
"Ceklek ceklek ceklek"
Mata Sofiyah langsung terbelalak melihat gagang pintunya berusaha di buka dari luar dan itu pasti si pemilik yang ingin masuk ke dalam kamarnya.
Saking paniknya Sofiyah tak langsung membuka atau mengancingkan bajunya. Dia malah berjalan mondar-mandir mencari kata-kata yang pas yang tidak membuat Basofi marah padanya.
"Siapa di dalam??"
BRAKK BRAKK BRAKK!!!
"Buka pintunya!! Siapa yang ada di dalam?!!" Basofi menggedor pintu sambil mengeram tertahan karena sejak tadi menahan emosi. Kepalanya terasa panas seakan ada bom yang mau meledak.
Sofiyah buru-buru membuka pintu karena takut Basofi semakin marah lagi nanti.
"Aya....!! ngapain kamu di dalam?" Tanya Babas sambil menatap tajam pada Sofiyah saat pintunya sudah terbuka.
"Itu I... anu.... tadi...." Sofiyah malah tergagap tak bisa menjelaskan maksudnya padahal tadi ia sudah merancang kata-kata yang indah.
Basofi memindai penampilan Sofiyah dari atas dan berhenti di bagian dadanya yang kancingnya masih terbuka terlihat bra nya warna coklat tua. Tapi ada yang lebih menyita perhatiannya. Seperti ada luka bakar di bagian perut Sofiyah yang terlihat merah.
Basofi segera menyingkap bagian ujung kemeja Sofiyah agar ia bisa melihatnya dengan jelas. Sofiyah yang sadar langsung mendorong Basofi sampai pria itu hampir saja terjungkal.
" Kau telanjang pun aku tidak tertarik pada tubuh kerempengmu itu" ujar mulut pedas Basofi."Kenapa itu?" Katanya lagi melihat perut si gadis kecil.
Wow... mulutnya Babas pingin tak kasih madu biar bisa bicara yang manis-manis yang enak di dengar oleh telinga saja.
"Ketumpahan kopi. I tak sengaja" Kata Sofiyah sambil berbalik memunggungi sang direktur sambil mengancingkan bajunya. Hatinya terasa teriris, dia tahu tubuhnya memang biasa saja tapi haruskah pria yang kini berdiri di belakangnya itu berterus terang di depannya. Itu sungguh menyakitkan. Tapi ia berusaha agar air matanya tak sampai jatuh di depan bos besarnya itu.
"Kenapa kau ceroboh sekali hari ini?" Basofi benar-benar emosi . Ia ingin marah pada ibu tirinya tapi malah Sofiyah yang menjadi sasarannya.
"Maaf...!" Katanya sambil berjalan meninggalkan kamar mewah nya Babas.
Mikail yang kini sudah berada di situ mencoba menenangkan sang atasan.
"Sabar..! Kita baru saja pulang dari jum'atan masak sudah marah-marah lagi pak bos!" Kata Mikail agar Basofi mau melepaskan Sofiyah.
__ADS_1
"Jangan ikut campur kau Mek!" Kata Basofi dengan emosi.
Gadis itu mendengar Mikail berkata demikian. Antara percaya dan tidak karena selama ini kedua pria itu tak pernah menjalankan kewajiban seorang muslim di hari Jum'at. Kenapa tiba-tiba jadi bertaubat ? Sofiyah tak ambil pusing dan segera keluar dari ruangan direktur kemudian berjalan menuju ke tempat duduknya sambil menahan baju yang di pakainya agar tidak menempel di kulitnya yang terasa panas.
"Kau belikan salep luka bakar yang terbaik di apotik sekarang juga!!" Perintahnya.
"Sofi kenapa?" Tanya Mikail khawatir.
"Bukan urusanmu..!" Ketus Basofi.
"Dulu kau bilang aku bisa mengambilnya karena kau tak tertarik padanya. Kenapa kau menjilat ludahmu sendiri..?!" Katanya kurang ajar pada sang atasan.
"Mek, aku hanya tak ingin membuat mamaku sedih jika aku menolak untuk di jodohkan dengannya..." Kata nya dengan raut muka sedih.
"Alassan...!!" Gumam Mikail sambil berlalu pergi.
Basofi meneliti kamarnya dan melihat baju Sofiyah tergeletak di atas tempat tidurnya. Ia mengambil dan memeriksanya. Ada bekas noda kopi di baju milik gadis kecil itu. Lalu baju yang baru dipakainya tadi baju siapa, pikirnya.
