Kamu Bukan Yg Pertama

Kamu Bukan Yg Pertama
Berubah


__ADS_3

Aku mendapat pesan dari Koko kalau pagi ini aku akan di jemput oleh pak Ali yang ku kenal sebagai supir keluarga mereka. Entah kenapa perasaanku tak nyaman.


'Apa aku membuatnya marah? Tapi kenapa? Tidak mungkin juga kalau dia sedang cemburu pada kak Rey kan'


Terserah dialah, aku juga tidak tahu apa maunya yang penting aku harus bekerja.


Aku mematut diriku di depan cermin sambil memoleskan sedikit lipstik pada bibirku. Rasanya sudah lama sekali aku tak melakukan hal itu. Hanya saja saat ini aku ingin tampil cantik jadi sewaktu-waktu bertemu kak Rey wajahku tidak terlalu kusam dan enak dipandang.


Apa dia sedang liburan ya?


Semalam aku melihat akun instagramnya dan wajahnya tampak semakin mempesona. Sebenarnya jauh di lubuk hatiku aku masih menyimpan rasa padanya dan berharap dialah yang akan menjadi jodohku untuk hidup bersama selamanya.


Kutarik nafasku dalam-dalam sambil membenarkan jilbabku, sedikit getir takut mami akan bertanya dan tahu kalau aku ada masalah dengan calon menantunya.


Aku melihat jam tanganku dan buru-buru keluar dari kamar yang langsung di sambut mami dengan senyuman.


Ahh.... kenapa aku jadi ingat saat dulu kami sedang jaya-jayanya kami bahkan tak bisa seperti sekarang ini. Sekarang setiap saat kami bisa bertemu dan saling tersenyum satu sama lainnya. Dulu kami selalu sibuk sendiri-sendiri. Aku tinggal di lantai atas dan mami papi di lantai bawah membuat kami jarang sekali bertemu. Sekalinya bertemu aku mau ke mana, papi mami mau pergi ke mana....


Hidup miskin seperti ini ternyata lebih menyenangkan. Kami tidak di kejar-kejar waktu, tidak ada yang berusaha untuk menjilat dan mendekati kami karena kami sudah tak punya harta lagi.


Aku jadi rindu papi.....


"Mami....." Aku memeluk mami dari belakang, satu-satunya orang tua yang kumiliki dan aku janji aku akan menyayangi dan membuatnya bahagia semampu yang aku bisa.


"Ayo sarapan!" Jawab mami sambil mengusap punggung tanganku yang melingkar di perutnya.


Ternyata harta tak bisa membeli semua yang kami dapatkan saat ini. Sekarang aku baru tahu makna kalimat ,' harta itu bukan segalanya'


"Jadi kangen papi mi...." Kata ku sambil duduk dan memulai sarapanku. Bakmi kesukaanku dan papi.


"Kalau ingat papi langsung di do'akan dibacakan fatihah.... Semoga kita bisa berkumpul lagi di akhirat nanti di surganya Alloh Yang Maha Agung"


"Amiin...." Jawabku sambil mengusap ujung mataku yang berair.


"Kamu sama koko mu ada apa nik?" Tanya mami ketika aku sudah selesai sarapan.


"Maksudnya mi?" Aku sendiri juga bingung dengan sikap si Babas yang kekanakan itu padahal umurnya lebih jauh di atasku. Kalau aku yang kekanakan kan masih wajar memang usiaku ini kan masih labil-labilnya.


"Kalian nggak lagi marahan kan?" Tanya mami lagi.

__ADS_1


" Nggak mi... kami baik-baik saja kok..." Jawabku sambil menaruh piring kotor menumpuknya menjadi satu.


"Biar mami yang nyuci. Kamu ke depan saja barangkali koko mu sudah datang biar dia nggak nunggu..."


"Iya mi...." kata ku sambil mengambil tasku.


"Fiah pamit ya mi...." Kata ku sambil mencium punggung tangannya agar mami tidak mengantarkan aku ke depan. Kalau tahu yang menjemput ku bukan koko sudah pasti mami mikir dan aku nggak mau membuatnya sedih.


Saat aku sudah di ambang pintu ternyata Pak Ali sudah datang. Pria paruh baya itu turun dari mobil dan berjalan untuk menyapaku.


"Pagi non Fiah. Saya yang akan...."


"Sssttt... iya pak iya..." Kata ku sambil buru-buru turun dan memakai sepatu.


"Fi...?"


Glek...


Suara mami


"Iya mi. Fiah berangkat dulu ya mi..." Kata ku sambil melebarkan senyumanku.


"Koko mu mana?" Tanya mami saat melihat pak Ali.


