
"Nona Sofiyah?" Mikail bertanya pada gadis yang saat ini ada didepannya.
"Iya benar..." Jawab sofiyah sambil tersenyum.
"Silahkan duduk dulu! Pak Direktur meminta anda untuk menunggunya sebentar karena masih ada yang harus beliau kerjakan"
Mikail memperhatikan calon sekretaris bosnya. Ia sedikit merasa heran karena selama mengikuti Basofi belum pernah sekalipun bos nya itu memiliki sekretaris berpenampilan tertutup seperti itu. Apalagi terlihat sekali ia keturunan tionghoa, matanya, kulitnya, cara bicaranya.
"Iya baik. terima kasih pak"
" Saya Mikail. Asisten pak Basofi" Mikail menyodorkan tangannya mengajak Sofiyah bersalaman. Ia merasa senang karena sepertinya gadis bermata sipit itu sangat periang dan mudah bergaul.
"Sofiyah. Biasanya dipanggil Fia" Sofiyah menjabat tangan Mikail karena merasa tidak enak jika menolaknya.
"Kalau aku panggil Sofi aja gimana?" Tampak sekali kalau Mikail berusaha menggoda Sofiyah dengan gayanya.
"Sofiyah bukan Sofi aja..." Kata Sofiyah membalas mengerjai Mikail yang langsung mengerucutkan bibirnya.
" Maksudnya aku panggil kamu Sofi bukan Fia...." Pria yang memakai pakaian formal itu terlihat lucu karena terlihat sekali kalau mukanya sedang merajuk.
Sofiyah tersenyum tak menolak atau mengiyakan sambil berjalan menuju sofa yang ditunjukkan Mikail tadi.
Seperti terkena daya tarik yang kuat dari Sofiyah, Mikail membuntuti gadis mungil berkerudung itu. Saat Sofiyah duduk ia pun ikut mendaratkan bokongnya di dekat Sofiyah.
"ehm ehm...." Terdengar deheman sangat keras yang membuat Mikail dan Sofiyah terjengit kaget.
Mikail langsung berdiri ketika mendapati sang direktur sudah berdiri bersedekap menatapnya dengan tajam.
"Kau tidak punya pekerjaan Mek? Sampai punya waktu untuk menggoda seorang gadis?"
Mikail tahu jika bosnya sedang marah dan ia tak ingin mendapatkan getahnya dengan berbagai hal gila yang akan didapatkannya sebagai pelampiasan kekesalan sang bos.
"Maaf pak! Pekerjaan saya sangat banyak. Saya akan kembali bekerja!" Ia menundukkan kepalanya lalu segera berjalan menuju mejanya yang tak jauh dari situ.
__ADS_1
Sofiyah yang sekarang sudah berdiri menghadap ke arah Basofi menatap wajah tampannya dan ternyata Basofi juga sedang melihatnya. Jadilah Sofiyah mengalihkan matanya memandang ke arah bawah karena malu ketahuan sedang melihatnya meski hanya sekilas.
Meski ia sudah memperingatkan hatinya agar tak tergoda dengan pesona calon suaminya tetapi saat mata mereka bertatapan ada rasa canggung dan hatinya tak bisa bohong. Ia mengakui calon suaminya adalah pria yang tampan dan sangat menarik tapi sayangnya bad boy, playboy. Sepertinya semua julukan jelek memang pantas disematkan untuk nya.
Melihat reaksi Sofiyah saat mata mereka tak sengaja saling bertatapan dan langsung mengalihkan perhatiannya melihat ke bawah, Basofi malah ingin menyiksanya dengan tetap menatapnya. Ia ingin tahu bagaimana reaksi Sofiyah selanjutnya.
Tidak sampai lima menit Basofi yang menatap Sofiyah kemudian menyudahi permainan nya sendiri karena Sofiyah tak bereaksi. Dia hanya melihat ke sekelilingnya tanpa melihat ke arah Basofi. Ia pun tak mengeluarkan suara apapun. Padahal Basofi ingin Sofiyah yang memulai percakapan. Seperti , apa kita sudah bisa mulai bekerja pak, atau pertanyaan remeh lainnya. Tapi nyatanya Sofiyah tak membuka mulutnya sama sekali.
"Ikut aku!!" Suara berat Basofi memecah suasana hening yang mereka ciptakan. Bahkan Mikail yang berada di sekitar mereka pun tak berani menimbulkan suara sedikitpun. Ia hanya mencoba mengamati diam-diam interaksi bos gilanya dan calon sekretaris barunya.
Sofiyah mengikuti langkah Basofi sampai mereka masuk ke ruangan pribadinya.
Basofi langsung duduk di kursi kebesarannya sambil menggoyangkan nya ke kiri dan ke kanan menunjukkan kekuasaannya. Sedangkan Sofiyah berdiri di depan meja tanpa menatap Basofi. Dia hanya melihat berkas-berkas yang ada di atas meja direktur itu tanpa mengeluarkan suara.
