
Sudah seminggu setelah pertemuan kami waktu itu dan selama itu pula kami tidak pernah berhubungan sama sekali. Hanya mamanya yang menghubungiku beberapa kali.
Aku pun menjalani kehidupanku seperti biasa dan menguburkan semua angan dan mimpi. Berkali-kali aku meyakinkan diriku sendiri bahwa aku bisa berbesar hati untuk menjalankan kehidupan ku ke depan apapun yang terjadi dan aku yakin setelah kesulitan pasti akan ada kemudahan.
Alloh tidak akan menguji hambanya melebihi batas kemampuannya...., aku yakin itu.
Aku melirik hape ku yang bergetar dan terlihat ada notifikasi pesan disana.
'Sayang.... pulang jam berapa?'
'Jam 2 an ma...'. jawabku.
'Nanti mama jemput ya...'
'iya ma...'
Aku tersenyum melihat percakapanku dengan calon mertua. Kelihatan sayang banget sama aku.
"Sofi....! Sudah selesai?" Suara Pembimbingku membuatku kaget.
"Eh iya bu, sebentar lagi...."
"Fokus sofi....!!"
"Baik bu...."
Aku membaca ulang kertas yang ada di depanku mencoba untuk fokus kembali pada materi yang diberikan pembimbingku.
.
.
.
Sekali lagi aku melihat jam di hapeku. sudah pukul dua lebih tapi camerku itu belum kelihatan juga. Aku duduk dengan gelisah di depan tempat kursus, sudah seperti menunggu pacar saja.
Aku bahagia dengan kasih sayang mama setidaknya ada lagi yang menyayangiku selain mami papi. Kalau biasanya menantu sama mertua perempuan sering tidak cocok dan berselisih paham, sebaliknya denganku. Hubungan ku lebih bagus dengan calon mertuaku daripada dengan calon suamiku.
Sementara ini ikuti saja arusnya toh aku tidak rugi apa-apa. Cuma perlu menyiapkan hati agar jika sewaktu-waktu melihatnya dengan cewek lain aku bisa bersikap biasa saja.
Meski matahari sangat terik namun lalu lalang orang-orang di sepanjang jalan ini seolah tidak terusik dengan sinar yang menusuk kulit. Semua sibuk untuk beraktifitas agar bisa melanjutkan kehidupan dengan baik dan lebih layak.
'Tin...tinn....' Sebuah mobil berhenti tepat di depanku.
"Ayo sayang.... maaf... mama terlambat ya....??"
Ia membukakan pintunya dan aku segera masuk dengan mengulum senyum. Mau bilang iya kok rasanya nggak sopan. Senyumin aja lah.
.
.
__ADS_1
.
Sampai di rumah megah nan besar itu aku langsung di gandeng sama camer dan diajak masuk ke dalam rumah.
" Nanti kita masak-masak dulu aja ya. sambil nunggu koko mu pulang..."
'koko...?Hiyya.... kok malah diajari manggil koko? Hua.... gimana nanti aku manggilnya?'
"Abis solat asar aja gimana ma?" Mulutku ini sudah luwes sekali panggil camer dengan sebutan mama. Aku bawa enjoy aja lah meski belum sepenuhnya bisa nganggap kayak orang tua sendiri tapi seenggaknya aku sudah usaha.
"Pinternya mantu mama ini..... Solat bareng mama ya...?" Kata nya sambil menangkup kedua pipiku.
Aku mengangguk, bahagia rasanya. Kalau saja keluarga papi atau mami ada yang sayang juga ke aku seperti ini, alangkah senangnya.
"Mama udah telpon mami kamu kok tadi. Anaknya aku culik sebentar. Nanti malam baru di kembalikan...." Kata mama saat kami sudah sampai di kamar tamu.
"Iya... I (baca ai) juga sudah kabarin mami kok. Eh itu... maksud saya,....saya juga sudah kabarin mami kok ma..."
Mama tersenyum melihatku yang kelepasan bilang I. Kadang tiba-tiba keluar aja kata-kata itu, keceplosan. padahal aku sudah belajar bilang aku atau saya. Ini karena kebiasaan di sekolah dulu nyebutnya I... you...
"Kamu kayak Daniel....ya gitu kalau ngomong. I ...you.... kebiasaan di sekolahnya." Kata mama pengertian.
"Daniel siapa ma?"
"Adiknya koko...."
Bibirku membentuk o tanpa ada suara sambil manggut-manggut.
Jadi dia bukan anak tunggal ya.....? ooohhh...
"Emmm.... langsung mandi saja ma, abis itu langsung solat nanti habis maghrib istirahat sebentar. Badanku sudah lengket semua ini ma...."
