Kamu Bukan Yg Pertama

Kamu Bukan Yg Pertama
Babas


__ADS_3

"Ayy....!" Aku memanggilnya lebih keras lagi karena dia tak segera beranjak dari duduknya. Aya segera mencium tangan Tata kemudian mencium pipinya kanan dan kiri. Setelah itu terlihat Aya mengucapkan sesuatu pada Tata dan membungkukkan badan untuk memberi salam hormat dan perpisahan pada Tata yang hari ini nampak bahagia.


Ini pertama kalinya aku melihat Tata akrab dengan seseorang bahkan beberapa kali ia tertawa lepas. Aku juga tidak tahu pribadi tata itu seperti apa karena aku datang kesini dalam setahun bisa dihitung pakai jari. Itupun atas bujukan mama. Kalau bukan karena mama aku tak sudi datang ke tempat ini.


Aya bergegas menyusulku dengan berlari kecil sampai terdengar Tata memanggilnya lagi.


"Mei mei...!"


"Iya Ta?" Sekali lagi Aya menoleh pada Tata.


"Datanglah lagi dan buatkan aku masakan seperti masakan akong mu!"


Dan jawaban yang keluar dari mulutnya membuatku sedikit terperangah" Kalau Tata mau, datang ke rumah mama saja!Fiah akan memasak semua resep masakan rahasia dari Akong"


Bisa-bisanya dia meminta Tata ke rumah mama. Hal yang mustahil akan dilakukan olehnya karena mamaku tidak pernah dianggap menantu di keluarga ini. Aya malah berani-beraninya meminta untuk datang ke rumah mama. Sampai aku sudah berumur ini aku belum pernah menjumpai tata datang ke rumah mama.


Aya kemudian membungkukkan badan sekali lagi dan segera mensejajari langkah ku. Ia kemudia bergelayut manja di lenganku. Aya yang selalu membuat hari-hari ku berwarna. Bukan hanya kebahagiaan tapi juga kadang kesal dan marah terjadi diantara kami. Dia itu seperti kucing yang lucu dan imut tapi di lain waktu bisa jadi harimau garang yang menakutkan. Tapi nyatanya aku suka itu. Aku bahkan kelabakan saat mendapati dirinya marah tak mengacuhkanku. Aku akan melakukan apa saja yang ia minta asal dia tak marah lagi. Aku seperti orang bodoh yang diperbudak cinta.


Hahh.... ternyata gadis kecil ini sudah merubah pendirianku tentang bahtera rumah tangga. Aku yang dulu tak berminat untuk menikah kini merasa berterima kasih pada mama karena telah menjodohkan aku dengannya.


Aya memang selalu bisa membuat orang nyaman ketika berada di dekatnya. Tadi saja Tata sampai memintanya untuk datang lagi. She is very special, pretty much.


Aku membukakan pintu untuknya meski sedang kesal padanya dan sepertinya Aya belum menyadarinya.


Begitu aku masuk istri kecilku itu langsung mendekatkan dirinya duduk disampingku. Tanganku dipeluknya dan kepalanya ia sandarkan pada pundakku. Entah kenapa dia tiba-tiba jadi manis begini?


"Aku suka sama Tata. Jadi seperti ini rasanya punya Kakek?" Dia bergumam pada dirinya sendiri dan aku diam saja tak menanggapinya.


Aya berbicara banyak sekali kali ini tapi aku hanya menjawab dengan kata-kata pendek. Ya, tidak, mungkin. Mataku hanya melihat ke samping jendela yang melintasi pepohonan di sepanjang jalan.


Karena tak tahan akhirnya aku mengatakan kegalauan hati ku. "Kenapa mesti berbohong dengan menyatakan kalau kamu hamil hanya untuk meresmikan pernikahan kita?" Kataku.


"Bohong?" Ia balik bertanya dengan tatapan tak percaya.


"Kenapa? Apa koko tak berniat untuk meresmikan pernikahan kita di mata negara?" Lanjutnya sambil mengambil jarak.


"Kenapa hanya karena meresmikan pernikahan harus sampai berbohong?"


"Hanya? Jadi pernikahan ini hanya hal sepele buat koko?" Dia jadi salah sangka.


"Bukan itu maksudku..."

__ADS_1


Aya memotong kalimat yang belum kuselesaikan


"Iya memang aku yang memaksa. Aku tahu aku yang salah" kini dia menepi tepat di samping jendela dan memalingkan wajahnya.


Aku yang dari tadi menahan kesal kini jadi salah tingkah. Maunya marah tapi dalam sekejap dia bisa membalik keadaan. Sekarang aku yang jadi tersangka rupanya.


"Bukan begitu sayang.... " Kini aku yang mendekat padanya dan mencoba memeluknya tapi Aya menepis tanganku. Tangannya sibuk menyusut ujung matanya, sudah menangis rupanya.


"Sayang.... bukan seperti itu maksudku..."


"Koko tidak mau punya anak denganku?" Ia menatapku dengan matanya yang basah.


