
Dua puluh tahun yang lalu ada seorang pria bermata sipit dan berkulit putih baru saja selesai menjalankan solat Dhuhur di masjid Agung yang berada di kawasan alun-alun kota. Wajahnya tampan dengan postur sedang tak terlalu tinggi ataupun terlalu pendek.
Ia sedang berjalan mencari restoran yang sudah di sepakati untuk makan siang bersama koleganya. Zaman itu handphone Android belum ada jadi mereka tidak bisa share lock seperti yang biasa kita lakukan saat ini. Pada zaman itu handphone Sony dan Nokia masih menjadi primadona. Bentuknya masih kecil dan hanya dengan fitur kamera saja orang yang memakainya sudah terlihat wah.
Pada zaman itu wartel dan telepon umum masih bertebaran di mana-mana. Dan telepon rumah seperti menjadi bukti bahwa orang yang memilikinya bisa di kategorikan sebagai orang kaya.
Setelah melihat kiri kanan dengan seksama ternyata ia hanya perlu menyeberang saja. Tempatnya tak terlalu jauh dari masjid. Terdapat tulisan dalam bentuk besar sehingga orang yang melihatnya dari jauh pun bisa dengan mudah membacanya.
PARADISE RESTAURANT.
Kemudian di bawahnya ada tulisan huruf Cina yang bermakna sama dan yang menarik perhatiannya adalah label halal dari MUI ikut menghiasi papan nama itu dengan logo yang sangat besar.
Di pintu masuk ada papan dengan menu yang di rekomendasikan hari ini, kwetiau hokie.
Pria itu baru masuk islam beberapa bulan yang lalu tapi menurut ustadz yang membimbingnya masuk islam ia tidak perlu di sebut muallaf.
"Muallaf itu orang yang masuk islam tapi hatinya belum sepenuhnya yakin. Mungkin karena ketakutan atau karena sebab-sebab yang lainnya. Seperti orang-orang Quraisy yang berbondong-bondong masuk islam saat fathu Makkah karena mereka kalah perang dan takut di bunuh oleh orang-orang islam. Orang-orang yang seperti itulah yang di sebut muallaf dan berhak mendapat bagian dari zakat. Orang yang masuk islam karena mau menikah dengan pria atau wanita muslim juga di sebut muallaf.
Pada masa Kehalifahan Abu bakar ada dua orang pemuka dari Fazaroh dan Tamim yang bernama Uyainah bin Hisan Al Fazari dan
Mereka menghadap kepada Abu bakar Assiddiq ra. kemudian mereka berkata, "Kami ini muallaf. Sejak masa Rosululloh kami ini menerima bagian dari zakat. Maka saatnya kami mengambil bagian zakat kami. Hendaklah kau tuliskan keputusan untuk memberikan bagian dari zakat kami"
"Baik karena Rosululloh memberikan bagian zakat kepada kalian maka aku juga akan memberikan bagian zakat kepada kalian." Kata sang Khalifah.
Kemudian Abu bakar menulis surat kepada pengurus baitul mal, Umar bin Khathab yang berbunyi
'Tolong berikan kepada dua orang ini jatah mereka seperti yang diberikan oleh Rosululloh'
Pada zaman itu bagian zakat muallaf itu sangat banyak, unta, kambing, tepung dalam jumlah banyak sekali.
Sesampainya mereka di kantor baitul mal Umar bin Khattab sedang berada di kantor dan diberikan lah surat dari Khalifah Abu bakar assiddiq kepadanya.
"Apa ini?" Tanya Umar garang seperti biasa.
__ADS_1
"Jatah bagian kami dari baitul mal. Muallaf muallaf" Kata mereka.
Umar merobek surat Abu bakar itu sampai menjadi kecil-kecil.
Keduanya kaget kemudian bertanya, "Kenapa ini, surat khalifah kau robek-robek?"
"Demi Allah tidak ada lagi bagian untuk kalian. Kalian bukan lagi muallaf. Muallaf macam apa bertahun-tahun masih mengaku menjadi muallaf ? "
Mereka kaget mendengar pernyataan Umar kemudian Umar membentak mereka lebih keras lagi, "Pergi dari hadapanku!!!"
Kedua orang itu pergi dan kembali kepada Abu bakar untuk melapor.
"Sebentar saya tanya, khalifahnya itu kamu atau Umar?" Tanya salah satu dari keduanya.
"Memangnya kenapa?" Abu bakar balik bertanya.
