Kamu Bukan Yg Pertama

Kamu Bukan Yg Pertama
Koko


__ADS_3

Mobil klasik Tata berhenti dan beliau turun kemudian melihat kami yang sedang membungkukkan badan. Menatap kami satu persatu. Kemudian berlalu begitu saja dengan suara tongkatnya yang beradu dengan paving.


Kami pun mengikutinya dari belakang dan saat Tata berhenti kamipun serempak ikut berhenti. Ini apa-apan? Kami ini sedang bermain atau apa.


Tiba-tiba istriku berbisik padaku, "Mobilnya tua seperti orangnya ya ko!"


"Ehem....!" Tata berdehem dengan keras membuat kami kaget. Semoga saja dia tidak mendengar ucapan Aya barusan. Meskipun memang kenyataan nya demikian.


"Barusan kau bilang apa anak kecil?" Tata berkata sambil menodongkan tongkatnya menunjuk ke Aya. Aku sebagai suami yang baik langsung berada di depannya. Mengahalau tongkat Tata agar menjauh dari pandangan my wife.


Tapi ternyata Aya yang kadang keras kepala malah memperlihatkan kepalanya di samping lenganku.


"Maaf Ta. Hehe.... mobilnya tua kayak orang nya"


"Kau ini!!! Kau tidak tahu berapa harganya. Di dunia ini hanya ada 36 saja. Mobil ini tidak diproduksi secara masal. Hanya orang-orang tertentu yang bisa memakainya. Tidak sembarang orang yang bisa membeli mobil ini" Tata berkata dengan penuh penekanan sambil menunjuk-nunjuk Aya dengan tongkatnya.


"Ohh gitu. Mobil mahal? Tapi rodanya juga bundar sama kayak mobil-mobil yang murahan ya Ta?"


"Kau ini....!! Ajari istrimu itu kenapa kita harus memakai mobil mewah!!!" Kali ini Tata mengarahkan tongkatnya padaku.


"Itu sejenis mobil Retro keluaran lambo. Harganya menyentuh kisaran 5,3 juta dolar AS atau setara dengan sekitar 70 milyar rupiah. Tujuan Kita memakai mobil mewah agar orang tahu jika kita itu orang kaya. Lalu mereka akan menghormati kita" Kata ku sambil melirik Aya yang masih bersembunyi di balik punggungku sambil mengusap tangannya yang mencengkeram lenganku.


"Oh.... orientasinya pada manusia. Mau pamer gitu ya ko?" Katanya membuat mama semakin menundukkan kepalanya. Mungkin untuk pertama kalinya mama geram pada menantu kesayangan nya ini.


Aku menganggukkan kepala tanda setuju padanya. Daniel yang sejak semula berdiri di sampingku mengacungkan dua jempolnya pada istriku yang secara refleks langsung kutangkis agar dia tahu batasan pada kakak iparnya.


"Ishh...." Desah Daniel.


"Ta ma de!!!!" Gigi Tata bergemelatuk menahan amarah.


Mama dan papa refleks memegang lengan Tata yang seperti nya shock mendengar perkataan Sofiyah sampai mengeluarkan kata umpatan pada menantu kesayangan keluarga.


"Bagaimana cara kalian mendidik anak-anak? Kenapa mereka menjadi seperti ini?" Tata mengeraskan suaranya kemudian terbatuk-batuk tak berhenti-henti.


"Maafkan saya! Maafkan saya!" Mama membungkukkan badannya berkali-kali sebagai permohonan maaf.


"Ini apa lagi.... Kenapa menyiapkan hal-hal nggak berguna seperti ini? Aku cuma mau makan saja. Mau mencicipi masakan gadis kecil yang kurang **** itu"


"Astaghfirullahaladzim..... Tata!!" Sofiyah langsung melesat mendekati Tata kemudian menggandeng lengannya. "Ish ish ish.... tak patut! tak patut! Tak boleh lah seorang kakek berbicara yang buruk-buruk pada cucunya. Tata lupa ya kalau ucapan itu doa? Sepertinya Tata semakin tua. Kami menyiapkan semua ini karena mengira yang datang adalah rombongan keluarga besar Han. Ish ish ish..... Kenapa lah sudah tua malah berburuk sangka pada yang muda-muda ini....?"


