
"Mi.... Nonik pamit mau ketemu sama temen Nonik...." Fiah mencium punggung tangan maminya yang sedang tiduran.
"Teman siapa Nik?" Maminya tahu betul setelah mereka bangkrut putrinya itu menjauh dari semua temannya yang semuanya anak-anak orang kaya raya di kota tempat tinggalnya. Dan hanya keluarga Basofi saja yang ia tahu dekat dengan putrinya.
" Temen bakery mi...." Sofiyah berbohong agar maminya tak berpikir macam-macam.
" Ooh.... ya sudah kamu hati-hati!"
"Mami nggak papa kan ku tinggal sendiri?" Tanya Sofiyah karena sedari tadi maminya hanya rebahan saja di atas tempat tidurnya.
"Jangan lama-lama ya! Pulang jam berapa kira-kira?"
"Belum tahu pulangnya jam berapa. Nggak lama kok mi...." Kata Sofiyah meyakinkan maminya kemudian segera pergi untuk bertemu dengan Rayhan di cafe seperti janji mereka.
.
.
.
"Sof....!"
"Kak Rey...."
Raihan menarik kursi dan mempersilahkan Sofiyah duduk.
" I nggak terlambat kan?" Tanya Sofiyah merasa tak enak hati karena Rayhan sepertinya sudah menunggunya lama. Terbukti dari minumannya yang tinggal sedikit.
"No. But I am soo excited. Jadi I datang lebih awal...." Katanya sambil menyunggingkan senyuman.
Sofiyah duduk dan bingung mau ngomong apa. Sejujurnya dia nervous sekali karena hal ini mengingatkannya pada masa lalu saat mereka bersama. Masa-masa indah mereka berdua.
"Sof.... you.... cantik sekali" Ia menekan tiap katanya.
"Thank you...." Jawab Sofiyah malu-malu dengan semburat kemerahan di pipinya.
Rayhan memandang gadis itu berlama-lama karena dia merasa Sofiyah adalah gadis yang paling spesial dalam hidupnya. Sebagai pemain basket dengan posturnya yang tinggi itu, dia selalu membuat kaum hawa tertarik untuk mendekatinya tapi beberapa kali dia mencoba berhubungan dengan beberapa gadis tapi kandas begitu saja. Bahkan paling lama hanya satu bulan setengah saja.
Dan selayaknya kehidupan di luar negeri yang menganut azas kebebasan seperti itulah kehidupan Rayhan di sana. Sebelas dua belas dengan Basofi.
"Sof....."
__ADS_1
"Iya..."
" I minta maaf untuk waktu itu. I betul-betul khilaf. Do You know, I selalu mikirin you. Tak ada hari tanpa you in my mind. I tak bisa melupakan you" Ia menjeda kalimat nya sebentar.
"Do you believe me Sofiyah?" Tanya Rayhan dengan pandangan sayunya membuat Sofiyah dengan mudah mempercayainya.
Sofiyah menganggukkan kepalanya dan percaya sepenuhnya pada Rayhan membuat lelaki jangkung itu mengulas senyum. Ia gemas pada Sofiyah karena begitu mudahnya percaya kepadanya meskipun sekarang dia sudah berhijab. Rasanya ingin sekali ia memegang tangan gadis itu tapi ditahannya dulu. Bukankah untuk mendapatkan tangkapan yang besar seseorang itu harus sedikit bersabar?
Keduanya kemudian makan dengan lahap sambil sesekali mencuri pandang satu sama lain kemudian saling melempar senyuman manisnya.
Rayhan suka gadis pemalu seperti Sofiyah yang harus di bujuk dan dirayu terlebih dahulu agar mau tidur dengannya. Ada tantangan tersendiri untuknya. Tidak seperti gadis lain yang malah datang dengan sukarela dan tanpa tahu malu malah menawarkan diri padanya meskipun dia juga tidak menolaknya tapi menurutnya itu hanya untuk bersenang-senang saja. Ada ikan mana mungkin kucing akan menolaknya.
Sofiyah spesial untuk Rayhan juga karena gadis itu adalah orang pertama yang merasakan keperjakaannya.
" Kak Rey, apa tidak ada yang jeolus kalau kita berduaan seperti ini?" Tanya Sofiyah sambil mengaduk minumannya.
