
"Saat pertama kali papi berterus terang kalau sudah masuk islam, Nai nai awalnya tidak menerima tapi Ye ye dengan tangan terbuka mengatakan pada papi, kalau itu sudah jadi pilihanmu lakukan dengan benar. Jangan setengah-setengah! Mama mu hanya kaget saja sebentar lagi juga akan biasa.
Dan memang benar tak lama setelah itu Nai nai mulai mau bicara lagi dengan papi bahkan menyediakan makanan khusus untuk papi, makanan halal dengan membeli di restoran yang berlabel halal.
Mungkin memang karena papi dan mami berjodoh ternyata Nai nai belinya di restonya mbah kakung. Beberapa kali memang mami bertemu dengan Nai nai saat membeli makanan tapi mami tidak tahu kalau itu ibunya papi.
Sampai beberapa bulan setelah mami dan papi semakin dekat, papimu itu mau mengenalkan mami dengan kedua orangtuanya. kemudian papi membawa mami ke rumahnya. Awalnya mami takut karena ternyata rumahnya sangat besar dan bagus tapi papi bisa meyakinkan mami bahwa kedua orang tuanya itu orang-orang yang terbuka dan tidak memaksakan kehendak mereka pada anak-anaknya.
Dan saat mami bertemu dengan Nai nai beliau langsung mengenali mami apalagi mami juga membawa oleh-oleh makanan khas restoran mbah kakung. Nai nai sangat antusias dan seperti orang-orang lainnya mereka juga mengira kalau mami ini orang keturunan tionghoa sama seperti mereka.
Papi kemudian bercerita kalau mami ini cucunya orang yang punya Paradise restaurant. Nai nai tampak senang mendengarnya kemudian bertanya pada mami apakah mami juga bisa memasak aneka menu yang ada di restoran atau tidak.
Alhamdulillah nya mami bisa memasak semua menu yang ada di resto. saat Nai nai menguji mami untuk memasak secara langsung di dapurnya mami memasak menu spesial yang bisa mami masak dengan sempurna, menu andalan mami bakmi tiantang.
Setelah itu semua berjalan lancar, yeye dan nainai bisa menerima mami dengan baik dan papi juga mendapatkan bagian harta dari yeye yang kemudian dipakai papi untuk berbisnis sendiri mencoba peruntungan.
Sayangnya saat kami berada di atas kami lupa daratan dan melupakan Tuhan. Sampai akhirnya Dia memberi kita peringatan dengan menghancurkan seluruh bisnis papi dan kekayaan kita hingga habis tak bersisa.
Kalau di pikir-pikir lagi meskipun jatuh bangun ekonomi kita tapi mami dan papi tidak pernah berpisah. Keluarga juga tidak pernah menghalangi kami untuk bersama. Mereka hanya tidak mau membantu saat kita susah. Itu saja. Kami masih bisa saling bersandar kemudian memperbaiki diri bersama.
Sedangkan bu Rosi hidupnya selalu berkecukupan tapi keluarga suaminya tidak menerimanya sebagai menantu bahkan anaknya sendiri tidak bisa diakui sebagai anaknya.
__ADS_1
Sofiyah anakku, semua orang yang hidup di dunia ini pasti di uji entah itu tentang pasangan, anak, ekonomi atau yang lainnya. Jika kau bimbang nanti nak, kembalilah pada Alloh. Tundukkan kepalamu, bersujudlah pada Nya dan mintalah petunjuk dari Nya. Dia pasti akan membimbingmu!" Sang mami menggenggam erat tangan putrinya.
"Iya mi..." Kata Sofiyah sambil memeluk satu-satunya orang tua yang masih di milikinya. Ia tak punya firasat apa-apa mengira maminya hanya sedang merindukan kehadiran sang papi.
Jadi mama Rosi bohong padaku? Bukankah waktu itu mama bilang kalau setelah menikah dengan papa, papa dikeluarkan dari keluarga dan hidup menderita. Terus ditolong sama papi. Kenapa mama Rosi sampai bohong padaku hanya untuk menolongku. Batin Sofiyah.
.
.
.
.