Benar-benar istriku ini. Dikira ini adegan syuting Ipin Upin apa? Ini bawaan hamil atau memang aslinya istriku jahil seperti ini? Aku pun lekas mendekatinya agar tak terjadi apa-apa padanya. Takut saja Tata yang temperamennya tak bisa ditebak tiba-tiba memukulnya.


"Kau ini!!" Tata menjewer telinga Aya yang tertutup hijab. "Kau mendoakan Tata cepat ko at begitu?"


"Ishh....! Mana ada yang seperti itu. Fiah saayang sama Tata. Iya kan koh?" Tanyanya padaku sambil mengerlingkan matanya dan aku pura-pura tak menghiraukannya.


Sofiyah menggandeng lengan Tata untuk masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ruang makan sambil mengajaknya berbincang. Dan baru kali ini aku bisa melihat Tata bersikap santai layaknya manusia biasa. Kalau di sarangnya Tata itu mirip dedemit. Menakutkan dan tak ada yang berani membantahnya disana. Wajahnya yang tua dan berkeriput itu menjadi semakin angker dan menakutkan. Datang ke istananya Tata itu sudah seperti uji nyali.


Tanpa kami sadari ternyata ada seseorang yang sejak tadi berada di belakang kami. Wanita itu hanya berjalan di belakang kami tanpa bersuara. Ketika menoleh ke belakang barulah aku tahu ada Mama Daniel diantara kami.


Ketika sampai di meja makan Tata langsung duduk di ujung, posisi kepala keluarga. Kemudian Papa duduk di kursi pertama. setelahnya mama Daniel hendak duduk di sebelah papa tapi Tata menghentikannya.


"Kau! Duduk disitu!" Kata Tata sambil menatap mama yang berdiri sejajar dengan para ART sambil menautkan tangan dan menundukkan kepala. Miris sekali ibuku kalau begini. Sudah seperti pembantu rumah tangga.


"Kau tuli ya!" Kata Tata sedikit membentak membuat mama mendongakkan kepala.


"Duduk situ!" Kata Tata sambil menunjuk kursi di dekat papa menggunakan dagunya.


"Sa-saya?" Tanya mama sambil menunjuk mukanya sendiri.


Tata tak menghiraukan pertanyaan mama tapi papa menepuk kursi di sebelahnya sambil tersenyum pada mama. Mama berjalan sambil menunudukkan kepala dan terlihat menelan ludah berkali-kali.


"Kau duduk disebelahnya!" Kata Tata pada mama Daniel yang langsung menarik kursi di sebelah mama dengan kasar dan duduk dengan menekuk mukanya. Terlihat kesal karena kini Tata sudah mulai menerima madunya.

__ADS_1


"Kamu duduk sini Mey!" Kata Tata pada Aya yang disambut suka cita olehnya.


Tanpa diperintah aku duduk di sebelah istriku dan Daniel duduk di sebelahku, berhadap-hadapan dengan mama kandungnya.


Suasana meja makan cukup menyenangkan karena Tata puas dengan masakan Aya yang tak jauh-jauh dari mi dan makanan khas Tionghoa. Hari ini ada dimsum, bebek peking, sapo tahu, kwetiau, chow mein, I fu mie dan nasi Hainan buatan istriku dan beberapa penutup mulut yang dibuat mama.


Meskipun mamanya Daniel berkali-kali membuat gaduh untuk mencari perhatian tapi so far semuanya berjalan dengan lancar dan cukup menyenangkan.


Saat menikmati hidangan pembuka Tata berkata dengan muka serius. " Dua minggu lagi pernikahan kalian akan diumumkan. Kita akan mengadakan pesta besar-besaran. Sebentar lagi ada orang datang untuk mengukur kalian!"


