
Ceklek
Terdengar bunyi pintu kamar mandi di buka dan aku segera menutup mata berpura-pura seolah sudah tidur sejak tadi. Dengan posisiku yang tidur beralaskan bantal yang tinggi dan kaki yang berada di atas pembatas juga tangan yang bersedekap semakin memantapkan aktingku.
Pikiranku kalut antara mempertahankan Aya atau melepaskannya.
Ingin rasanya egois untuk memintanya tetap di sisiku dengan dalih itu karena wasiat papi meski sebenarnya hati terdalamku yang memintanya.
Aya.....
Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Sungguh ini menyiksa hati dan jiwa. Mungkin mama bersedia tetap bertahan di sisi papa juga karena alasan cinta yang seperti kurasakan saat ini. Tetap bertahan meskipun itu menyakitkan.
'Aya....'
Sungguh aku ingin menjerit memanggil namanya dan memeluknya. Gadis kecil yang waktu pertama kali bertemu dengan nya dulu aku hina dan sekarang dia menjelma memenuhi ruang kalbu dalam sanubariku.
'Aya.....'
__ADS_1
Aku sedikit membuka mata sehingga aku bisa melihat wajahnya yang kini tampak lebih segar. Saat ini dia sedang memandangiku dengan wajahnya yang terlihat sayu. Setelah itu dia segera membersihkan meja yang memang penuh sampah bekas makanan.
Beberapa menit berlalu aku betul-betul hanyut dalam tidur dan melanglang buana di alam mimpi. Tak tahu lagi apa yang dikerjakan oleh Aya setelah itu.
Aku tersentak kaget dan langsung terduduk. Kulihat jam dinding baru menunjukkan pukul sepuluh.
"Ya Allah....." Ku tutup mukaku saking kagetnya.
"Ya Alloh...." Jantungku masih berdebar-debar karena baru saja di datangi papi dalam mimpiku.
"Titip Sofiyah ya ko...!"
"Tolong ya ko....!"
Aku sadar saat itu kalau papi sudah tiada dan aku malah tak meresponnya saking bingungnya.
Ku lihat Aya tidur dengan memunggungiku tanpa menggunakan selimut, hanya menutupi kakinya dengan jaket saja. Mungkin tadi dia lupa tidak membawanya.
__ADS_1
Segera ku ambil selimut milikku yang tadi dibawa oleh pak Ali dan ku tutupkan pada tubuh kecil yang kelihatan tenang dalam tidurnya. Sedangkan jaketnya kulipat sekenanya dan ku taruh di samping kepalanya.
Kemudian aku beralih melihat mami yang terlihat nyenyak dan saat aku melihat tiang infus ternyata cairan infusnya hampir habis.
Aku pun bergegas untuk melaporkan hal itu pada perawat yang sedang bertugas. Tapi saat aku baru keluar dan masih berdiri di depan pintu ternyata salah seorang perawat datang dengan membawa infus untuk mami.
Sambil menunggu perawat tadi aku pun duduk di kursi di depan ruang inap mami. Bersedekap sambil menumpuk kaki.
Angin malam ini sepertinya sangat dingin hingga membuatku mengeratkan tanganku sendiri. Pikiranku pun melayang-layang mencoba mencari jawaban apa yang harus aku lakukan.
Di satu sisi aku ingin dia bahagia. Umurnya bahkan belum genap sembilan belas tahun sekarang dan seharusnya saat ini dia masih bersenang-senang dan bermain dengan kawan-kawannya tapi nyatanya dia harus menghadapi banyak hal. Termasuk di jodohkan denganku yang brengsek ini.
"Sudah pak, saya permisi dulu..." Kata perawat tadi sambil menutup pintu.
"Terimakasih sus..." Jawabku sambil berdiri dan perawat itu pun segera pergi.
Aku mencari keberadaan ponselku di saku baju maupun di saku celana tapi ternyata tidak ada. Kakiku pun melangkah masuk ke dalam untuk mencari benda pipih yang kini semua orang tak bisa hidup tanpanya.
__ADS_1
Sekali lagi aku mengedarkan pandangan pada kedua wanita yang harus ku jaga. Ternyata mami bangun dan mencoba menggapai minuman di samping bednya.
"Mami haus?" Kata ku sambil mendekat dan mengambil air putih yang ada di atas nakas dan membantu mami agar bisa meminumnya dengan baik menggunakan sedotan yang ada.