Kamu Bukan Yg Pertama

Kamu Bukan Yg Pertama
Merajuk


__ADS_3

Keesokan harinya Sofiyah datang ke perusahaan dengan penampilan yang sedikit berbeda. Dia memakai masker dan kaca mata sampai beberapa lama. Saat mau rapat barulah maskernya dibuka dan tampaklah wajah polos tanpa make up Sofiyah.


Dia yang biasanya tampil dengan menggunakan sedikit polesan make up agar terlihat lebih dewasa kini nampak wajah aslinya.


Wajah polos tanpa bedak, tidak ada lagi celak mata dan yang sangat terlihat bibirnya tampak pucat tanpa lipstik sama sekali. Kini ia terlihat sesuai umurnya. Wajah seorang gadis remaja.


Basofi menyadari hal itu. Dia juga melihat matanya tampak bengkak seperti habis menangis dalam waktu yang lama meski coba dia tutupi dengan kaca mata.


Saat Sofiyah datang Mikail buru-buru mendekatinya dan menyerahkan tas dan hapenya yang tertinggal saat mereka ada di bengkel mobil kemarin.


"Sofi, apa kau baik-baik saja?", tanya Mikail khawatir.


" Terima kasih pak Mike, saya hanya butuh sendirian hari ini..."


Mikail agak kecewa saat mendengar jawaban Sofiyah tapi ia menghormati kejujurannya.


Mikail menarik nafas dalam-dalam kemudian berkata, "semoga hari ini menyenangkan...!"


"Maaf", kata Sofiyah sambil mencoba tersenyum.


Saat rapat Sofiyah bahkan tak berbicara seperti biasanya. Ia hanya menjawab pertanyaan dari Basofi dan rekan-rekannya dengan jawaban yang singkat saja. Membuat semua orang tahu jika Sofiyah sedang ada masalah.


Begitu kembali ke lantai atas Sofiyah menaruh ipad dan berkas-berkasnya di meja kemudian berjalan menuju ke toilet yang ada di lantai itu.

__ADS_1


Lama sekali ia berada di dalam toilet membuat Basofi yang sedari mengamatinya penasaran. Mikail yang berada di lantai yang sama pun merasakan hal yang sama.


Basofi merasa bersalah atas apa yang sudah dia lakukan pada Sofiyah kemarin. Ia yakin kesedihan Sofiyah gara-gara ulahnya tapi dia juga enggan untuk memulai percakapan ,takutnya Sofiyah akan semakin marah padanya.


Hape Basofi bergetar dan tertera nama pemanggilnya adalah mama.


"Iya ma".


"Ko... Fia dimana?"


"Di kantor ma... sedang di toilet sekarang"


" Kau sudah dengar kabar?"


"Papinya Fiyah meninggal Bas..."


Deg..


Badannya seperti tersengat listrik saat mendengarnya. Tidak ada angin tidak ada hujan kenapa tiba-tiba mamanya memberi kabar yang tak masuk akal.


"Mama jangan bercanda ma!"


"Kau kira mama gila bercanda tentang kematian seseorang?"

__ADS_1


" Kalau benar beritanya kenapa Aya belum tahu hal sebesar itu?"


"Maminya tadi menelpon mama katanya hapenya Fia tidak bisa dihubungi. Sekarang kamu harus membawanya pulang dan jangan beritahu dulu apa yang terjadi agar dia tidak shock. Cepat Bas!".


Basofi langsung mematikan sambungan telponnya tanpa salam atau basa basi. Ia bergegas keluar dari ruangannya.


"Mek batalkan semua pertemuan hari ini dan segera siapkan mobilnya!" Basofi melempar kunci mobil pada asisten pribadinya.


"Aku ini lebih tepat disebut budakmu daripada asistenmu...", gumam Mikail.


"Kau bilang apa Mek?", Basofi menatap Mikail dengan tatapan horornya.


"Hehe., tidak ada bos. Saya akan segera siapkan mobilnya", kata Mikail sambil angkat kaki dari sana karena Basofi sudah mengeluarkan taringnya.


Sementara itu Basofi memeriksa ponsel Sofiyah dan mendapati ponselnya dalam keadaan mati.


Basofi yang melihat Sofiyah tiba-tiba keluar dari toilet buru-buru memasukkan ponsel Sofiyah kedalam tasnya dan membawa tas itu di ketiaknya.


"Ikut aku!". Kata Basofi sambil berjalan menuju lift.


Sofiyah yang baru keluar dari toilet awalnya kaget mendapati Basofi sedang memeriksa ponselnya tapi sejurus kemudian dia ingin tertawa melihat Basofi salah tingkah seperti ketahuan sedang mencuri kemudian buru-buru mengapit tasnya di ketiaknya.


"Aya...tunggu apalagi?", teriak Basofi dari depan lift.

__ADS_1


Sofiyah pun buru-buru menyusul pria brengsek itu.


__ADS_2