
Hari Senin pun tiba dan seperti biasa para pekerja ada yang bersemangat dan ada pula yang masih merasa lelah dan bosan dengan rutinitas yang itu-itu saja.
Sofiyah salah satu diantara orang-orang yang jenuh dengan rutinitas yang sama. Yah namanya juga manusia. Kadang ia ingat, dulu semasa jaya-jayanya sang papi setiap hari ia bersenang-senang dan menghabiskan uang dan ia juga merasa jenuh luar biasa.
Gadis yang hari ini memakai pakaian warna merah maroon itu terlihat lebih dewasa daripada umurnya. Ia tersenyum simpul mendapati dirinya yang terkadang plin plan sesuai dengan umurnya.
Sebenarnya dia cukup penasaran dengan siapa Basofi pergi ke pesta kemarin karena seperti yang dia dengar jika atasannya itu harus datang membawa pacar untuk dikenalkan dengan para kerabat dan handai taulan.
"Terimakasih bajunya ya koh " Kata Sofiyah saat mereka akan turun dari mobil. Ia menyerahkan pakaian yang terbungkus rapi fresh dari laundry.
"Taruh di sini atau di bawa ke atas?" Tanya Sofiyah.
Tanpa menjawab pertanyaan sekretaris nya dia segera keluar dengan membanting pintunya sampai semua orang kaget mendengar suara berdebumnya. Terlebih Sofiyah yang masih ada di dalam mobil. Ia berjingkat kaget karena ulah atasan absurdnya. Kali ini dia benar-benar tak tahu kenapa si playboy itu marah karena dia merasa tak melakukan kesalahan apa-apa.
Basofi merasa kesal bukan main ternyata Sofiyah mengembalikan bajunya dan sudah dalam keadaan di cuci bersih pula. Padahal baju milik Sofiyah masih di simpan dalam lemarinya karena ada rasa nyaman saat menghirup baunya. Ia tak ingin mengirim baju itu ke laundry karena tak ingin aroma khas milik Sofiyah hilang dan dia akan membuat alasan agar Sofiyah tidak meminta bajunya kembali.
Sofiyah keluar dari dalam mobil dan salah satu security seperti biasanya akan membawa mobil itu ke tempat parkir khusus miliknya.
Para karyawan menatap Sofiyah yang berjalan sambil membawa tas besar yang berisi baju ganti. Mereka mengira bahwa Basofi sedang marah karena kecerobohan Sofiyah dan mereka yakin pasti tak lama lagi Sofiyah akan di pecat seperti sekretaris yang sudah-sudah.
"Naiklah aku ada urusan sebentar...!" Kata pak direktur saat berada di depan lift. Ia hanya mengantarkan Sofiyah dan menunggunya sampai pintunya tertutup.
Hari ini sang Direktur menuju ruang pantry dan menyeduh kopi di sana. Sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tentu saja semua sudah di atur sedemikian rupa oleh asistennya agar semua bisa berjalan sesuai keinginannya.
"Pagi pak...." Rara datang sambil tersenyum lebar merasa bahagia tak terkira. Setelah sebelumnya dia diajak ke pesta sekarang direktur utamanya malah memintanya bertemu di pantry. Ia mengartikan jika Basofi ingin bertemu dengannya secara sembunyi-sembunyi. Tapi itu tak masalah baginya toh sebentar lagi ia yakin bisa menjerat si tampan dan kaya ini.
" Sudah berapa lama kau bekerja di sini?" Tanya Basofi sambil menyeruput sedikit kopinya.
"Hampir tiga tahun pak..." Katanya sambil mengerling. Entah kenapa Basofi sekarang jadi muak melihat gadis yang agresif padanya. Jika dulu tentu saja tak perlu menunggu lama dia akan segera menikmatinya di mana saja.
"Kau bisa membuat kopi?" Ia sengaja menatap gadis itu dengan tatapan menggoda.
"Tentu saja bisa.... Apa perlu saya membuatkannya untuk anda ?" Katanya sambil berjalan mendekat ke arah Basofi kemudian dia membuat garis di dada Basofi dengan telunjuknya.
__ADS_1
"Buatkan satu untukku. Tanpa gula!" Katanya sambil menghirup kopinya kembali.
Dengan senang hati Rara yang berprofesi sebagai manajer di departemen pemasaran itu membuat kopi.
