
Sudah sekitar dua bulan lebih Aya bekerja bersamaku dan selama itu dia selalu berusaha mengerjakan tugasnya dengan baik dan sempurna. Dia mau belajar dan menerima kritikan meski aku kerap marah dan menyalahkannya di depan banyak orang tapi dia punya hati yang besar dan tetap respect padaku sebagai atasannya. Dan hal itulah yang paling aku benci, saat sebenarnya ia ingin marah tapi justru dia diam saja memendamnya dalam hati.
Dia tak tahu selama aku mengenalnya aku sudah tak pernah melakukan s**s lagi meski gadis-gadis itu kerap datang silih berganti. Saat aku sudah terangsang karena ulahku dengan gadis-gadis itu justru bayangan Aya melintas di kepalaku dan membuyarkan gairahku. Yang semula tegak langsung luruh jatuh kebawah tak bertenaga.
Aku bisa berkilah pada gadis-gadis yang sudah sama terangsangnya seperti diriku itu, memberi alasan pada mereka. Kadang aku bilang tiba-tiba perutku sakit dan langsung lari ke kamar mandi. Tentu saja aku menuntaskannya di sana sambil memandang wajah Aya.
Terkadang aku katakan pada gadis-gadis itu aku belum makan dan lain sebagainya yang ujung-ujungnya ku selesaikan juga di dalam kamar mandi dengan Sofiyah yang kusebut saat aku sampai pada puncaknya. Entahlah aku merasa tidak bisa melakukannya dengan mereka.
Asal kau tahu aku benar-benar gila karenamu Sofiyah...
Meski awalnya aku sama sekali tak tertarik dengannya karena matanya mirip sekali dengan mata papa dan matanya Daniel. Aku benci mata sipit seperti mereka. Tapi entah kenapa dia seperti punya magnet yang membuatku ingin selalu melihatnya dan berada di dekatnya. Hanya saja aku tak bisa mengatakannya dengan baik, justru yang ku lakukan malah sebaliknya. Memarahinya dimana saja saat kami berdua maupun di depan banyak orang sekalipun.
Kini dia tak pernah menelponku lebih dulu saat ada gadis yang mencariku. Dia langsung mempersilahkan mereka masuk ke ruanganku. Aku merasa jengkel kenapa dia tidak cemburu? Tidakkah seharusnya dia datang ke ruanganku dan marah-marah pada gadis yang sedang bersamaku. Apa dia tidak ingin tahu apa yang sedang kulakukan bersama gadis-gadis itu.
Fu*k you Sofiyah....
Seperti saat ini, aku sedang melakukan pekerjaan hina itu. Mencari kesenangan sesaat dengan Dina. Menyenangkan setan dan menggembirakan mereka.
Aku benar-benar kesal dengan Sofiyah karena hari ini dia berangkat bersama Mikail. Dari lantai atas aku melihatnya duduk di belakang Mikail yang mengendarai motornya. Aku yang sudah datang dari pagi karena sangat ingin melihatnya justru disuguhkan hal yang membuatku menggila.
Setelah turun dari motor mereka berjalan beriringan sambil bercanda dan tertawa-tawa. Aya nampak bahagia dan aku tak pernah melihat hal itu saat dia bersamaku.
Kini aku meluapkan emosiku pada gadis yang kini pasrah di bawah kendaliku. Wajahnya sudah merah padam karena hasratnya sudah pada puncaknya. Ingin merasakan kenikmataan yang lebih lagi. Semua sudah terbuka dibagian-bagian itu dan akupun sudah gelap mata seperti biasanya.
Tiba-tiba pintu kaca itu dibuka dan kami berdua tak menyadarinya sampai ada suara,
"Oh my God....!! Anak sialan ini!. Apa yang kau lakukan? Dasar bed*b*h si*a*n!"
Dina langsung duduk dan buru-buru membenarkan pakaiannya yang sudah terbuka di bagian dada dan di antara kedua kakinya. Aku pun segera menarik resleting celana dan membenarkan bajuku.
__ADS_1
"Kau kira perusahaan ini milik ibumu ha? Kurang ajar! Akan ku adukan pada papamu!", kata wanita itu bersungut-sungut mengeluarkan amarahnya.
"Keluar kau wanita murahan...!! Dan jangan pernah datang lagi ke sini!!!!", katanya lagi.
Aku masih mencoba untuk menetralisir deguban jantungku karena hasrat yang belum terpuaskan.
