
Sofiyah langsung keluar saat mereka baru sampai di depan rumahnya. Mukanya bersungut-sungut tampak sedih juga kecewa dan seolah-olah hari ini tidak ada kebahagiaan untuknya. Apalagi seharian ini dia super sibuk sampai harus lembur dan baru bisa pulang sekitar jam delapan.
Basofi tetap bersabar kali ini meski merasa kalau hari ini dia tak berbuat salah pada Sofiyah kecuali saat tadi pagi. Basofi menarik nafasnya kemudian menghembuskannya dengan kasar sebelum dirinya juga ikut turun dari kendaraan.
"Ayo ko..!" Kata mamanya yang sudah menunggu kedatangan putranya.
Ternyata di dalam sudah ada papanya juga ada Daniel di sana. Basofi melihat Mami Sora yang baru sembuh duduk beralaskan kasur tipis seperti kemarin. Ia kemudian keluar lagi dan menelpon asistennya untuk memberinya pekerjaan.
"Belikan kasur terbaik dan bawa sekarang ke kediaman Aya!" Kata si bos pada bawahannya.
"Ukuran berapa?" Tanya Mikail yang baru sampai di rumah dan berniat rebahan sebentar di depan televisi tapi Bos nya itu dengan tanpa basa-basi langsung memerintahnya begitu saja.
"Ukuran kecil yang muat di ruang tamu Aya. Kamu tahu kan ukurannya?" Tanya Basofi
"Nggak pakai lama!!!" Katanya kemudian langsung mematikan telponnya membuat orang yang ada di seberang meradang dan ingin mengacak-acak isi kepala si atasan gesreknya.
"Ko.... nggak usah beli kasur ko!!. Mami nggak akan butuh lagi..." Mami Sora ternyata mengikuti Basofi sampai ke teras.
"Mami kan baru sembuh.... " suara Babas terdengar sangat tulus sekali.
"Mami makasih ya ko...." Wanita itu menyusut matanya yang mulai berair karena terharu dengan perhatian Basofi pada dirinya.
"Ayo jeng...." Mama Rosi menyusul keduanya dan menggait lengan wanita yang sebaya dengannya itu dan membimbingnya masuk ke dalam.
Setelah semua duduk di ruang tamu yang sempit itu Mamanya Basofi pun mulai berbicara.
"Sayang.... sebenarnya mama, papa, mami juga papi dulu sudah bersepakat untuk mengadakan pertunangan secepatnya tapi terkendala dengan kesibukan dan pekerjaan yang tak ada habis-habisnya. Setelah itu musibah datang dan Papi meninggalkan kita. Jadi kami menundanya lagi. Tapi tadi mami kamu bilang ke mama kalau pertunangan kalian sebaiknya diadakan sekarang saja. Tidak perlu mengadakan pesta. Cukup sekeluarga saja yang tahu dan nanti kalau sudah menikah barulah kita mengadakan pesta" Mama Rosi yang duduk di dekat Sofiyah kemudian mengusap punggung tangan gadis yang disayanginya itu.
__ADS_1
"Nggak papa kan sayang?" Tanya si calon mertua pada calon menantunya.
"Mi..... kita tunggu mami benar-benar sembuh dulu ya mi...!" Kata Sofiyah pada maminya yang duduk di dekat Basofi.
Basofi yang mendengar kata-kata Sofiyah merasa mendapatkan penolakan dan itu membuatnya marah sekaligus kecewa tapi dia bisa menerimanya.
"Mami tidak tahu sampai kapan mami bisa menemani kamu. Mami hanya ingin menyerahkan putri mami pada pria yang tepat yang bisa menyayangi dan membimbing kamu niik...." Ujar mami dengan mata penuh pengharapan.
Mami Rosi kemudian berbisik pada gadis yang sudah dianggap putrinya sendiri itu, " Kita lakukan saja apa yang diinginkan mami ya sayang...! Nanti kedepannya bisa kita bicarakan lagi! Yang penting sekarang mami bisa bahagia dan segera sembuh seperti sedia kala!"
Wanita itu kemudian tersenyum pada Sofiyah dan gadis itu pun mencoba mempercayai ucapan sang mama calon mertua.
Mama Rosi memberi isyarat pada suaminya dengan menganggukan kepala agar segera mengutarakan maksud kedatangan mereka.
"Bu Basuki.... kami sekeluarga datang kemari dengan maksud melamar putri ibu untuk anak kami Basofi semoga apa yang dulu menjadi cita-cita saya dan pak Basuki bisa terealisasi sehingga silaturrohim diantara kita bisa tetap terjaga selama-lamanya...."
