Kamu Bukan Yg Pertama

Kamu Bukan Yg Pertama
kalah sebelum berperang


__ADS_3

Setelah drama berganti baju berkali-kali dan mengaca aku meyakinkan diriku jika penampilanku saat ini cukup bagus dan pantas untuk bertemu dengan orang-orang dari kalangan atas.


Menggunakan dalaman putih dan rok plisket serta outer hitam selutut. Berbalut jilbab hitam yang ujungnya kutarik ke samping kanan dan kusematkan bros kecil disana.


Kupoles bibirku dengan lip balm agar tampak cerah dan aku tersenyum pada cermin melihat penampilanku sendiri. Ku rasa ini penampilan terbaikku. Aku tidak tahu apakah dia juga akan merasakan sepertiku, grogi seperti ini?


Entahlah.... padahal kami belum pernah sekalipun bertemu. Tidak tahu juga kenapa aku gugup sekali. Seperti akan di pertemukan dengan calon suami saja.


Eh.... memang benar demikian kan? kenapa jadi oon ya...


Huft... semoga semua berjalan baik dan sesuai keinginan para orang tua dan kami bisa menjalaninya dengan bahagia.


Mobil jemputan kami tiba pukul setengah delapan dan tanpa menunggu lama kami pun segera masuk ke dalamnya.


Mami dan papi duduk dibelakang sedangkan aku di bangku depan di sebelah supir. Papi dan mami tampak elegan. Iya mereka menyisakan satu setel baju yang bermerek yang pantas untuk acara-acara yang semacam ini. Baju yang lainnya tentu sudah di jual untuk berbagai keperluan kami.


Di dalam mobil aku duduk tak tenang, gugup sekali. Berkali-kali bergerak untuk mencari posisi duduk yang paling nyaman.


"Duduk yang tenang nik...!! Semua akan baik-baik saja!" Kata papi.


"Iya pi. Maaf pak...!" kataku kemudian pada sopir yang dari tadi melihat tingkahku, pasti dia risih.


Beberapa menit kemudian mobil yang kami tumpangi berhenti di halaman yang luas penuh bunga-bunga setelah sebelumnya kami melewati pintu gerbangnya. Rumahnya tampak megah dengan gaya hunian klasik international. Hampir mirip dengan rumah kami dulu.


Begitu papi dan mami turun hatiku langsung berdegup kencang. Segala pikiran ku berkecamuk. Rasanya belum terlalu rela untuk melepas masa mudaku begitu cepat tapi. Ah.... kenapa gugup sekali sih.... Gimana kalau dia jelek dan gendut? Lagi pula kami tidak di suruh menikah dalam waktu dekat kan?


'uwwa...... Kenapa pikiranku jadi seperti ini, calm down, tenang, jadi anak manis....!!'


Ku tarik nafasku sekuat mungkin kemudian ku hembuskan perlahan-lahan.


Papi dan mami pun terlihat sedikit gugup, keduanya seperti saling menguatkan dengan saling bergenggaman tangan. Bagaimanapun, keadaan kami yang berbeda sekarang, membuat kami kurang nyaman.


Kami berjalan ke tempat yang diarahkan oleh pak supir menuju ruang tamu keluarga Adi jaya. Ternyata Bu Rosi sudah menunggu kami. Beliau menyambut kami dengan riang nya. Tampak sekali kalau Calon mertuaku itu orang yang supel, ramah dan mudah bergaul.


Aku mengitarkan pandangan pada ruang tamu yang luas dengan atap yang tinggi ini. Desain nya klasik dan mewah. Cukup memanjakan mata.


"Ayo silahkan duduk semuanya. Jangan sungkan ya, anggap saja di rumah sendiri..." Kata Bu Rosi menyambut kami.


Tak lama kemudian pak Adi jaya pun keluar dan dibelakangnya sosok pria yang tinggi mengikutinya, berjalan dengan tegap dengan memakai kemeja lengan pendek dan celana bahan, menunjukkan kesan tidak terlalu formal.


"Ini Basofi pak Bas...." Kata pak Adi memperkenalkan putranya pada papi.

