Kamu Bukan Yg Pertama

Kamu Bukan Yg Pertama
tahlilan


__ADS_3

"Sakit ko....", Sofiyah menarik tangannya dengan kuat agar terlepas dari Basofi tapi justru tubuhnya yang tertarik dan jatuh pada pelukan lelaki cabul itu.


"Lepasin ko..! jarang kurang ajar!". Sofiyah mencoba melepaskan dirinya dari kungkungan pria yang kini terobsesi padanya.


Ia merasa sangat malu karena dadanya kini bersentuhan dengan dada Basofi. Meski terhalang pakaian Basofi juga bisa merasakan benda kenyal yang menempel di dadanya.


Hawa panas menjalari tubuhnya dan ia berusaha mengenyahkan pikirannya yang sudah traveling ke mana-mana. Lama tak bersentuhan dengan wanita membuatnya jadi lebih sensitif dan mudah bergairah.


Ia heran pada dirinya sendiri. Kenapa saat di awal-awal perkenalannya dengan Sofiyah senjatanya bahkan tak pernah menunjukkan eksistensinya meskipun ia memandang Sofiyah dalam waktu lama dari ujung kaki sampai ujung kepala. Dan akhir-akhir ini hanya dengan membayangkan wajah gadis bermata sipit itu senjatanya langsung on fire.


Basofi justru mengeratkan pelukannya lagi, " Kamu sendiri yang datang padaku dan minta ku peluk". Ia tak ingin melepaskan kesempatan yang ada. Basofi memang benar-benar lelaki brengsek.


Sofiyah menginjak kaki Basofi dengan kuat sehingga lelaki itu melepaskan pelukannya.


"Aww..... shittt.... kenapa kau menginjak kakiku?". Basofi berdiri dengan satu kakinya dan mengangkat kakinya terpincang-pincang kesakitan karena injakan kaki Sofiyah.


"Dasar cabul...!", Sofiyah berjalan hendak keluar ruangan dan lupa akan tujuannya semula.


" Mulai hari ini kau tidak diizinkan untuk pulang pergi sendiri !", Basofi memberi perintah.


"Kenapa memangnya?". Sofiyah membalikkan badannya seolah ingin menantang Basofi dan mengatakan kalau aku berani menghadapimu.


" Kau harus berangkat dan pulang bersamaku..". Basofi menatap tajam pada gadis mungilnya.


"Tidak mau....", Sofiyah menolaknya dengan tegas. Apa kata orang kalau melihat mereka selalu berduaan begitu yang dipikirkannya.


" Kenapa?", Basofi kini duduk di sofa sambil melepaskan sepatunya dan memijat kakinya. Gadis kecil... kekuatanmu boleh di coba, bisik hatinya.


Jangan panggil aku Basofi kalau aku tak bisa menaklukkan hatimu kucing kecil! Kenapa sekarang kau nampak imut sekali? Pasti ada yang salah dengan mataku ini ?. Basofi menikmati wajah marah Sofiyah dengan senyum sinisnya.


"Aku tidak mau...!". Sofiyah tetap pada pendiriannya.


" Kenapa kau tidak mau berjalan dengan pria terhormat sepertiku?". Basofi ikut melipat kedua tangannya dan menyilangkan kakinya.


"Pria terhormat? Mana ada pria terhormat yang suka bermain wanita?".

__ADS_1


"Kau cemburu?", Hati Basofi tergelitik mengamati wajah Sofiyah mencoba mencari kecemburuan di wajahnya.


"Bagiku itu menjijikkan bapak Ba-sofi yang terhormat. Apa yang patut aku cemburui?"


Pria tampan itu membelalakkan matanya saat mendengar kata-kata yang merendahkan harga dirinya.


"Keluar dari ruanganku sekarang juga!". Katanya dengan penuh kemarahan.


"Owh.... dengan senang hati pak! Perimisi!" Sofiyah membalikkan badannya bersiap meninggalkan ruangan sang atasan.


"Persiapkan meeting nanti siang dengan Max Regency! Jangan sampai ada yang terlewat!". Teriak Basofi dengan kesal. Tangannya mengepal rapat karena tidak terima mendengar hinaan yang keluar dari mulut Sofiyah meskipun itu benar adanya


Sofiyah bekerja dengan profesional meskipun sedang marah dengan sang atasan. Ia bisa mengesampingkan emosinya dan mengikuti agenda Basofi dengan baik.


Hari ini adalah hari kedua setelah meninggalnya papi Sofiyah tapi dia sudah bekerja karena berada di rumah hanya mengingatkannya pada sosok sang ayah.


Papinya hanya mengeluhkan sakit kepala sehari sebelum dia meninggal. Untungnya setelah di beri obat oleh sang mami, Sofiyah masih sempat memijat kepala papinya cukup lama. Papinya bahkan mengatakan kalau dia harus menikah dengan Basofi dan jadi istri yang baik.