"S-siapa yang bilang tidak mau?"


"Berarti benar koko tidak mau"


"Tidak seperti itu sayanng....!"


Oh my God. Lihatlah diriku yang mendadak bodoh begini. Tidak tahu harus biscara apa agar Aya tak marah. Ternyata sesulit ini menghadapi wanita yang sedang ngambek. Kalau boleh memilih aku lebih baik menghadapi para pendemo yang tidak terima dengan kebijakan yang dibuat perusahaan atau saat para karyawan meminta kenaikan gaji. Itu lebih mudah diatasi.


"Sayang.....!" Aku mau meraih tubuhnya lagi tapi dia menyikut tanganku.


"Aku mau tidur" Katanya sambil memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya di kaca.


Aku menatapnya tajam saat dia sengaja melihat ke belakang melalui kaca spion. Membuat pria berumur itu langsung terbatuk-batuk seperti tersedak sesuatu.


"Fokus ke jalan!" Kataku dengan nada sumbang lupa kalau dia orang tua yang tak selayaknya kuperlakukan demikian. Padahal kesalnya sama istri tapi melampiaskannya pada orang lain. Dan kali ini pak Ali yang kena getahnya.


Aku tahu Aya tak benar-benar tidur karena meskipun matanya tertutup tapi berkali-kali ia mengusap wajahnya apalagi kalau bukan karena ada air mata disana.


Berkali-kali aku menghembuskan nafas dengan kasar karena bingung harus bagaimana. Inginnya merayu tapi masih ada Pak Ali bersama mereka. Didiamkan saja, rasanya seperti dalam neraka. Aku jadi serba salah.


Perjalanan berangkat dan pulang yang berbeda 360 derajat. Bagaimana bisa dia tiba-tiba membalikkan keadaan dengan mudah. Harusnya aku yang marah tapi sekarang justru aku yang merasa bersalah karena posisiku seperti tersangka.


Begitu sampai di halaman rumah aku menoleh pada Aya yang ternyata tertidur dan belum menyadari jika sudah sampai rumah. Pak Ali segera keluar dari mobil begitu selesai memarkirnya ditempat yang seharusnya. Ia seperti menyadari kalau kehadirannya mengganggu kedua majikan yang sedang perang.


"pretty girl..." Gumamku saat melihat wajahnya yang nampak tenang dalam tidurnya meski posisinya tak nyaman. Aku berniat menggendongnya dan membawanya ke kamar tapi Aya terbangun dan menolaknya. Ia bahkan keluar dan menutup pintunya dengan keras membuatku mengelus dada.


"Tulang rusukku....! Teganya dirimu membuatku seperti orang dungu." Kataku sambil buru-buru keluar untuk mengejarnya.


"Sayang.....!" Aku mengekori Aya yang tak menghiraukan ku.

__ADS_1


"Sayang....! Kenapa?" Mama yang melihat kami di ruang tengah segera memeluk menantu tersayangnya bukan putranya.


"Nggak papa ma, Fiah capek mau istirahat dulu!"


Mama menganggukkan kepala pada Aya yang langsung naik ke kamar kami.


"Basss!! Kau apakan menantu mama?"


"Nggak aku apa-apain ma..... "


"Kalau bukan kamu lalu siapa lagi yang membuatnya menangis?"


"Aya ingin kami mengumumkan pernikahan kami..."


"Lalu koko tidak mau....?"


"Bukan, hanya saja dia berbohong. Dia bilang kalau sedang hamil"


"Bass...!!! Kali ini wajah mama merah karena marah. "Kau ini memang keterlaluan....! Bagaimana bisa kau tidak tahu kalau istrimu sedang mengandung. Kau hanya tahu menikmatinya saja hah?"


Mama sepertinya benar-benar murka karena beliau memukuli tubuhku membabi buta. Tapi aku tak merasakan apa-apa karena pikiranku dipenuhi tentang kabar kehamilan Aya.


"Oh shiit!!!" Akupun mengeluarkan kata umpatan menyadari kebodohanku sendiri. Benar kata mama, bagaimana bisa aku sebagai seorang suami hanya tahu menikmatinya saja dan tidak menyadari perubahan pada istriku sendiri.


"Duoble shiitt...!" Aku segera berlari ke lantai atas untuk menyusulnya.


.


.


.


.


.


Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air yang berbahagia, aku lagi malas nulis nih. Gara-gara baca karya my sensei 'sephinasera' The best banget deh. Aku langsung insecure. Tapi aku tetap melambungkan asa semoga suatu saat bisa seperti mereka para author favoritku.


Kalau kalian habis baca punya sephinasera pasti kalian bakal tahu tulisanku ini cuma remah-remah.


Maaf karena belum bisa seperti mereka yang punya karya istimewa.

__ADS_1


Ya Alloh,.pingin bisa sehebat mereka dalam mengolah kata dan alur cerita.


pingin nangis....


__ADS_2