu yang bisa menerangi tidak akan ada yang mau menemani.
Tubuhnya luruh bersamaan dengan Abah Fani yang mentalkin mayit di dekat pusara baru yang bertulisakan nama Basuki
************%%%%%%%%%**********
Hukum shalat jenazah atau sembahyang untuk mayyit Muslim adalah fardlu kifayah. Artinya, wajib dilaksanakan minimal oleh satu orang. Bila secara sengaja sama sekali tak ada yang menunaikannya maka status dosa menimpa umat Islam secara umum.
Menshalati adalah salah satu kewajiban kifayah selain memandikan jenazah, mengafani, dan terakhir menguburnya. Secara teknis taa cara shalat jenazah berbeda dari tata cara shalat pada umumnya, lantaran tak menggunakan gerakan ruku’, i’tidal, dan sujud.
Rukun-rukun yang harus dilaksanakan dalam shalat jenazah antara lain niat, empat kali takbir, berdiri (bagi orang yang mampu), membaca Surat Al-Fatihah, membaca shalawat atas Nabi SAW sesudah takbir yang kedua, doa untuk si jenazah sesudah takbir yang ketiga, dan salam.
Berikut tata cara shalat jenazah secara berurutan yang dikutip dari Fashalatan karya Syekh KHR Asnawi Kudus, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama.
Pertama, niat. Niat wajib digetarkan dalam hati. Apabila dilafalkan secara lisan akan berbunyi: ADVERTISEMENT Untuk jenazah laki-laki: أُصَلِّي عَلَى هٰذَا الـمَيِّتِ فَرْضًا لِلّٰهِ تَعَالَى
Kedua, takbir dan dilanjutkan dengan membaca Surat al-Fatihah.
Ketiga, takbir lagi dan diteruskan dengan membaca shalawat Nabi: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ Akan lebih bagus bila disambung: كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
__ADS_1
Keempat, usai membaca shalawat, takbir lagi dan membaca doa untuk jenazah yang sedang dishalati: Untuk jenazah laki-laki: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَاجْعَلِ اْلجَنَّةَ مَثْوَاهُ. اللّهُمَّ ابْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَهْلًا خَيْراً مِنْ أَهْلِهِ. اللَّهُمَّ إِنَّهُ نَزَلَ بِكَ وَأَنْتَ خَيْرُ مَنْزُوْلٍ بِهِ. اَللَّهُمَّ أَكْرِمْ نُزولَهُ ووسِّعْ مَدْخَلَهُ
Untuk jenazah perempuan: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهاَ وَارْحَمْهاَ وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهاَ وَاجْعَلِ اْلجَنَّةَ مَثْوَاهاَ. اللّهُمَّ ابْدِلْهاَ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهَا، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهَا وَأَهْلًا خَيْراً مِنْ أَهْلِهاَ. اللَّهُمَّ إِنَّهُ نَزَلَ بِكَ وَأَنْتَ خَيْرُ مَنْزُوْلٍ بِهاَ. اَللَّهُمَّ أَكْرِمْ نُزولَهاَ ووسِّعْ مَدْخَلَهاَ