Saat ini Sofiyah sedang berjalan di trotoar dalam perjalanan pulang sambil menunggu bos reseknya. Kontak sepeda motor Sofiyah disitanya sehingga dengan terpaksa gadis itu menuruti perintahnya.


Mobil mercy Basofi berhenti tepat di samping Sofiyah. Kemudian pintunya di buka dari dalam oleh orang yang duduk di balik kemudi. Tanpa babibu gadis mungil berkerudung biru itu naik dan duduk di sebelah bosnya yang kali ini bersedia menjadi sopirnya.


Karena tak tahan lagi Basofi pun memulai percakapan, "Kenapa kamu sudah kerja? Bagaimana dengan mami? Dia akan kesepian kalau kamu bekerja."


Sofiyah hanya menghela nafasnya tanpa menjawab pertanyaan pria tampan yang sedang menunggu jawaban.


Rahangnya mengeras karena gadis di sampingnya seolah menganggapnya tak kasat mata.


Ia tak kekurangan akal. Mobilnya ia tepikan dan ia mematikan mesinnya.


Sofiyah yang menyadari hal itu mulai waspada. Hanya berduaan dalam mobil yang sama dengan buaya darat membuatnya bersiaga.


Basofi menatapnya dengan tatapan bak psikopat dan itu membuat Sofiyah ketakutan. Ia mencoba membuka pintunya dan tentu saja tidak bisa karena Basofi menguncinya.


" Ko.... jangan macam-macam!", Ia menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.

__ADS_1


" Kenapa kau takut sayang? Bukankah kita ini calon suami istri? ". Basofi mendekatkan mukanya ke wajah Sofiyah yang merinding ketakutan.


"Sekarang katakan, kenapa kau sudah bekerja? Aku bisa melakukan apa saja padamu. Jadi, jangan pernah mengacuhkan ku atau aku akan menghukummu!", kata Basofi dengan arogansinya.


"A-aku hanya ingat papi terus kalau berada di rumah...". Wajahnya menunduk tak berani melihat pria yang menatapnya dengan tajam.


"Lalu bagaimana dengan mami?". Basofi menelan ludahnya karena sesuatu dalam tubuhnya terasa bergelora.


"Ma-mi yang menyuruhku bekerja!". Kata Sofiyah dengan pelan.


Wajah mereka yang sangat dekat membuat keduanya bisa saling bertukar nafas.


Cup


Basofi mencium puncak kepala Sofiyah yang berbalut kerudung.


"Itu hukuman untukmu. Kalau kau berani tak menjawab pertanyaanku lagi aku akan menghukummu lebih dari itu", Ia mengatakannya dengan ekspresi dingin sambil kemudian menghidupkan mobilnya kembali.


Gadis yang ketakutan itu menelan ludahnya sambil menjawab iya.


Sesampainya di rumah Sofiyah, adzan isyak berkumandang dan Basofi segera ke masjid setelah memarkirkan mobilnya di tepi gerbang.


Dua hari ini dia melaksanakan solat meski baru sehari sekali. Tapi itu lumayanlah sebagai awal pertobatan meski baru gerakan saja yang di hapal sedangkan bacaan hanya membaca tasbih saja untuk rukuk, sujud, tahiyat dan yang lainnya.


Bacaan alfatihah ia sudah menghafalkannya lagi dan ia sudah hapal kini. Jangan tanya tajwid dan makhorijul hurufnya. Tentu saja acak-acakan karena dia hanya asal membaca saja.


Basofi mengikuti acara tahlilan dengan malas-malasan. Bukan saja karena dia belum hapal bacaannya tapi ia juga tidak tahu manfaatnya apa.


Setelah acara rampung Basofi memberanikan diri bertanya pada abah Fani. " Aba, kenapa kita harus mengadakan tahlilan untuk orang yang sudah meninggal? Apa itu bermanfaat untuk orang yang sudah meninggal atau untuk keluarga yang ditinggalkan?"


Abah tersenyum mendengar pertanyaan kritis dari Basofi yang kini lebih dikenalnya.


"Dulu saat nenek moyang kita masih beragama Hindu mereka punya kebiasaan melakukan ritual untuk orang yang sudah meninggal dari hari pertama sampai hari ke tujuh, hari ke empat puluh, seratus harinya dan seterusnya.


Setelah para wali datang kemudian nenek moyang kita banyak yang masuk agama islam tapi mereka masih melakukan ritual-ritual semacam itu yang ujung-ujungnya mengandung kemusyrikan.

__ADS_1


Sunan kali jaga ingin berdakwah tapi dengan cara yang halus sekali. Tidak langsung mengharamkan perbuatan mereka.


Saat ada orang yang meninggal dan akan melakukan ritual seperti kebiasaan mereka maka Sunan kalijaga masuk dan menggantinya dengan mengajarkan doa-doa yang kemudian hari lebih dikenal dengan sebutan tahlilan"


__ADS_2