Saat di mobil keduanya tak saling bicara mereka sama-sama mengantuk. Semalaman Basofi merenungi nasibnya sampai beberapa kali air mata lolos di pipinya. Meratapi nasib dan memaki-maki papanya yang tak punya pendirian juga mamanya yang bodoh karena masih saja mau bersama papanya meski tidak pernah sekalipun di anggap menantu oleh keluarga kakeknya.
Basofi menarik nafasnya kuat-kuat karena pikirannya masih saja berkutat seputar papa dan mamanya.
Gadis yang duduk di sampingnya bertingkah tak seperti biasanya, dia beberapa kali menguap dan beberapa menit kemudian dia tertidur dengan kepala yang berkali-kali membentur jendela.
Lelaki tampan itu melirik Sofiyah memastikan gadis itu benar-benar terlelap kemudian menepikan mobilnya. Ia mengambil bantal leher yang ada di jok belakang dan dengan perlahan-lahan memasangnya di leher Sofiyah.
__ADS_1
Si mungil itu bahkan tak terusik tidurnya saat tangan Basuki memegang kepalanya. Ia tampak sedang bermimpi indah sekali.
Lelaki mata keranjang itu memandang gadis kecil yang di jodohkan dengannya. Tak ada yang istimewa, batinnya. Bibirnya kecil, hidungnya mungil, alis matanya biasa saja dan mata sipit yang paling dia benci di dunia karena mengingatkan dirinya pada mata sang papa yang sudah tega mengkhianati sang mama. Tapi anehnya sekarang dia sangat menyukainya, semua yang ada pada Sofiyah padahal gadis itu sekarang sudah tidak pernah memakai make up lagi.
Matanya memindai bagian tubuh Sofiyah yang lain. Dadanya sepertinya kecil sekali. Mata julidnya tidak bisa mengamati dengan jelas karena dada Sofiyah tertutup kerudung.
"Uwaaahhhh...." Basofi menguap juga akhirnya. Matanya rasanya berat dan meminta jatah untuk beristirahat tapi dia memaksakan diri dengan menjalankan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata meski lalu lintas nampak padat merayap.
Akhirnya mereka sampai di pintu gerbang perusahaan. Jika biasanya mereka akan berhenti di lobi dan meminta salah satu security untuk menaruh mobilnya di tempat parkir kali ini Basuki membawa mobilnya ke tempat parkiran karena Sofiyah belum menampakkan tanda-tanda akan segera bangun. Nyenyak sekali tidurnya.
Setelah mesin di matikan Basofi tidak langsung keluar dan membangunkan Sofiyah. Dia malah memandanginya lagi. Lelaki yang hampir berumur tiga puluhan itu menatap bibir Sofiyah yang alami tanpa polesan sama sekali. Ia merasa penasaran bagaimana rasanya berciuman dengan gadis kecil dan galak ini.
Tanpa sadar jari-jarinya menyentuh bibir Sofiyah dan membuat gadis itu kaget dan langsung terbangun dari tidurnya. Aya kemudian menyentuh bibirnya sendiri karena barusan ia merasa ada yang menyentuh bibirnya, tangannya terasa lembut sekali.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Kau bermimpi sedang menciumku? Heh.., jangan harap...!" Katanya pedas kemudian segera keluar dari mobil dan menutupnya hingga berdebum sangat keras.
Sofiyah berkomat kamit merutuki Basofi.
"Babas gila!! Eh.... Maksudku si Basofi ya Alloh" Katanya meralat. Nama ayahnya adalah Basuki otomatis kalau dia meneriaki Basofi Babas, bukankah itu seperti mengolok-olok nama ayahnya sendiri.
Kalau mengatai Basofi dengan nama belakangnya ' Sofi ' bukankah itu namanya sendiri. Itu juga akan terlihat lebih aneh lagi karena di seperti mengolok-olok dirinya sendiri.
__ADS_1
Maka kalau mau mengatai-ngatai lelaki itu dia harus menyebut nama lengkapnya.
Sofiyah segera turun dari mobil dan belum sadar jika ada bantal di lehernya. Kesadarannya sepertinya belum kembali sepenuhnya. Ia melenggang masuk ke dalam kantor dengan santainya.