"Apa dia memakai bajuku?" Basofi keluar dari kamarnya untuk memastikan dugaannya. Dari dalam ruang kerjanya dia mengamati Sofiyah.
Tiba-tiba terbersit dalam pikirannya, merasa curiga jangan-jangan ada karyawan lain yang usil pada calon istri kecilnya.
" Aya, ke ruangan saya sebentar!" Panggil Basofi pada Sofiyah melalui saluran telpon khusus mereka.
" Baik pak!" Kata Sofiyah dan ia segera berdiri untuk kembali ke ruangan pria menyebalkan tadi.
Dari tempatnya Basofi bisa melihat cara jalan gadis kecil berkulit putih itu tidak seperti biasanya. Ia menarik bajunya agar kain baju yang dipakainya tidak bergesekan dengan kulitnya.
"Ayo makan...!" Kata Basofi yang sudah duduk di sofa dan mulai menyuapkan mie menggunakan sumpit ke dalam mulutnya.
Gadis itu tak langsung menjawab, ia menatap Basofi sesaat ,"Saya sudah makan pak...!" Katanya kemudian.
Basofi yang mendengarnya langsung menelan makanannya kemudian menaruh sumpitnya dengan kasar. "Buang saja makanan-makanan ini " katanya sambil minum air putih yang tadi dia sediakan sendiri.
Setelah pulang jum'atan tadi dia mampir ke restoran milik kakeknya Sofiyah yang kini di kelola oleh saudara-saudara pak Basuki. Ia ingin makan bersama dengan Sofiyah tapi ternyata gadis itu malah sudah makan terlebih dulu tanpa menunggunya. Egonya sebagai lelaki seketika membuatnya marah.
__ADS_1
Sofiyah buru-buru mendekat dan langsung duduk tak jauh dari bos nya yang sedang galau. Sofiyah bisa merasakan kalau pria di sampingnya ini sedang kesal dan ingin meluapkan emosi karena kedatangan sang ibu tiri maka ia pun memilih untuk mengalah.
Ia mulai makan mi nya menggunakan sumpit yang tersedia. Dan ternyata Basofi mengikutinya, melanjutkan makannya lagi seperti anak kecil yang berhasil di bujuk rayu oleh sang ibu agar mau makan lagi.
Sofiyah yang teringat papinya yang juga sangat suka aneka macam mi menyusut hidungnya yang mulai berair. Si bos ternyata menyadari nya.
"Kenapa?" Tanya Babas.
"Hanya sedang ingat papi!" Katanya sambil memasukkan mi ke dalam mulutnya lagi.
"Siapa yang melakukan ini?" Tanya Basofi sambil menunjukkan baju milik Sofiyah yang tadi tertinggal di kamar sang direktur.
"Aku sendiri yang ceroboh..." Jawabnya singkat tak ingin mengadu. " Maaf saya pinjam ini tanpa memberi tahu dulu" Katanya sambil menunjuk baju yang melekat pada tubuhnya.
"Hem .." Jawab Basofi singkat.
"Oh maaf mengganggu sebentar.." Tiba-tiba Mikail sudah masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Ia menyerahkan salep yang diminta sang atasan di atas meja kemudian segera undur diri meskipun ia sangat ingin ikut makan bersama tapi ia tahu diri dengan posisinya.
Setelah selesai makan Basofi memberikan salep tadi pada Sofiyah yang tak langsung menerimanya. Gadis itu lebih suka kalau lelaki maniak huhui itu marah-marah padanya daripada memberi perhatian seperti ini.
"Kau ingin aku yang mengoleskannya?" Tanya Basofi dengan ide gilanya.
"Saya bisa sendiri pak...!" Kata Sofiyah sambil menerima salep itu dan hendak membereskan peralatan makan mereka.
"Biar Mek yang melakukannya.."
Membantah di saat atasannya emosi hanya akan membuatnya semakin meledak-ledak. Sofiyah kemudian hendak mengambil baju kotor miliknya tapi Basofi melarangnya dan tetap memegangnya dengan rapat.
"Aku juga mau laundry..." Kata si Babas tanpa melihat wajah gadis cantik di depannya.
Sofiyah kemudian menghela nafasnya sambil berjalan keluar.
"Panggilkan Mek!" Pesan si direktur pada gadis yang sering ia marahi.
__ADS_1
"Mek, periksa Cctv hari ini! Dan lihat di mana saja Sofiyah tadi" Begitu perintah direktur yang otoriter saat Mikail sudah berdiri di depannya.