"Kami bawa suratmu kepada Umar untuk meminta bagian zakat kami dari baitul mal. Dia robek-robek suratmu sampai kecil-kecil kemudian dia mengusir kami dari sana. Jadi khalifahnya itu anda atau Umar ?" Tanya mereka.
Mendengar hal itu Abu bakar tertawa kemudian berkata, "Umar itu jadi khalifah kapanpun dia mau"
"Kalau Umar sudah bilang begitu aku tidak akan bilang yang lain" Kata Abu bakar mantap.
"Jadi kami tidak dapat bagian lagi?"
"Ya sudah mau bagaimana lagi? Umar sudah menerapkannya" Jawab Abu bakar.
Jadi muallaf itu adalah orang yang masuk islam dan hatinya belum yakin 100 persen, masih ada keraguan di hatinya sehingga harus dibujuk-bujuk, di rayu-rayu, di kasih hadiah dan lain-lain agar hatinya mantap dan yakin. Kalau sudah yakin namanya bukan lagi muallaf tapi muslim."
Dan kalau ada orang yang masuk islam dengan hati dan jiwa yang mantap orang seperti itu seharusnya tidak boleh di sebut muallaf tapi mereka langsung di sebut muslim karena tidak ada keraguan padanya saat mengucapkan syahadat.
Kira-kira begitu penjelasan dari ustadz yang menancap dalam alam bawah sadar Basuki.
"Permisi..... Apa anda mau pesan sekarang?" Kata seorang pegawai restoran sambil menghidangkan teh selamat datang.
__ADS_1
Basuki tak berkedip melihat sosok bidadari yang sedang berdiri di depannya. Gadis cantik kecil mungil dengan kulit putih dan bermata sipit seperti dirinya. Rambutnya dikepang dengan poni menutupi sebagian keningnya. Gadis yang memakai celemek yang berwarna pink itu mengulas senyum sambil bertanya, " Kalau nanti bapak sudah mau pesan silahkan panggil kami".
Ia sedikit menunduk kemudian pergi dari meja yang berada di ujung restoran itu.
"Bapak?" Basuki muda mengerutkan keningnya sambil memegangi wajahnya. "Apa wajahku sudah setua itu sampai harus di panggil bapak?" Katanya bergumam.
Tak lama setelah itu koleganya datang. Basuki mencari gadis tadi untuk memesan makanan tapi ia tak melihatnya lagi. Akhirnya dia memanggil pegawai yang ada untuk memesan makanan untuknya sendiri dan untuk koleganya. Mereka pun mulai berbincang tentang hubungan kerja sama diantara mereka, visi misi keduanya juga berbagai kemungkinan yang terjadi melihat kondisi ekonomi terkini.
Akhirnya merekapun berpisah setelah keduanya sepakat. Mereka membuat janji temu lagi untuk mengukuhkan kerja sama diantara mereka dengan dokumen perjanjian dan penandatangan di depan notaris dari masing-masing pihak.
Basuki yang sedari tadi masih penasaran kini memberanikan diri untuk masuk ke bagian produksi dengan alasan ikut numpang ke kamar kecil.
Ia pun dipersilahkan oleh salah satu pegawai untuk berjalan lurus ke belakang agar sampai di toilet. Basuki berjalan pelan-pelan sambil matanya jelalatan sibuk mencari si gadis berkepang.
Dapur yang lumayan luas dengan segala hiruk pikuk manusia dan bau makanan khas cina bertebaran di situ dan Basuki mengamatinya. Melihat mereka satu persatu mencari gadis kecil mungil yang dia maksud.
Ia melihat gadis tadi ternyata berdiri di sebelahnya di tempat cuci piring. Tangannya dengan cekatan mencuci piring-piring yang berlemak.
Merasa ada orang yang memandanginya dan tak segera beranjak padahal semua orang sibuk ia pun kemudian menoleh.
" Cari siapa?" Tanyanya sambil tangannya tetap membasuh piring yang sudah di bersihkan dengan sabun kemudian menaruhnya di tempat lain agar segera kering.
"Eh... I-itu. Cari kamu" Basuki menutup mulutnya karena keceplosan.
"Mak-maksudnya saya mau ke toilet" ujar Basuki gugup.
"Ooh.... itu....!!!" Jawab si gadis sambil tangannya menunjuk ke arah kamar mandi karyawan.
Basuki berjalan menuju ke toilet tapi matanya tak bisa lepas dari si gadis cantik berkepang.
Brukkk!!!!
Semua orang menoleh ke arah suara yang berbunyi nyaring itu. Dan melihat basuki jatuh di depan toilet.
__ADS_1
Ia pun buru-buru bangun karena merasa malu sekali