Aku dan Aya saling bertatapan. Membuat acara dengan kami sebagai pemeran utamanya tanpa mengajak kami berunding terlebih dulu. Karakter Tata itu ternyata sudah mendarah daging rupanya. Otoriter. Dan ternyata Aya setuju dengan menganggukkan kepalanya jadi aku pun diam tak protes apa-apa


"Ma...!" Daniel mengeluarkan suara entah untuk memanggil siapa. Mama atau mama kandungnya sendiri yang jelas kedua orang wanita itu sama-sama menoleh kearahnya. Mama Daniel kemudian segera memalingkan muka dan raut wajahnya nampak sedih sekaligus marah.


Dan yang lucu, beberapa kali mama dan mamanya Daniel secara bersamaan mengambil lauk yang sama. Sumpit keduanya saling bersentuhan di atas piring yang sama kemudian saling menatap dan menarik tangannya masing-masing tak jadi mengambil lauk yang sama. Tapi kejadian itu terjadi sampai tiga kali. Ini keadaan yang baru pertama kali terjadi. Mama dan mamanya Daniel berkumpul dalam satu meja makan.


Papa kemudian berinisiatif mengambil puding dan membaginya dalam dua piring kecil dan memberikannya pada kedua istrinya. Tapi seperti bersepakat, keduanya menolak untuk memakannya dan memilih minum air yang ada di depan mereka daripada menyantap puding yang disuguhkan papa.


Itu terlihat lucu di mataku juga orang-orang di sebelahku karena Aya terlihat menahan mulutnya agar tidak tertawa Sedangkan Daniel menyeringai melihat keadaan kedua orangtuanya yang menggelikan.


"Ehem!!" Aku berdehem agar Aya dan Daniel bisa berhenti tertawa sedang Tata hanya melihat saja tanpa berkata apa-apa.


Malam harinya saat semua sudah usai aku sedang memijit kaki istriku yang terlihat bengkak. Mengompresnya dengan air hangat. Aya terlihat lelah sekali. Ia sudah menyiapkan semuanya sejak kemarin. Berkutat di dapur untuk menghidangkan jamuan terbaiknya. Untung anakku bisa mengerti kalau ibunya sedang repot jadi tak rewel sama sekali.


"Capek banget ya yang?"


"Bangget...!" Katanya sambil memejamkan mata.


"Kamu sekarang jadi manja banget tahu nggak?"


"Enak aja!!"


"Bener yang.... kalau kata orang-orang nih. Kalau ibunya manja, suka bersolek itu anaknya perempuan"


"Kamu sudah punya nama nggak?" Tanyaku masih memijit di betisnya yang putih dan mulus.


Tiba-tiba ponsel Aya berdering dengan nada dering yang sama seperti tadi pagi.


Look who we are


We are the dreamer


sWe make it happen,


’cause we believe it


Look who we are,


we are the dreamers


We make it happen


cause we can see it.


Lagunya menghentak-hentak membuat orang ingin berjoget saja.


"Iya...."


"Iya, iya baik ma"


"Nanti Fiah kabari ya ma...!"


Sofiyah menutup panggilan telponnya dan aku merebut ponselnya.

__ADS_1


"Siapa?" Tanya ku penuh selidik.


"Mama ..."


"Mama ada di bawah kenapa harus menelpon. Nggak biasanya?"


"Mama kedua ko..... Kalau waktunya periksa kandungan mama mau ikut"


Aku mengernyitkan keningku. Sejak kapan istriku ini dekat dengan ibu tiriku.


"Sudah terlanjur punya dua mama ya sudah. Nikmati aja!" Ktanya tanpa rasa bersalah.


"Kamu belum tahu siapa dia!" Kataku serius yang dijawab gelengan kepala olehnya.


"Dia itu orang nya keras kepala, ambisius!" Kataku menegaskan.