Ia menyunggingkan senyum sebelum menghidangkan kopi pada direktur tampannya. Basofi yang sedari tadi duduk kemudian berdiri sambil memamerkan senyuman manisnya pada si gadis dan berjalan mendekatinya.
"Uupss!"
"Aaahhhh..." Gadis itu berteriak sambil buru-buru menaruh kopinya
Persis seperti apa yang dia lakukan pada Sofiyah seperti itulah Basofi membalasnya.
"Mulai besok kau bekerja di lapangan menjadi sales promotion girl..." Kata Basofi sambil berjalan meninggalkan Rara tanpa perasaan bersalah. Benar-benar seperti psikopat dia.
Rara menarik bajunya ke atas sehingga terlihat perutnya yang berwarna kemerahan karena terbakar air kopi yang panas tadi. Di tengah rasa nyeri yang menyerang kulitnya ia juga merasa bingung sekarang. Rasanya seperti jatuh dari lembah yang terdalam dan ditimpa bebatuan.
Ia pun segera berlari meninggalkan pantry untuk mencari pertolongan.
Sementara itu Basofi kini sedang berjalan ke ruang rapat untuk menemui kedua gadis yang sudah berani melabrak Sofiyah dengan Mikail yang berjalan di belakangnya.
Mikail langsung menyalakan laptop dan mengutak-atik nya sebentar kemudian memutar kejadian tiga hari yang lalu saat Basofi baru saja meninggalkan ruang rapat.
Keduanya saling menunduk ketakutan tidak menyangka mereka akan di sidang secara langsung oleh sang pimpinan hanya gara-gara ulah yang tak pernah mereka perkirakan dan ternyata berakibat fatal.
"Kalian ingin di hukum atau di pecat?" Tanya Basofi setelah video tadi berakhir.
" Kami siap menerima hukuman"
"Iya kami siap menerima hukuman" Kata keduanya sambil saling melihat dan bersepakat.
" Selama satu bulan kalian harus membersihkan lobi depan! Menyapu dan mengepelnya sebelum kami datang. Apa kalian sanggup?" Katanya penuh penekanan.
Menyapu?
__ADS_1
Mengepel?
Itu pekerjaan OB
Haruskah sekeji itu menurunkan derajat mereka yang terhormat menjadi benar-benar seperti rakyat jelata. Gadis-gadis yang pernah merasakan kejantanan Basofi itu diam, menimbang-nimbang.
"Kalau kalian tak sanggup, hari ini juga kemasi barang-barang kalian dan pergi dari sini..!"
"Kami sanggup kami sanggup!! Asalkan kami tak di pecat kami siap melaksanakan apa saja " Kata salah satu dari mereka dan yang lainnya hanya mengangguk-anggukkan kepala.
" Jangan sampai Aya ku tahu kalau aku menghukum kalian! Bekerjalah dengan benar kalau kalian masih ingin di sini !" Katanya dengan tegas kemudian berjalan sambil memasukkan kedua tangan di dalam saku celananya. Ia bersiul-siul dengan gembira sementara tiga gadis yang dia hukum tadi baru mengetahui kalau posisi Sofiyah sangat spesial di mata bos besar mereka.
"Aya ke ruanganku sebentar...!" Kata Babas saat sudah tiba di lantai atas.
" Baik pak!" Katanya sambil berdiri.
"Pagi Sofi...!" Mikail yang berjalan di belakang Basofi menyunggingkan senyum manisnya untuk gadis yang ditaksirnya. Semacam sudah menjadi kewajiban saja untuk mempersembahkan senyum terbaiknya untuk Sofiyah.
"Pagi pak Mike..." Jawab Sofiyah ramah.
Setelah Sofiyah berada di depan Basofi ia tak langsung melontarkan pertanyaan melainkan melihat gadis yang sudah banyak mengubah kebiasaan hidupnya tanpa ia sadari.
"Kau tak ingin kuliah?" Tanya si play boy tampan.
"Tidak sekarang...." jawab Sofiyah menghindari kontak mata dengan si Babas.
"Mama ingin mengajakmu keluar sama mami juga..." Kata Babas lagi.
"Mami nggak bisa koh..."
"Kenapa?"
"Kan masih iddah"
__ADS_1
"Apa, ida. Apa itu ida?" Tanya Basofi tak mengerti.