"Nope " Jawab Rayhan tanpa melihat mata Sofiyah.
"Do you have girlfriend?"
"No, because I still remember you"
" Gombal " Kata Sofiyah dengan wajah yang bersemu.
Sofiyah merasa terbang di atas awan mendapat sanjungan seperti demikian. Tidak seperti hari-harinya saat bersama Basofi, hanya kata-kata yang menyakitkan yang keluar dari mulut si playboy yang mulai insyaf itu dan sayangnya Sofiyah tidak menyadari akan hal itu.
" Mau jalan-jalan?" Tanya Rayhan penuh penghayatan.
"Kemana?" Tanya Sofiyah agak bimbang karena dia sudah berjanji pada maminya tidak akan pergi lama-lama dan tadi dia juga terpaksa berbohong pada maminya.
" Kemana saja. I mau menghabiskan waktu selama di sini bersama you. Actually I pingin tunangan dulu sama you so saat I berangkat ke luar negeri lagi Kita sudah bertunangan and I tak perlu takut kehilangan You lagi"
"I am sorry kak Rey, but now I belum bisa ngomong with my mom" Kata sofiyah merasa tak enak hati.
" Ok. No problem. But yo have give me something...."
" What do you mean?" Sofiyah agak merasa panik dengan Kata-kata Rayhan dan itu membuatnya agak takut.
"Your time. Mau kan jalan-jalan sebentar?"
"Oh.... ok. Tapi sebentar ya kak soalnya tadi I promise with mami cuma sebentar aja..."
__ADS_1
"Ok. Sekarang aja yuk....!" Kata Rayhan mulai beranjak berdiri dan membayar makanan mereka berdua tak membiarkan Sofiyah yang membayarnya.
Ternyata Rayhan mengajaknya berkeliling kota naik delman membuat Sofiyah bahagia bukan kepalang. Bahkan saat adzan dhuhur berkumandang ia tidak segera mendatanginya karena asyiknya bercengkerama dengan lelaki yang pandai merayu dan humoris itu.
Saat di jalan Sofiyah melihat seorang ibu yang sedang menyebrang di jalan dan dia langsung teringat maminya. Buru-buru dia menyalakan hape yang tadi sengaja dia matikan karena tidak ingin ada yang mengganggu kebersamaannya dengan lelaki yang sudah menguasai hatinya itu.
Setelah dia melihat hape nya ternyata sudah hampir pukul dua dan dia ingat kalau belum solat Dhuhur. Tidak sampai di situ saja ada beberapa panggilan dari mami juga dari mama, sang calon mertua.
Sofiyah terjengat kaget saat ponselnya berdering dan nama koko terpampang di sana.
"I-iya ko..." Jawabnya seketika karena perasaannya tiba-tiba tak enak.
"Kau dimana??!" Kata Basofi kasar seperti biasanya.
"Di-di di mana ini kak Rey?" Tanya Sofiyah pada Rayhan. Gadis itu menjadi panik karena mendengar suara Basofi. Ia merasa sesuatu telah terjadi.
"Di alun-alun kota..." Jawab Rayhan tenang.
"Di alun-alun ko. Ada apa memangnya Ko?" Tanya Sofiyah.
"Kak Rey stop!! please!" Sofiyah menepuk-nepuk pundak Rayhan meminta agar lelaki itu mau menyuruh kusirnya untuk berhenti.
.
.
.
.
Kalau ada yang bisa bahasa Jawa kalian bisa baca ini
Ini
Ini the real my story jadi nggak ada konflik-konflik nya. Nggak ada yang kutambahi tapi banyak yang aku kurangi karena takut barangkali nanti tokoh-tokoh yang aku ceritakan di dalamnya akan membacanya. Jadi untuk itu aku harus memangkas beberapa cerita yang sebenarnya bagus banget kalau di tulis karena dramanya dapet.
Juga permasalahan rumah tangga tak ku ceritakan di dalamnya. Misalnya tentang orang ketiga yang membuat kami hampir berpisah dan kebiasanku burukku saat aku marah.
Ya masak aib rumah tangga di ceritakan?
__ADS_1
Sebenarnya itu novel sudah tamat tapi aku revisi ulang. Tiap hari aku bisa up karena tinggal edit sedikit-sedikit saja.