
" Fi.... ambilkan beberapa pakaian mami ya! Bawakan selimut papi juga!" Kata maminya Sofiyah pelan.
"Iya mi, nitip apalagi? Mami pingin makan apa?"
"Nggak.... " Maminya menggeleng pelan.
Sofiyah mencium pipi maminya yang sedang menatapnya dengan penuh tanda tanya dan Sofiyah menyadari hal itu. Pasti maminya ingin bicara banyak tapi waktu dan kondisinya tidak memungkinkan.
"Ma, maaf lagi-lagi harus merepotkan mama...!"
"Jangan begitu sayang.... Kita ini keluarga. Nggak perlu sungkan! Ko... anterin Fiah pulang dulu!"
"Nggak perlu ma, Fiah pulang sendiri saja!" Katanya merasa canggung jika harus satu mobil dengan Basofi lagi.
"Kamu beneran sendiriankan Fi?" Tanya maminya seakan tak percaya pada putrinya.
"Iya mi... Fiah pulang dulu ya mi..."
__ADS_1
Maminya mengangguk kemudian menatap Basofi yang sedari tadi duduk diam tanpa ikut dalam percakapan. Sebenarnya wanita itu berharap Basofi mau mengantarkan Sofiyah dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama karena menurutnya keduanya sedang ada masalah.
Setelah Sofiyah menutup pintu, mamanya Babas mau bicara tapi Basofi beranjak dari duduknya sehingga membuat sang mama kemudian mengatupkan bibirnya kembali karena tahu putranya mau mengejar calon menantunya seperti yang diharapkannya.
Kedua wanita itu menghela nafas bersamaan.
"Kalau memang Sofiyah menjalin hubungan dengan pria tadi saya pribadi tidak keberatan. Yang penting dia bahagia, karena saya tahu betul putra saya memang bukan lelaki yang baik"
"Bukan begitu jeng. Cuma Koko yang paling baik untuk Nonik. Tolong maafkan dia yang masih labil itu. Usianya masih terlalu muda jeng!" Kata mama Sora merasa tidak enak hati karena kelakuan putrinya tadi.
Di luar, Basofi yang sudah mensejajari langkah kaki Sofiyah yang pendek kemudian memberikan kunci mobilnya pada gadis mungil di sampingnya.
Sofiyah melihat wajah Basofi sebentar kemudian mengatakan "Aku naik gocar saja...!"
" Kau ingin pulang dengan lelaki tadi?" Basofi menghentikan jalannya dan menatap tajam gadis kecil yang kini sedang berjalan memunggunginya.
Fiah mendengus kesal karena perkataan bos nya yang selalu menyakitkan. Dia pun segera berbalik dan menyambar kunci mobil lelaki yang dijodohkan dengannya itu.
__ADS_1
Fiah pun segera menuju parkiran meninggalkan Babas yang diam di tempatnya tadi.
Belum pernah hatinya semelow ini, rasanya ia ingin menangis karena gadis yang sudah mengaduk-aduk hatinya itu tak mengerti perasaannya dan menganggapnya seperti pengacau dan pengganggu.
Kalau cinta itu menyakitkan kenapa masih saja orang-orang itu rela menderita seperti ini. Sakit sekali rasanya. Basofi memukul dadanya karena seperti ada palu godam yang mengajantamnya.
"Aya...." Ia menghela nafasnya panjang kemudian mengusap ujung matanya yang tertimbun air.
"Aku ini lelaki sejati, tidak boleh menangis!" katanya sambil berjalan menuju keluar.
"Kenapa cinta itu menyakitkan sekali?" Dia masih memukuli dadanya yang terasa perih.
Ternyata Babas sudah menunggu Sofiyah di gerbang rumah sakit dan menghadang mobil yang dikendarai sekretarisnya itu.
Begitu mobil berhenti Basofi segera masuk di kursi depan di sebelah pengemudi. Dia membiarkan Sofiyah yang mengemudikannya karena dia sama sekali tak punya tenaga. Ia hanya ingin menemani Aya tanpa mengajak nya berbicara sehingga saat berada di dalam mobil suasananya sangat hening. Basofi melihat ke samping jendela tak menoleh sedikitpun pada Sofiyah.
Sofiyah mengemudikan mobil dengan baik berusaha fokus ke depan ke arah jalan. Sungguh dia tidak suka di diamkan Basofi seperti ini. Lebih baik dia marah-marah dan bicara tidak jelas daripada diam seperti sekarang ini.
__ADS_1
Up dikit aja ya, insya Alloh nanti malam lagi.
See you