__ADS_1


Tampan, wajahnya putih tapi matanya lebar tak sipit seperti ku.


"Ah yaa.... ternyata sudah besar dan tampan ya. Nama kita pun hampir sama" Kata Papi kemudian bersalaman dengannya. Di luar dugaan dia tersenyum kemudian mencium tangan papi dan mami.


"Hahaha.... iya kenapa bisa kebetulan seperti ini ya? Benar-benar jodoh ini....." Kata pak Adi yang disambut tawa oleh kami semua.


Aku terkesima dan memandangnya sesaat tanpa berkedip. Ini diluar ekspektasiku. Wajahnya tampan, ramah dan menghormati orang tua. Hatiku jadi melayang di buatnya.


Aku tersenyum saat dia menatapku dan diapun membalasnya. Hatiku berbunga-bunga. Pucuk dicinta ulam pun tiba, batinku.


Tiba-tiba saja kata-kata ci siska berkelebatan di kepala ku. Benarkah dia player? Jika melihatnya wajahnya rasanya itu tidak mungkin tapi jika apa yang dikatakan oleh mantan bos ku itu benar semoga saja itu adalah masa lalunya dan sekarang dia sudah bertobat.


"Bas....!! Ajak calon istrimu jalan-jalan dulu. Biar yang tua-tua ini reunian dulu.... Iya kan jeng?" Kata mama Ros pada mami. Mami hanya tersenyum dan mereka semua melihat ke arah kami berdua dengan tatapan bahagia dan penuh pengharapan.


Saat dia berjalan mendekatiku hatiku dag dig dug tidak karuan. Rasanya seperti melayang di awan. Lihat saja gaya jalannya yang mengagumkan. Di tambah lagi dengan perawakannya yang tinggi dan wajah yang tampan. Siapa yang tidak akan terpesona dan tertawan?


"Ayo.... kita ke taman!" Katanya dengan nada riang dan ramah. Aku pun mengikutinya dengan hati yang berdegup kencang, sangat senang. Aku mencoba bersikap tenang meski sedang grogi setengah mati.


Kami berjalan bersisian meski kakinya yang jenjang bisa melangkah lebih lebar dan panjang tapi ia mencoba menyesuaikan langkahnya dengan langkah kakiku yang pendek.


Ia memasukkan kedua tangannya di dalam saku celana dan menapaki jalan setapak di dalam area taman dan aku hanya mengikutinya saja. Sebenarnya ingin sekali memulai percakapan tapi mulutku seakan terkunci dan tak berani memulai. Daripada salah kata lebih baik aku diam dan menikmati debaran jantung yang masih bertalu-talu, kikuk dan tak tahu harus berbuat apa.


Mungkin dari jauh orang tua kami melihat kami dan mengira jika kami bisa saling menerima dan bisa melanjutkan perjodohan ini dengan tanpa paksaan dan saling suka. Padahal kenyataannya aku seperti orang bodoh yang hanya berjalan mengikutinya.


"Berapa usiamu?" Katanya memecah keheningan dan itu cukup mengagetkanku.


"Eh...iya..itu.... e....18 tahun" Kataku tergagap. Kenapa jadi sulit ngomong ya? Sebenarnya aku ingin bertanya juga, dia usianya berapa tapi aku merasa sungkan dan kembali aku memilih untuk diam.


" Masih sangat kecil ..."Katanya sambil melirikku.


Aku langsung mengalihkan pandanganku saat mata kami bertemu, Aku jadi malu dan salah tingkah. Mungkin mukaku sekarang terlihat merah dan aku berusaha menyembunyikan hal itu dengan berpaling darinya.


"Papa dan mama memaksaku untuk menerima perjodohan ini karena merasa berutang budi pada ayah kamu. Aku tidak bisa menolaknya karena mereka mengancam akan mengeluarkanku dari kartu keluarga jika aku tak mau menurutinya". Ia menghela nafasnya dengan berat.


Deg!!!!


Aku seakan meluncur dari ketinggian setelah berangan-angan di atas awan tapi ternyata kenyataannya tak sesuai dengan harapan. Itu terdengar seperti dia menolakku dan tidak menyukaiku.