"Koko ada urusan dulu jadi tidak bisa menjemput Fiah...."Jawabku memotong perkataan pak Ali.


"Kamu yang hormat sama Koko mu!. Jangan buat dia marah! Koko itu pria yang baik. Mami bisa lihat itu..." Wejangan mami yang hanya ku iyakan saja.


Pak Ali kemudian membukakan pintu mobil belakang dan aku pun segera masuk kemudian melambaikan tanganku pada mami yang masih setia menunggu keberangkatan ku.


"Hufffhhhttt....., Mami saja yang nggak tahu kalau si playboy itu celap celup sana sini. Kalau mami tahu pasti mami sama papi nggak mungkin akan menjodohkan aku dengan si tengik itu..." Gerutuku dengan jengkel.


" Iya mbak Fiah....?" Ujar pak Ali.


"Eh.... Enggak kok pak Ali. Saya sedang bicara sendiri" Kataku tak enak hati.


"Maaf tadi saya nggak sopan ya pak. Masa orang tua di sut sut..." Kataku mengingat perbuataan ku tadi.


"Iya.... nggak papa kok mbak Fiah..." Ucap beliau yang sedang fokus pada jalanan.

__ADS_1


"Memangnya Koko sekarang lagi ngapain pak?" Tanyaku agak penasaran sedikit.


" Waduh.... Kalau itu saya nggak tahu ya mbak Fiah. Tadi saya cuma di suruh jemput mbak Fiah terus abis ini pulang lagi jemput Bapak..." jelasnya panjang lebar.


Aku hanya manggut-manggut saja mendengarnya. Lebih baik kami memang jarang bertemu. Biar tidak sama-sama emosi.


Tapi kenapa mami sayang sekali pada atasan ku itu. Dia nggak jemput aku saja mami sudah sedih seperti itu bagaimana kalau aku bilang tak ingin melanjutkan perjodohan diantara kami. Bisa-bisa mami shock dan pingsan nanti.


"Mbak Fiah sekarang kok nggak pernah main ke rumah?" Tanya pak Ali.


"Iya pak, sibuk. Tapi kemarin Fiah juga jalan sama mama kok pak. Papa sama juga sering mengunjungi kami di rumah" Jelasku apa adanya.


Setelah itu Pak Ali dan aku hanya diam sambil mendengarkan musik yang mengalun dari radio.


Perjalanan pagi itu terasa damai sekali sampai kami tiba di perusahaan dan aku diturunkan oleh pak Ali di depan lobi perusahaan.


Seperti biasa mata-mata julid para karyawan itu memandangku dengan teliti dari atas sampai ke bawah. Aku merasa sedikit kurang nyaman karena tidak ada Koko di dekatku. Biasanya kalau pun dia berjalan jauh dariku aku masih merasa aman karena setidaknya karyawan lain akan segan pada pemilik perusahaan.


Sesampainya aku di atas hanya ada pak Mikail di ruangan besar itu dan entah kenapa rasanya ada yang kurang. Seharusnya aku merasa senang tapi kenapa aku malah merasa bersalah dengan keadaan ini.


Sekitar jam sepuluh Koko baru datang dengan raut muka datar tidak seperti biasanya. Aku langsung berdiri untuk menyambutnya dengan menundukkan kepala memberi hormat kepada sang direktur utama. Kulihat pak Mikail juga melakukan hal yang sama.


"Apa jadwalku hari ini?" Katanya saat melewatiku.


'Kenapa dia jadi begitu? Memang aku salah apa? Kenapa dia jadi menakutkan seperti itu ?' Batinku.


Dan seharian itu kami benar-benar bekerja layaknya seorang sekretaris dengan atasannya. Koko cuma bicara padaku tentang masalah pekerjaan. Dia tidak memarahiku atau bicara yang tak penting dan membuatku risih seperti biasanya.


Its ok ini lebih baik daripada dia banyak bicara seperti biasanya.


Sesaat sebelum pulang tiba-tiba hape ku berdering dan tertera nomer baru yang belum masuk daftar kontakku.


"Assalamualaikum...."


"Waalaikumsalam..." Jawab orang yang ada di seberang dan aku langsung menggigit bibirku. Aku masih ingat betul itu suara Kak Rey yang terdengar lebih merdu di telingaku.


"Sof.... bisa kita bertemu?" Tanyanya mengagetkanku.


"Kalau hari ini tidak bisa kak...." Jawabku agak pelan takut terdengar oleh asisten direktur yang berada tak jauh dari situ.

__ADS_1


"Bagaimana kalau besok?"


Aku takut tapi aku juga rindu padanya. Aku ingin sekali bertukar kata dengannya.


__ADS_2