
Hatiku berbunga-bunga setelah menutup telpon dari kak Rey. Kami sudah berjanji akan bertemu pada hari Minggu nanti.
Dia dapat nomer telponku darimana ya?
Meski aku juga tahu sebagai salah satu anak orang kaya di kota ini koneksinya pasti di mana-mana sehingga mencariku bukanlah perkara yang sulit untuknya. Tapi tetap saja aku penasaran dia mendapatkannya dari mana.
" Sofi...!"
" Iya!!!" Aku refleks berdiri sambil menyembunyikan hapeku seperti orang yang ketahuan sedang berselingkuh.
Jujur saja aku kaget dan mengelus dadaku karena ternyata yang berdiri di depanku adalah pak Mikail.
"Huft....! Iya pak Mike?" Aku bernafas lega kemudian tersenyum agar ulahku barusan tak kelihatan aneh.
"Kamu kenapa Fi?" Mikail agak mengernyit membuat kedua alis tebalnya hampir bersentuhan.
"Nggak papa Pak Mike. Ada apa pak Mike memanggil saya barusan?" Tanyaku balik agar asisten direktur kami ini tak kepo lagi.
"Pak Ali sudah ada di depan. Hari ini Pak Basofi tidak bisa mengantar karena masih ada beberapa pekerjaan" Pak Mike menjelaskan.
"Iya pak Mike, terima kasih infonya" Kataku sambil tetap tersenyum.
"Sebenarnya aku bisa mengantarmu pulang tapi pak bos melarangnya. Sofi, apa kau juga merasa ada yang berbeda dengan bos kita? Seharian ini dia aneh sekali kan? Kami bahkan solat Dhuhur dan Ashar lho...." Katanya antusias ingin bergunjing tentang keanehan yang terjadi pada bos kami.
"Muslim kan memang wajib solat lima waktu..." Kata ku sambil membereskan meja.
"Ish... kau ini. Kau kan tahu kalau kami ini bukan muslim sejati..." Katanya bingung sendiri.
"Ya bagus kan kalau bos kita bertaubat. Pak Mikail nanti bisa jadi alim juga".
"Nggak lucu Fi...."
"Saya memang bukan pelawak pak Mike..."
Ia tak menjawab dengan kata-kata hanya menelengkan kepalanya sambil melirik tak suka.
"Tapi pak Mike, masa pak Bos belum pulang sekretaris nya sudah pulang duluan. Apa nggak aneh ya?" Tanyaku.
"Nggak papalah yang ngasih izin kan dia. Kalau kamu bilang sama dia biar aku yang antar jemput kamu saja bagaimana?"
__ADS_1
Gantian sekarang aku yang mengernyitkan kedua alisku mendengar permintaan Pak Mikail.
"Saya malah lebih suka sama pak Ali..." Kataku jujur saja.
" Itu menyakiti hatiku Fi" Dia menekan dadanya. " Belum apa-apa aku sudah di tolak begitu saja" Katanya.
Tiba-tiba dia memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Ternyata ada panggilan telpon untuknya.
"Ya pak...!"
"Iya baik pak...!" Katanya sambil berlalu meninggalkan aku.
"Hati-hati...!" Dia berjalan menuju ke ruangan pak Basofi sambil melambaikan tangannya padaku.
Aku tersenyum lagi kemudian segera mengirim pesan pada pak Basofi untuk pamit pulang terlebih dulu.
'Saya permisi pulang dulu ya pak'
'Terimakasih untuk kerja kerasnya hari ini.'
Begitu punya pesanku.
Sore itu aku pulang bersama pak Ali lagi dan untungnya malam itu aman. Mami tak bertanya tentang koko sama sekali.
Keesokan harinya aku di jemput oleh pak Ali lagi dan mami kali ini tak bertanya hanya raut mukanya terlihat sekali kalau ingin bertanya. Aku hanya berdo'a semoga mami baik-baik saja dan tidak berpikiran macam-macam. Aku tak ingin mami sakit atau kenapa-kenapa.
Sesampainya di tempat kerja hawanya kenapa seperti ada yang berbeda. Apa cuma perasaanku saja ya?
Para karyawan lain sepertinya tidak ada yang memandangku seperti biasanya. Mereka bahkan langsung menunduk setelah bersitatap denganku.