"Aku yakin kamu juga sependapat denganku. Usiamu masih sangat kecil dan pasti kamu punya banyak cita-cita. Kamu pasti juga sudah punya pacar " Kata-katanya tegas, wajahnya serius tak ada nada bercanda di sana.


Hancur sudah hatiku. Luluh lantak menjadi berkeping-keping. Aku menarik kedua sudut bibirku agar terlihat tersenyum untuk menutupi kegetiran dalam hati. Sebisa mungkin aku tak boleh menangis di depannya dan bersikap biasa-biasa saja.

__ADS_1


Belum selesai aku berdamai dengan keadaan terdengar bunyi ringtone dari hape nya dan dia segera menggeser ikon hijau di layar nya. Ternyata panggilan video call. Dia pun mengarahkan hapenya di depan wajahnya.


"Baby...... " Terdengar suara perempuan dengan suara mendayu-dayu.


"Kenapa?" Jawabnya singkat dengan nada yang lembut.


" I miss you baby.... kapan kita bisa ketemu?" suaranya manja dan logatnya terdengar seperti bule.


Meski penasaran dengan wajahnya tapi aku berpura-pura tak menghiraukan mereka. Kalau tak ingat ada orang tua kami aku pasti sudah pergi dari sini. Aku mau menangis sepuasnya. Belum juga apa-apa tapi ternyata aku sudah kalah sebelum berperang.


Aku mengeluarkan hape cina ku untuk mengalihkan perhatian. Entah bagaimana perasaannya saat dia melihat hapeku, aku tak perduli. Aku nggak mau jaim lagi di depannya. Aku akan menunjukkan keadaanku yang sebenarnya dan bersikap apa adanya.


Diantara rasa sedihku, egoku ikut melambung di dada. Jika dia bisa seperti tidak menganggapku ada maka aku pun juga harus bisa.


"Berapa nomer kamu?" Tanyanya setelah mereka saling berjanji untuk ketemu esok hari dan mengucapkan salam dengan bilang i love you dan see you.


"Eh..." Aku pura-pura kaget meski dari tadi berusaha fokus pada hape ku nyatanya aku tidak bisa. Justru aku mendengar perbincangan mereka dengan jelas. Dari tadi aku hanya menggeser layar hape ku ke atas dan ke bawah saja.


"Kenapa?" Tanyaku dengan bodohnya.


"Biar kita membuat strategi kalau orang tua kita merencanakan sesuatu untuk kita..."


oh begitu...., batinku


Aku menyebutkan sejumlah angka dan dia mengetiknya di hapenya. Aku sedikit penasaran dia menyimpan nomer kontakku dengan nama apa.


"Aku harap kamu bisa berpura-pura di depan mereka dan aku akan mengulur waktu pertunangan kita sampai mereka lupa dan kita bisa menjelaskan pada mereka kalau ternyata kita tidak cocok. Kita akan membuat alasan butuh waktu untuk saling mengenal. Selama itu kamu bebas melakukan apa saja dengan siapa saja begitupun sebaliknya. Kita tidak saling terikat tapi kita berserikat..."Dia sedikit menoleh ke arahku.


"Berapa bulan?" Kataku acuh tak acuh untuk menyeimbangkan obrolan agar terlihat jika kami punya pikiran yang sama meski hatiku meronta.


"Mungkin setahun....." Katanya enteng.


"Ok deal..." Kataku mantap lebih tepatnya agar terlihat punya harga diri.


Dia memandangku yang masih memainkan hape.


"Kenapa?" Seakan menantangnya aku menatap matanya yang tajam dengan penuh percaya diri.


" Ok deal..!! kita hanya bersandiwara di depan mereka" Katanya. Seperti ada sedikit kekecewaan pada suaranya. Atau mungkin itu hanya perasaanku saja.


"Mama pasti punya banyak rencana. Kamu siap-siap saja!" Lanjutnya.

__ADS_1


"Ok...." kataku Sambil mengangguk tanpa memandangnya.


Ok aku pasti bisa melewati semuanya dengan tersenyum ceria dan akan ku buktikan jika aku bisa tertawa bahagia.


__ADS_2