Kamu Bukan Yg Pertama

Kamu Bukan Yg Pertama
Mami....!!


__ADS_3

Hari libur ini Sofiyah galau karena sudah berjanji pada Rayhan untuk ketemuan tapi maminya merasa tidak enak badan. Yang ia kesalkan sang mami justru meminta Basofi dan keluarganya untuk datang ke rumah.


" Mami kangen sama Papi nik...."


Sesaat Sofiyah kaget dan mematung mendengar kalimat maminya. Tidak ada angin tidak ada hujan kenapa tiba-tiba mengatakan hal demikian.


" Nonik juga kangen sama papi mih.... Semoga papi diampuni semua dosanya dan dilapangkan kuburnya..." Doa Sofiyah setelah menguasai pikirannnya.


" Amiin.... Papi sudah janji mau kesini nanti..." Wajah mami Soraya terlihat bahagia.


Sofiyah mengernyitkan keningnya merasa heran dengan maminya yang seperti sedang berhalusinasi. Gadis itu kemudian memegang kening sang ibu dan merasakan panas yang menyengat padahal tadi suhu badannya normal-normal saja meskipun mami Sora mengeluh kepalanya pusing dan badannya lemas.


"Mami makan bubur dulu ya....." Sofiyah mencoba membujuk karena nafsu makan mami turun drastis semenjak pulang dari rumah sakit .


"Perut mami kenyang." Suaranya terdengar lemah sekali.


"Minum air madu ya mi..."


Maminya menganggukkan kepala. Si gadis bermata sipit itu kemudian membantu maminya agar bisa minum dengan bantuan sedotan.


"Mi, bagaimana pendapat mami kalau ada orang melanggar janji?" Sofiyah mulai aksinya agar diperbolehkan bertemu Rayhan.


"Jangan sampai kamu mengumbar janji. Itu perbuatan tercela Fi...."


Sambil memijat kaki sang mami dia dengan takut-takut mengatakan kalau punya janji dengan Rayhan.


" Fiah sudah janji mau ketemuan dengan kak Rey. Boleh ya mi? Hari ini dia akan kembali ke London...." Ia melirik maminya berharap mendapatkan jawaban sesuai keinginan.


Raut muka mami seketika langsung berubah. Rasa tidak suka tergambar jelas di wajahnya tapi Sofiyah mencoba tidak menghiraukannya. Ia yakin sang mami seperti itu karena belum mengenal Rayhan dengan baik.


Sofiyah segera menelpon Rayhan dan meminta lelaki itu untuk datang ke rumahnya dan ketemuan di sana seperti yang sudah ia janjikan. Tentu itu berbeda dengan pertemuan yang diinginkan oleh Rayhan yang ingin bersenang-senang, melayang bersama di atas awan dengan penyatuan raga sebagai salam perpisahan untu


Masih menyimpan harapan jika angannya bisa terwujud nyata, Rayhan segera mendatangi Sofiyah sambil membawa cincin sebagai upaya terakhir untuk menjerat Sofiyah. Mengikatnya dengan pertunangan agar dia tak berpaling darinya. Syukur-syukur kalau mau di bujuk untuk membuktikan cinta dengan menyerahkan seluruh tubuhnya.


Ia sudah mengepak semua keperluannya ke dalam koper. Paspor dan keperluan lainnya juga sudah siap semua. Ia menjadwalkan harus sampai di beranda tepat pukul 12 siang dan dia masih punya beberapa jam sebelum waktu keberangkatan.


Pria berwajah baby face dengan postur tubuh tinggi yang menjulang itu segera bergegas melajukan kendaraan mewahnya menyusuri jalanan kota dan menepi ke pinggiran kota.