"Fii.... bagaimana? Kamu mau kan nak?" Tanya maminya sedikit memaksa.
Dengan berat hati Sofiyah menganggukkan kepalanya berusaha sekuat tenaga untuk menahan air matanya agar tidak terjatuh di hadapan semua orang dan itu hanya akan membuat sedih maminya. Gadis itu menundukkan kepala dalam-dalam untuk menyembunyikan wajahnya.
"Saya permisi sebentar ya ma...." kata Sofiyah dan segera beranjak berdiri kemudian masuk ke dalam.
Ia menuju dapur dan duduk sambil memeluk kakinya di pojok ruangan itu kemudian menangis. Gadis berwajah oriental itu berusaha menahan suaranya agar tidak terdengar sampai ke depan dengan menyusut air matanya dan air yang keluar dari hidungnya.
"Hik.....hik....hikkk..."
Ting...
__ADS_1
Terdengar dentingan piring yang membuat Sofiyah kaget dan segera mendongakkan kepala sambil mengusap wajahnya agar tak terlihat jika dia baru saja menangis.
Basofi tadi masuk ke dalam mencari keberadaan Sofiyah dan melihat gadis yang dicarinya itu sedang menangis di pojok dapur membuat hatinya seperti tertusuk sembilu. Ia merasa bersalah pada Sofiyah sekarang dia yakin kalau Aya benar-benar tidak punya perasaan pada dirinya.
"Ayo bawa ini ke depan!" Katanya pada Sofiyah sambil menunjuk piring yang sudah terisi kue dan makanan lainnya yang tadi di bawa keluarga Basofi sebagai hantaran.
Sofiyah kemudian mencuci mukanya agar bekas tangisannya hilang kemudian mengeringkannya dengan handuk kecil yang ada di kamar mandi.
"Tidak usah menangis...! Nanti kita bisa membatalkannya. Aku tahu aku bukan pria baik. Aku tahu aku tidak pantas jika bersanding denganmu. Aku janji tidak akan memaksakan masalah ini kepadamu. Untuk sekarang biarlah berjalan seperti ini untuk membahagiakan mami. Setelah mami sehat aku akan mencari waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya..." Kata Basofi panjang lebar sambil berjalan ke depan tanpa melihat wajah Sofiyah karena hatinya sakit seperti tersayat pisau yang tumpul.
'Kenapa semua orang ingin membahagiakan mami dan disini sepertinya aku yang terlihat kurang memahami mami?' Sofiyah merasa tertampar tak bisa menerimanya. Ia pun bertekad untuk tersenyum agar mamanya benar-benar bahagia.
Mereka pun akhirnya kembali duduk di tuang tamu dengan formasi lengkap.
Mama Rosi kemudian mengeluarkan kotak beludru kecil dan membukanya. Ternyata isinya adalah sepasang cincin berwarna krome yang desainnya minimalis dan elegan.
" Ini cincinnya ko..,. pasangkan ke jari Fiah!" Kata sang mama.
Basofi mengambil cincin yang bermata berlian kemudian memasangkannya di jari manis Sofiyah. Darahnya berdesir dan bergejolak. Ini pertama kalinya kulitnya bersentuhan langsung dengan Sofiyah yang kini tersenyum saat cincinnya sudah melekat sempurna di jarinya.
Pria itu memanfaatkan kesempatan dengan mencium punggung tangan Aya yang membuat si gadis tersentak saat bibir pria di depannya itu berada di punggung tangannya. Ia pun segera menarik tangannya tapi Basofi ternyata bisa menahan tangan kecil mungil itu. Basofi malah menatap wajah si gadis dengan memberikan senyumannya yang mempesona.
Berbeda dengan si gadis yang justru merasa jijik melihat muka Basofi yang menurutnya seperti orang mesum saat mencium tangannya.
Basofi kini melihat Sofiyah yang sedang memasangkan cincin yang polos di jarinya dengan wajah tersenyum bahagia. Ia tahu pasti kalau Aya hanya sedang pura-pura dan itu membuatnya menelan kecewa.
Ini pertama kalinya dia jatuh cinta sampai seperti itu pada seorang wanita tapi nyatanya tak semudah membalik telapak tangan dan ia harus menelan kecewa berkali-kali. Untungnya saat ini jika ia sedang bingung maka dia larinya kepada sang Maha Bijaksana, dengan solat dan istighfar.
__ADS_1
Dia juga berfikir jika semua ini mungkin balasan dari Alloh karena dosa-dosanya yang teramat banyak karena menyakiti hati para gadis yang ditinggalkannya begitu saja tanpa memikirkan perasaan mereka.