Ini ada apa sih?
Dengan perasaan yang masih belum paham sepenuhnya aku melangkahkan kaki ke lantai atas. Mungkin aku bisa bertanya pada Pak Mikail tentang fenomena alam yang aneh ini.
Ternyata sampai di lantai atas keadaannya masih sepi. Kenapa jadi semakin aneh begini?
Tapi beberapa menit setelah itu Pak Basofi datang bersama pak Mikail yang berjalan di belakangnya. Aku pun segera berdiri untuk memberi hormat pada atasanku itu tapi dia hanya diam saja. Tak menoleh apalagi menyapa. Aku jadi merasa tak dianggap dan diabaikan olehnya.
Walhasil aku juga tidak bisa bertanya pada pak Mikail apa yang sebenarnya sedang terjadi di perusahaan ini karena ia mengekori bos nya dengan setia.
__ADS_1
Setelah itu aku pun harus bersiap-siap untuk segera menghadap pada sang atasan. Membacakan jadwalnya hari ini seperti hari-hari biasanya.
Ku jinjing ipad ku dan aku pun segera melangkah menuju ruangan pak direktur. Sebelum mengetuk pintu ternyata pak Mikail lebih dulu membukakan pintu itu untukku.
"Pagi...." Katanya sambil memamerkan senyum ramahnya.
"Pagi juga pak Mike...." Balasku tak kalah ramah.
Dan sekarang pak Mikail bukannya keluar seperti biasanya dia malah berdiri di belakang koko. Dia bersedekap seperti seorang bodyguard.
Lama-lama kepalaku jadi pusing memikirkan semua ini.
"Apa jadwalku hari ini?" Suaranya datar dan jadi terkesan angker di tambah lagi dia bicara tanpa menatapku sama sekali. Hanya fokus pada layar laptop di depannya.
Sungguh harga diriku seakan-akan terinjak jauh ke dalam tanah. Aku ingin marah tapi tak punya kuasa. Apalagi sekarang ada pak Mikail di antara kami. Membuatku hanya bisa bernafas dan segera menjelaskan agendanya hari ini agar aku bisa segera keluar dari ruangan yang terasa pengap meski AC nya baik-baik saja.
Aku keluar dari ruangan direktur dengan amarah yang berkecamuk di dadaku. Ada apa sebenarnya dengan si Babas itu. Kenapa jadi pendiam seperti itu. Kemarin siang dia juga tidak mengajakku makan siang bersama. Meskipun lebih sering dia memaksaku agar mau makan bersamanya tapi itu lebih baik daripada dia mendiamkanku seperti ini. Sekarang aku hanya dianggap angin lalu saja olehnya.
Siangnya setelah kami rapat aku berniat untuk pergi ke kantin karena direktur ku sepertinya sudah tidak lagi membutuhkanku untuk menemaninya makan siang bersama.
Aku duduk di pojokan kantin menghindar dari karyawan lain. Perasaanku sedang buruk gara-gara si Babas sialan itu.
Tiba-tiba ada seseorang yang berdiri di depan mejaku. Dia tak tahu saja kalau aku sedang ingin marah. Aku pun mendongak untuk mengetahui siapa dia. Kalau perlu aku akan mengusirnya dari hadapanku karena aku ingin sendirian saja saat ini.
Mulut ku ternganga melihat siapa yang ada di depanku sekarang. Bukannya marah aku justru tersenyum karena saking bahagianya.
"Sofiyah..,"
"Kak Rey..."
"Boleh I duduk di sini?" Tanya pria jangkungku yang tampan dan kyut ini.
Tiba-tiba orang-orang berteriak histeria dan semua mata melihat ke arah pintu kantin. Ternyata ada si direktur utama dan asistennya yang berjalan memasuki kantin dengan wajah yang tak seperti biasanya. Dingin dan tak berekspresi.
Ngapain juga cewek-cewek pada histeris seperti itu. Bukankah mereka sudah sering melihatnya.
****************(((((((())))))))**************
__ADS_1
Aku paling suka part ini, saat Lukman sudah sangat bergairah tapi dia tetap ingin menjaga martabat wanita dan dirinya agar tak saling bersentuhan sebelum semuanya di sahkan.