Rayhan yang biasa hidup hedon di tengah kota dengan berbagai aktifitas di dalamnya ternyata bisa dengan mudah menerima keadaan Sofiyah yang kini hidup dalam tempat yang jauh dari kata mewah. Lelaki itu merasa punya rasa spesial pada Sofiyah tapi dalam hatinya tentu saja sebelum menikah dalam arti yang sesungguhnya dia masih ingin bersenang-senang menghabiskan masa muda. tapi anehnya dia ingin mengikat Sofiyah agar tak berbuat sama sepertinya. Ia ingin Sofiyah menjaga harga dirinya saat ia meninggalkannya.


Bangs*t atau buaya itu namanya.

__ADS_1


Sudah bisa ditebak kedatangannya langsung menyedot perhatian seluruh mata yang ada. Karena wajah dan postur tubuhnya juga karena kendaraan yang dipakainya. Dari orang yang lalu lalang dan para santri yang sedang ada kegiatan ro'an atau bersih-bersih.


Begitu sampai di kediaman Sofiyah, gadis itu ternyata juga sudah menunggunya di ruang tamu. Mereka pun kemudian berbincang-bincang dengan hati riang karena Rayhan selalu bisa mengendalikan keadaan.


Tak berapa lama setelah itu Basofi datang dan Sofiyah langsung memintanya untuk masuk ke dalam kamar sang mami yang memang sudah menunggu lelaki yang kini lebih kalem itu.


Rayhan dan Sofiyah melanjutkan obrolan. Mereka sama sekali tidak merasa terganggu dengan kehadiran Basofi malah nampak semakin asyik dan larut dalam perbincangan.


Tak berselang lama, mama papanya Basofi juga datang dengan membawa berbagai makanan dalam jumlah cukup banyak. Tidak hanya memenuhi ruang tamu tapi juga sampai ke teras-teras juga. Hanya menyisakan sedikit tempat untuk lewat.


Rayhan dan Sofiyah yang asalnya bercengkerama di ruang tamu tadi ikut membantu menata makanan-makanan yang dibawa calon mertuanya.


Setelah selesai Mamanya Basofi menggandeng suaminya untuk masuk dan menemui sahabatnya yang secara khusus memintanya datang. Bahkan mami Sora juga minta pada Basofi untuk membawakan makanan dalam jumlah besar.


Tumben-tumbenan


Sofiyah menyalami kedua orang tua Basofi kemudian mempersilahkan keduanya masuk ke kamar maminya tanpa mengantarnya. Sofiyah terlihat tidak terlalu menghiraukan mereka. Fokusnya kini hanya pada Rayhan saja.


Rayhan juga bingung dengan dirinya sendiri kenapa mau-mau saja cuma diajak berbincang tak tahu arah dan waktu bahkan ikut bantu-bantu mengangkat ini itu. Padahal biasanya dia langsung gusrak gusruk saja, tubrak tubruk sana sini.


" Dia tampan ya Sof....?" Rayhan mencoba mengorek lebih dalam tentang perasaan Sofiyah pada orang yang dijodohkan dengannya.


" Si gesrek itu? Tampan darimana?" Sofiyah nampak sewot saat menjawabnya.


"Ada apa ko?" Sofiyah ikut panik karenanya.


"Mami...." Basofi hanya sempat mengatakan itu kemudian berlari tanpa menggunakan alas kaki menuju ke rumah Abah Fani.


Sofiyah bergegas masuk dengan hati yang ketar-ketir. Perasaannya mendadak menjadi kalut, takut terjadi apa-apa dengan orang tua yang masih dimilikinya


" Mami.... mami kenapa mi?!!" Wajah Sofiyah panik dan air matanya mulai berjatuhan di pipinya.


"Fi.... Mami ingin sekali melihatmu menikah dengan Koko...."


Sofiyah menelan salivanya mendengar permintaan maminya.


" Mami sembuh dulu ya mi ! Semua bisa diatur nanti..." Basofi tiba-tiba sudah berada di situ dan berdiri di sebelah Sofiyah.


Bu haji istri abah Fani yang sudah datang kemudian duduk di sisi lain.