" Bedebah kau si***n! Siapa yang mengajarkanmu hal seperti ini? Aku yakin ibumu tahu tentang semua ini tapi dia diam saja. Kau memang sama bodohnya dengan ibumu!!".
" Jangan membawa-bawa mama ku nyonya!. Katakan untuk apa anda datang kemari?". Aku sudah selesai merapikan pakaianku dan segera berlalu menuju ruang kerjaku.
"Dasar anak kurang ajar!! Kau mau kukeluarkan dari kartu keluarga hah?".
"Silahkan saja! Kita beberkan semuanya di depan media! Aku tidak akan rugi apa-apa". Aku juga sudah muak dengan semua ini, batinku kesal.
" Kenapa kau menolak kerja sama dengan keluargaku?",dia mengambil map dan melemparkannya di mukaku.
"Mereka tidak memaparkan keuangan mereka dengan transparan, tidak masuk akal dan mereka tidak memenuhi kualifikasi standart perusahaan. Tentu saja kami tidak bisa bekerja sama dengan standar kekeluargaan".
"Si-"lah-kan!!". Kataku menantangnya.
Pintu kaca itu ditutupnya dengan kencang , untungnya cara kerja pintunya ku buat mirip dengan pintu-pintu di swalayan untuk mengantisipasi hal-hal seperti ini. Tarikannya agak berat jadi perlu kekuatan lebih untuk menutupnya dengan keras.
Aku tidak melihat Mek dan Aya di ruangan depanku.
"Shittt,.... kemana mereka? Ini sudah masuk jam kerja tapi mereka belum nampak juga".
Aku segera menelpon Mikail menanyakan keberadaan mereka dan apa katanya? Mereka baru saja makan siang bersama dan sekarang mereka sedang di bengkel karena ban motornya bocor. Shiit....
'sharelock!'
__ADS_1
Kuminta alamatnya dan aku segera menuju ke sana. Aku tidak peduli dengan pekerjaan yang harus ku selesaikan hari ini. Aku hanya menitip pesan pada resepsionis agar tidak menerima tamu karena aku hendak pergi keluar.
"Bisa-bisanya kau meninggalkanku dan bersenang-senang dengan Mek!". Berkali-kali aku memukul kemudi dengan satu tanganku dan kepulan asap rokok memenuhi mobilku.
Hatiku rasanya terbakar seperti mau meledak. Mungkin karena rasa cemburuku dan hasratku yang belum terselesaikan.
Entah aku mau mengakuinya atau tidak tapi aku sudah jatuh cinta padanya.
"AYAAAAAA....!!!!!!". Aku berteriak di dalam mobil seperti orang gila.
Aku belum pernah merasa semerana ini.
Menyukainya diam-diam dan menahan gejolak dalam diriku agar tak ku salurkan padanya. Dia sungguh membuatku tersiksa.
Di depan bengkel itu aku melihat Mikail berdiri sambil memberikan minuman ke Sofiyah yang menyambutnya dengan tersenyum gembira seperti gadis-gadis yang biasanya menemaniku. Ini membuat dadaku kembali berdesir dan ingin segera menyalurkan hasratku padanya, toh ia sama saja dengan gadis-gadis pemuas nafsuku.
"Bos....". Mikail yang melihatku langsung menyongsongku dengan bahagia sayangnya aku sedang tak tertarik bicara dengannya. Ku injak rokok yang masih separuh itu di lantai bengkel.
Begitu sampai di dekat Sofiyah kuseret tangannya yang tak beranjak sedikitpun meski sudah melihatku datang.
"Lepas...!", katanya meronta sambil menghentakkan tangannya berkali-kali agar bisa terlepas dari cengkeramanku, sedang tangannya yang lain memegang gelas minuman.
"Lepaskan Bas!!". Mikail menghadangku.
"Jangan ikut campur kau Mek! Ini urusanku dengan Aya. Kau tahu kan dia itu calon istriku..!!"
"Aku tidak perduli. Sofi katakan kalau kau tak mau ikut dengannya dan aku akan membawamu pergi...".
"Kau mau ikut dengannya? Ikutlah dengannya dan aku akan ke rumahmu. Akan ku katakan apa adanya pada mami dan papi!". Ku lepaskan tangannya karena aku ingin tahu pilihannya dan aku yakin dia akan lebih memilihku.
__ADS_1
"Maaf pak Mike....",katanya.
"Kau kembali ke kantor dan bereskan semuanya!!", kataku pada Mikail sambil kembali mencengkeram tangannya dan menyeretnya menuju mobilku.