
Basofi meminta istrinya berbaring kembali setelah ia selesai berganti baju. Lebih tepatnya memaksa dengan mengancam istrinya jika tidak mau menurutinya dia akan mendapatkan dosa besar dan akan dilaknat para malaikat.
Sofiyah hanya bisa menuruti suaminya yang pemaksa dan memang tubuhnya masih terasa sedikit lemas karena kesedihan yang yang mendera tubuhnya.
Sofiyah juga merasa heran, entah kenapa berdekatan dengan suaminya rasanya bisa menenangkan hati dan jiwanya. Tubuhnya juga menjadi rileks.
Sofiyah sadar kini hanya Basofi keluarga yang ia punya. Tempat untuk bersandar dan berbagi cerita. Entah bagaimana dia harus mengabarkan kepergian mami dan papinya pada keluarga besar mereka karena mereka seolah hilang kontak semenjak kegagalan bisnis papinya.
Basofi tak marah saat istrinya membelakanginya. Ia memeluk tubuh kecil sang istri dan menciumi rambutnya.
"Kamu nggak keramas ya Ay?" Tanya Babas untuk menurunkan panas yang membakar tubuhnya karena melihat Sofiyah yang berganti baju di depannya tadi karena permintaannya sendiri.
Ternyata senjata makan tuan. Kini ia kepanasan karena ada yang memberontak di balik celananya. Ia harus menahan emosi juga menahan hasrat lelaki yang kini sedang berkobar di pusat titik didihnya.
"Aku lapar Ay...." Kata Basofi mencoba mengalihkan perhatian dari pikiran liarnya. Di belakang tubuh istrinya, ia mencoba menenangkan si kecil yang meronta-ronta di balik celananya.
"Ada kue di meja belakang" Kata Sofiyah sedikit tertahan karena belakang tubuhnya bisa merasakan bagian tubuh Basofi yang mengeras dan menempel di tubuhnya. Sofiyah mencoba bersikap tenang seolah tak merasakan apa-apa padahal tubuhnya bereaksi menjadi geli-geli dengan sensasi penasaran ingin mencoba yang lebih.
__ADS_1
Basofi memegang tangan Sofiyah yang tersemat cincin mas kawin yang ia sematkan semalam.
"Kamu istriku sekarang. Ini adalah mahar yang kuberikan padamu" Kata Basofi sambil mengangkat tangan sang istri sehingga mereka berdua mengamatinya bersama.
"Kau minta mahar apa?" Tanya Basofi.
"Maksudnya ?" Sofiyah balik bertanya karena tidak mengerti. Bukankah mereka sudah menikah, kenapa tanya mahar sekarang.
"Kita akan menikah ulang secara legal biar negara dan seluruh dunia mengakui pernikahan kita" Jelas Basofi.
Mendengar hal itu Basofi perlahan-lahan melepaskan genggaman tangannya. Ia ingat kesalahannya dan merasa malu dengan kebodohan yang terjadi di masa lalu. Kini ia menyadari betapa lidah itu ternyata lebih tajam daripada pedang. Akibat kata-katanya yang menyakitkan ternyata masih membekas di hati istrinya.
"Maaf...." Kata Basofi pelan. Ia tak berani menyentuh Sofiyah lagi.
Aya seperti punya kesempatan untuk membalikkan keadaan dan ia pun tak menyia-nyiakan kesempatan. Gadis itu kemudian berbalik sehingga posisi mereka kini berhadapan.
"Ini semua karena wasiat mami kan ko?" Tanya Sofiyah penuh penekanan.
__ADS_1
Basofi hanya diam saja tak menjawab pertanyaan istrinya. Tak ingin menyangkalnya tapi ia juga belum siap untuk berterus-terang kalau dia juga sudah mencintainya.
"Apa kita bisa berpisah setelah ini?" Tanya Sofiyah ingin mendapatkan kepastian tentang pernikahannya. Apakah akan dilanjutkan atau akan dihentikan di tengah jalan.
Basofi membulat matanya, ia melotot pada wanita di depannya. Matanya merah pertanda ia sedang marah. Tak disangka ia malah mencium bibir Sofiyah dan **********, tak perduli dengan tangan Sofiyah yang memukul-mukul tubuhnya.
Tok tok tok. Tok tok tok
Bunyi ketukan pintu membuat Basofi melepaskan tautan bibirnya dan Sofiyah langsung mengusap bibirnya yang basah dan mengusap air mata yang meleleh di pipinya.
"Jangan pernah berpikir seperti itu karena aku tidak akan pernah melepaskanmu!" Basofi mengatakannya dengan penuh penekanan kemudian mencium kening Aya tak perduli jika istrinya itu sedang menangis.
"Ayo ke depan kita sarapan! " Katanya sambil mengangsurkan kerudung di depan muka Sofiyah.
"Assalamualaikum..." Teriak orang yang ada di depan pintu.
"Waalaikumsalam ...." Jerit Basofi dengan kesal tak mau kalah dengan orang yang mengucap salam.
__ADS_1