"Ok deh. Mami akan mandi dulu kalau gitu. Abis ini biar bajunya diantar kesini. Nggak papa kan pake daster? Cuma di rumah aja kok?"
"Its ok....ma" kataku keceplosan lagi. Padahal lagi ngomong sama orang tua malah bilang ok.
Semoga nggak diambil hati sama mama.
'Kalau nanti si koko pulang terus lihat aku pake daster ilfeel nggak ya? Terserah lah bukan urusanku juga. Kan nggak boleh ada rasa..,' Batinku berperang.
Aku menunggu baju ganti yang dijanjikan mama sambil rebahan di kasur. Kasurnya empuk banget, mendut-mendut enak deh. Kayak punya I dulu.... Sudah lama tidur di atas kasur seadanya membuatku bahagia saat bisa tidur di kasur mewah lagi. Aku berbalik ke kanan dan kekiri. Tengkurap kemudian telentang. Kugerakkan tangan dan kakiku seperti kupu-kupu yang sedang terbang di atas bunga. Lebar sekali kasurnya. Cukup untuk 4 orang kalau tidurnya lurus-lurus saja.
Ruangan ini ternyata cukup besar, di sebelah kanan dan kiri tempat tidur ada nakas kecil, ada kamar mandinya juga di dalam.
Rumah kami dulu juga seperti ini....
Meski sudah ikhlas menjalani hidup amat sederhana terkadang masih saja terbersit rindu dengan harta melimpah kami dulu yang seakan tiada habisnya.
"Tok tok tok......."
Begitu aku mendengar suara ketukan pintu aku segera bangkit dari rebahan dan membukanya.
__ADS_1
"Permisi non... ini di suruh sama ibuk" Kata salah satu diantara dua wanita yang kini berdiri di depan ku sambil memberikan baju daster padaku.
"Ini di taruh mana non?" Tanya wanita yang satunya lagi sambil menunjukkan baki berisi minuman dan buah-buahan.
"Di situ aja... mmm" Kataku menunjuk nakas dan bingung mau panggilnya gimana.
"Saya mbok Nah non, ini bik ju.."Kata wanita yang lebih berumur memperkenalkan diri.
"Oh iya mbok, Saya Sofiyah.... panggil nonik aja ya... jangan non..!" Kata ku karena merasa kurang nyaman dengan panggilan seperti itu.
"Ya ndak enak to non.... calonnya koko Bas kok di panggil nonik...." kata bik ju
"Iya kam mbok?" lanjutnya.
"He em non. Biasa aja ... lama-lama juga terbiasa kok non....."
Aku memipihkan bibir mendengar kata-kata itu, mereka terdengar seperti menggodaku kan aku jadi malu karena kenyataannya tidak seperti itu.
"Makasih ya...." Kataku saat mereka pamit.
Setelah mandi dan solat di musolla rumah ini aku melepaskan mukenaku dan memakai kerudung bergoku. Tinggal tarik jadi deh. Cepat dan mudah apalagi aku juga belum terlalu pandai memakai jilbab dengan berbagai variasi. Ya beginilah adanya...
Daster mama sebenarnya sedikit kedodoran di tubuhku tapi its ok lah.
Kalau nanti dia melihatku yang pakai daster sama jilbab bergo ini gimana pendapatnya ya? Apa dia akan bilang kalau aku kampungan?
Ter-se-rah!! Aku nggak ada hubungan apa-apa dengan dia kan. Kalau dia acuh aku juga tak boleh kalah. Secara wajahku juga nggak jelek-jelek amat.
Lagi-lagi batinku berperang
.
.
.
"Ini nunggu berapa lama sayang?" Tanya mama saat brownies nya ku masukkan dalam open.
"Dua puluh lima menit ma dengan api sedang ma...."
"Lama ya?" kata mama.
"Kita ke depan aja gimana? Sambil nunggu brownies nya matang...?"
"Biar saya bersihkan dulu dapurnya ma. Kan saya yang sudah bikin kekacauan...." kataku sungkan.
"Biar di bersihkan sama embak-embak. Bik ju tolong ya....!"
"Nggeh bu ...nggeh... " Bik ju tergopoh-gopoh mendekati mama saat mendengar namanya yang dipanggil.
"Aku ke depan dulu...." Kata mama pada asisten rumah tangga nya yang langsung manggut-manggut.
__ADS_1
Dengan berat hati akupun mengikuti langkah mama. Sebenarnya nggak enak pada embak-embak karena dapur jadi kotor seperti itu setelah aku dan mama memasak.
Mama begitu semangat saat memasak tadi sampai-sampai tepung berhamburan dimana-mana. Seperti nya mama sangat senang sekali bisa memasak denganku. Mungkin saja mama ingin anak perempuan...