" Terima kasih ya ustadzah sudah menampung kami selama ini. Mohon maafkan kesalahan kami sekeluarga..." Katanya sambil menggenggam tangan istri abah Fani dengan erat.

__ADS_1


"Sama-sama bu...."


"Bah.... !!".Mami Sora melihat ke arah Abah Fani dengan penuh pengharapan.


" Kami juga minta maaf ya Bu Sora barangkali selama tinggal di sini ada sesuatu yang kurang berkenan"


"Bah.... saya ingin sekali melihat Sofiyah menikah dengan koko Basofi seperti keinginan mendiang papinya Fiah. Saya harap abah nanti bersedia menjadi walinya"


"Mii..... mami ngomong apa sih mi??!" Sofiyah menelungkupkan wajahnya di dada maminya. Ia benar-benar ketakutan dan tak ingin terjadi apa-apa pada maminya.


" Ma-afin ma-mi ya- nik......" Mami Sora mulai terbata-bata bicaranya.


" Alloh Alloh Alloh !!" Bu haji membisikkan nama Alloh di telinga mami Sora agar wanita itu merafalkannya.


"Mami..... mami....!!!!! Nonik akan menikah dengan koko. Mami please mam..!!!" Sofiyah menangis sejadi jadinya takut kehilangan keluarga satu-satunya. Membuat orang-orang yang berada di situ kasihan juga sedih.


"Sabar sayang! " Mama nya Basofi menepuk pundak Sofiyah untuk memberinya sedikit kekuatan.


" Ma.... katakan sama mami Fiah akan menuruti permintaan mami... " Sofiyah menoleh ke arah calon mertuanya sebentar kemudian maminya yang terbaring lemas dengan menggenggam tangannya.


"Alloh Alloh Alloh.... Allohh Alloh" Sang mami terus menyebut nama Alloh mengikuti bisikan bu haji membuat Sofiyah menutup mulutnya dan berhenti bicara. Ia menelungkupkan badannya di lengan maminya, menangis tanpa suara.


"Alloh Alloh All-lohhhhh...."


Tiba-tiba suara menjadi hening dan Sofiyah merasa mami nya melepas genggaman tangannya. Ia mendongak melihat wajah mami yang sudah terpejam sambil tersenyum. Sofiyaj melihat ke arah bu haji yang juga sedang melihatnya kemudian menepuk pundaknya pelan.


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un...." Terdengar suara abah Fani membaca istirja' membuat Sofiyah tersadar dari keadaan.


"Mami!!!! Mami ii!! no mami no!!!!" Sofiyah menjadi seperti kebingungan dan mengguncang pundak sang ibu yang kini sudah tidur dengan tenang.


"Abah!! Fiah mau menikah dengan koko!! tolong bangunkan mami


Ko!! bangunkan mami !!! Bilang sama mami kita akan menikah!! Bangun mam bangu...n!!!"


"Tenang ya nak!"


Rayhan meremas kotak kecil di dalam sakunya. Lemas sudah jiwa raganya. Ia yang sedari tadi menyaksikan semua yang terjadi dari ambang pintu menjadi ketakutan jika sewaktu-waktu meregang nyawa, membayangkan malaikat maut datang kepadanya.


Bukan ingin taubat, yang diinginkan olehnya sekarang adalah segera pergi meninggalkan tempat itu sesegera mungkin. Ia butuh pelampiasan entah dengan minum atau dengan wanita untuk menghilangkan ingatan kejadian barusan. Tapi ia ingat jika sekarang sudah waktunya untuk segera berangkat ke bandara.


"Sofiyah...." Rayhan memejamkan matanya berusaha menerima jika gadis itu memang bukan jodohnya dan dia harus merelakannya.

__ADS_1


Bibirnya tersenyum sinis. " Aku akan berkelana untuk mencari cinta" Katanya sambil mengemudikan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata.


__ADS_2