
Basofi menggenggam jemari Sofiyah yang terasa dingin. Ia mengusapnya dengan penuh puja pada sang dewi yang sudah membuatnya bertekuk lutut.
"Kalau kamu nggak sanggup kita pulang ke rumah mama atau ke apartemen juga tidak masalah!" Kata Basofi melihat kegugupan sang istri.
Sofiyah menggelengkan kepalanya. Cepat atau lambat dia akan bertemu dengan keluarga besar papa mertuanya. Dari pada harus terus bersembunyi lebih baik menampakkan diri sebagai latihan uji nyali.
"Aku nggak pernah melihatmu panik seperti ini. Adorable!"
Sofiyah melirik suaminya yang tersenyum menunjukkan giginya yang rapi dan pastinya tampan sekali.
Cup
Bibir Basofi tiba-tiba sudah mendarat di pipi sang istri.
"Ko...!" Sofiyah menghadapkan wajahnya pada Basofi.
Tak menunggu kesempatan dua kali Basofi langsung menyambar bibir sang istri yang kini dipoles tipis dengan lipstik warna orange sesuai request darinya. Menikmatinya beberapa lama tanpa penolakan berarti, justru Sofiyah kini malah larut dalam pesona bibir arjunanya. Merasakan debaran jantung milik suaminya dengan tangan yang menempel di dada bidang sang pria.
Babas menyunggingkan senyum setelah melepas ciuman mereka karena melihat istrinya yang masih memejamkan mata seperti merasai kenikmatan yang masih tersisa di bibirnya.
__ADS_1
"Apa seenak itu bibirku?" Tanya Basofi sambil berbisik di telinga sang istri.
Blush...
Sontak Aya membuka matanya, malu sekali mendengarnya. Ia menggigit lengan Basofi saking nervous nya.
"Ahahaha...." Babas tergelak mendapati reaksi Sofiyah yang masih malu-malu jika dirinya bercanda sedikit vulgar.
"Bahagia bener sih. Mau tak gigit lagi?" Tanya Aya memelototi si suami.
"Mau, tapi bagian yang lain saja" Katanya sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Sofiyah yang tertutup kerudung.
"Aku jadi ingin yang lebih..." Bisiknya lagi.
"Ko.... ada pak Ali" Sofiyah balik berkata tanpa bersuara di akhir kalimatnya.
"Saya nggak lihat apa-apa kok non. Tenang aja!" Kata pak Ali yang duduk di bangku kemudi sambil tersenyum dan melirik keduanya lewat spion tengah.
Sofiyah membelalakkan matanya saking malunya. Wajahnya jadi terasa panas seperti sedang di panggang di atas arang. Ia pun memalingkan mukanya melihat keluar jendela sambil mengibaskan tangannya di depan mukanya sendiri.
__ADS_1
Sofiyah tiba-tiba merapatkan duduknya dengan Basofi karena melihat jalanan yang mereka lalui sangat sepi. Dengan senang hati Basofi menggapai pundak wanita yang kini mengisi hari-harinya.
Sepanjang mata memandang hanya pepohonan di kanan-kiri yang terlihat. Seperti jalanan menuju hutan.
"Ko, kita dimana? Apa kita tidak salah jalan?" Sofiyah mencengkeram paha Basofi karena ketakutan tapi matanya tetap melihat ke jalanan.
Basofi tidak menjawab pertanyaan Sofiyah hanya merapatkan pelukannya kemudian mencium kepala yang berbalut kerudung. Bau segar khas istrinya.
"Apa kau takut?" Katanya sambil memainkan tangan Sofiyah dengan tangan kirinya.
"Apa benar ini jalannya pak Ali? Apa kita tidak tersesat?" Tanya Sofiyah sambil menatap spion tengah.
"Tidak non. Memang benar ini jalannya" Jawaban pak Ali sesungguhnya tidak membuat Sofiyah menjadi tenang.
Sepertinya mereka sudah berjalan terlalu jauh dari kota. Tidak ada kehidupan di daerah situ. Sepi sunyi seperti tempat persembunyian para mafia yang menjadi buronan negara.
"Apa kita sudah berada di kota yang lain?" Tanya Aya sambil menatap Babas meminta jawaban yang bisa membuatnya sedikit tenang.
"Kita di perbatasan" Jawab Basofi sambil menenggelamkan kepala Aya di dadanya kemudian menciuminya agar sang istri tak ketakutan lagi.
__ADS_1