"Huft..... Dalam penglihatan Aya dia itu cuma seorang wanita yang terluka dan mencoba membuktikan pada kita kalau dia baik-baik saja dan mampu melewati semuanya meskipun keluarga intinya tak mendukungnya. Kalau dia keras pada mama dan koko itu karena dia iri dan mencoba mengambil perhatian lewat sikapnya yang menjengkelkan. Kasihan dia ko...! Koko jangan keras-keras sama mama ya. Dia seorang ibu yang terluka karena anaknya sendiri tak mengakui keberadaannya"


Aku mendengus kesal mendengar penuturan istri kecilku ini. Daripada kami bertengkar aku membelokkan perbincangan.


"Siapa yang nyanyi lagu tadi?" Kata ku sambil menggoyangkan ponselnya.


"Ohh.... itu namanya Jung kook" Ia meraih ponsel di tanganku dan membuka halaman YouTube kemudian menunjukkan sebuah tayangan padaku.


Lagu yang indah perpaduan antara lagu k pop dan lagu khas timur tengah. Ditambah visualisasi yang keren dengan bintang yang tampan dan pandai menari membuatku sejenak terbuai.


"Ini lagu opening ceremony piala dunia di Qatar tahun 2022. Jong kook BTS featuring Fahad Al kubaisi."


" Ternyata kamu suka cowok cantik yang suka pakai make up?" Kataku menyindirnya. Jiwa lelakiku memberontak. Tak terima istriku menyukai pria lain meski cuma sebatas fans saja.


"Enggak. Aku juga baru tahu itu anggota BTS yang dulu disebut sama teman-temanku. Aku tahunya saat pemberitaan piala dunia yang digelar di Qatar ini menuai kontra dari dunia barat. Berbagai cara ditempuh oleh mereka untuk membuat citra islam buruk dimata dunia tapi Qatar sudah menyiapkan semuanya dengan baik. Qatar menggelontorkan dana besar-besaran untuk menyambut para turis yang datang. Menyiapkan para pendakwah dan muadzin yang kompeten. Membangun masjid seindah mungkin dengan berbagai fasilitas untuk memudahkan siapa saja yang ingin mengenal islam lebih jauh. Ditunjang dengan masyarakat yang menyuguhkan budaya lokal yang ramah, dermawan dan non alkohol. Itu benar-benar dakwah yang elegan menurutku."


Aya menunjukkan beberapa video tentang geliat piala dunia yang luput dariku. Aku bahkan sudah lama tak melihat sepak bola.


"Kita juga harus berdakwah pada keluarga Tata dan seluruh keluarga Han dengan cara menunjukkan kepada mereka kalau kita itu orang yang baik karena ajaran agama kita yang menganjurkan setiap manusia berbuat baik. Tidak perlu mengajak secara langsung cukup tunjukkan, ini loh muslim yang sesungguhnya!"


Aku mencerna semua kata-katanya dengan baik dan menyimpannya dalam kepalaku.


"Ya baik ustadzah! Sekarang waktunya berdakwah padaku. Tunjukkan padaku kalau kamu istri yang baik yang mengetahui keinginan tersembunyi suaminya".


"Ko....." Rengeknya sambil memukul lenganku. "Badanku capek semua ko.., "


"Ya itu obatnya. Nanti kalau sudah selesai pasti badan terasa segar capek-capek ilang semua"


"Ish itu sih maunya kamu ko...!" Katanya sambil memonyongkan bibirnya.


"Kita coba kalau nggak percaya. Nanti kalau memang tidak terbukti kamu boleh minta lagi"


"Koko!!!"


Aku tidak mendengar gerutuannya, yang penting malam ini aku dapat jatah.


Aku akan pelan-pelan nak, kamu tenang saja. Aku berbisik diatas pusar istriku yang kulitnya seputih susu dan halusnya seperti sutra. Aku mencoba melihat Aya. Dia menggigit bibirnya dan tak memberontak lagi. Sudah pasrah sepertinya.


I am cooming baby


..


..


..


Puas-puas nggak tuh bacanya, sampek pegel nulisnya.

__ADS_1


Ok Kurang satu bab lagi Insya Alloh END


__ADS_2