Karena Sofiyah masih enggan mengeluarkan suaranya terlebih dahulu maka mau tak mau Basofi mengalah untuk memulai percakapan terlebih dahulu.
Sebenarnya Sofiyah merasa tidak nyaman terlalu lama berduaan dengan Basofi dengan saling diam seperti itu. Tapi dia mempertahankan egonya dengan tetap diam. Dia ingin menegaskan pada calon suaminya itu jika dirinya juga terpaksa harus berinteraksi dengannya. Sofiyah sebenarnya juga takut jika semakin sering melihat pria itu semakin tidak baik untuk hati dan jiwanya.
" Mulai jadwalkan kegiatan ku dan bacakan setiap pagi apa saja kegiatan ku hari itu. Dan ingatkan aku lagi minimal setengah jam sebelum ada meeting atau rapat penting saat aku lupa waktu. Salin semuanya!" Basofi memberikan buku notes yang cukup tebal pada Sofiyah.
"Periksa semua file-file ini dengan teliti dan bawa kembali kemari mana yang harus kutandatangani!" Basofi menepuk-nepuk tumpukan map yang ada di mejanya.
" Pastikan ruanganku bersih sebelum aku datang! Yang lainnya kau bisa menanyakannya pada Mikail!" Kata Basofi sambil mengibaskan telapak tangannya mengisyaratkan Sofiyah agar segera keluar dari ruangannya.
Sofiyah paham hal itu meski merasa agak sakit hati diperlakukan seperti itu tapi dia berusaha tetap profesional dengan menundukkan kepalanya sebentar sebagai penghormatan dan minta izin keluar kepada sang atasan.
Saat Sofiyah sedang memegang gagang pintu hendak keluar ruangan, Basofi bersuara lagi.
Dia benar-benar ingin mendengar suara Sofiyah. Entah dengan nada ketus atau marah sekalipun tidak masalah asalkan dia bersuara dan membuka mulutnya. Itu lebih baik daripada melihat Sofiyah yang berada di depannya tapi tak mengeluarkan suara sama sekali.
"Tunggu!!"
Sofiyah menoleh dan kembali menghadapkan badannya pada Basofi. Kali ini ia menatap Basofi dengan berani. Yakin bahwa hatinya tak akan tertarik dengan pria aneh macam Basofi.
__ADS_1
"Bekerjalah secara profesional! Jangan menyebarkan gosip murahan di perusahaan!" Basofi berkata dengan nada arogannya.
" Sorry sir... I baru hari ini bekerja di perusahaan ini. Gosip murahan yang seperti apa yang anda maksud?" Tanya Sofiyah tanpa mengalihkan pandangan matanya. Meski hatinya sudah dag dig dug tak karuan tapi dia tak mau kalah dari Basofi. Seperti Basofi yang terlihat sama sekali tidak tertarik dengan keberadaannya, Sofiyah pun mencobanya. Kalau Basofi bisa maka dia pun bertekad tidak akan tertarik lagi pada pesonanya. Masih banyak pria lain yang lebih ok dan mau mendekatinya.
So..., its no problem, batin Sofiyah.
"Aku tidak ingin mendengar gosip tentang kita. Jadi jangan sampai ada yang tahu tentang hubungan kita". Basofi sangat percaya diri saat mengatakannya.
"Hubungan? I am single, I am free. I dont have any relation for now. You and me? no..... kita tidak punya hubungan apapun kecuali atasan dan bawahan. Hanya itu. So.... dont worry sir!"
Basofi merasa Sofiyah membalikkan kata-katanya dengan tepat dan ia kalah telak.
Sofiyah sudah berbalik badan dan hendak meninggalkan ruangan tapi lagi-lagi Basofi masih ingin melanjutkan obrolannya dan masih ingin mendengarkan suara sofiyah lagi dan lagi.
"Satu lagi!" Kata Basofi membuat gadis itu mengeratkan gerahamnya dan dengan terpaksa menghadap ke arah atasannya itu sambil menarik kedua sudut bibirnya agar bisa menampilkan senyumannya.
Dalam hati Basofi bersorak senang karena bisa melihat senyuman Sofiyah meski itu terpaksa.
"Biasakan berbahasa formal!! Jangan pakai I you I you!!"
"Ok fine." jawab Sofiyah singkat
"Kamu mengerti?" Basofi menekan kata-katanya agar Sofiyah menjawab lebih jelas lagi.
"Saya mengerti pak!" Sofiyah ikut menekan suaranya meski di akhir kalimatnya ia memberikan senyuman yang lebih terlihat seperti seringai.
"Good..."
"Ada lagi pak?" Tanya Sofiyah lebih lembut.
"No! kamu bisa keluar!" Kata Basofi sambil menatap layar laptop yang ada di mejanya.
Sofiyah pun keluar dengan hati riang campur kesal. Ia senang sudah tidak lagi bertatapan dengan Basofi tapi ia juga merasa kesal dengan sikap Basofi barusan.
__ADS_1
"Kekanakan!" Katanya sambil berlalu dari pintu.