
Hari ini tak ada jadwal pertemuan penting dengan para klien. Agenda Basofi hari ini hanya memimpin rapat di dalam perusahaan terkait dengan perekrutan karyawan untuk bagian marketing setelah makan siang.
Jam kerja karyawan di perusahaan yang di pimpinnya adalah jam delapan hingga jam empat sore dari hari Senin sampai hari Sabtu.
Menjelang jam empat sore Sofiyah pun berusaha untuk segera menyelesaikan pekerjaannya sebelum jam kerjanya berakhir. Merangkum hasil rapat tadi agar esok pagi bisa diberikan pada direktur untuk ditelaah dan ditandatangani.
Meski awalnya sulit akhirnya Sofiyah bisa fokus pada pekerjaan nya kembali. Apalagi setelah solat Dzuhur tadi hatinya semakin tenang. Ia yakin pada apa yang dijanjikan Alloh bahwa jodoh itu adalah gambaran diri kita sendiri. Sofiyah sadar la juga pernah melakukan dosa besar itu beberapa kali. Kini ia tidak lagi fokus pada kelakuan Basofi tapi justru menangisi dosanya sendiri dan berharap semoga Alloh mengampuni.
Basofi lah yang tidak bisa konsentrasi dengan semua yang dikerjakannya saat ini. Ia berdiri dekat kaca pembatas ruangannya sambil menatap Sofiyah dan dilihatnya ada raut kesedihan disana. Saat rapat tadi ia melihat Sofiyah seperti baru saja menangis tapi ia tetap bisa bersikap profesional saat bekerja. Tenang menyimak dengan seksama sambil tangannya bergerak dengan lincah di atas keyboard laptop.
Basofi mengambil hape dari saku jas nya kemudian mengirimkan pesan pada Sofiyah.
'Kau tidak boleh pulang sebelum aku pulang....' Nadanya mengancam Sofiyah tapi sayangnya gadis itu tak takut sama sekali.
send
Basofi melihat hapenya.
centang dua, dibaca.
'Bukankah jam kerja karyawan dari jam 8 sampai jam 4?'
'Pengecualian untuk sekretaris direktur. Dia hanya boleh pulang saat direktur sudah mengizinkannya' Ketik Basofi kemudian dia mengirimkannya pada Sofiyah.
Sofiyah menghela nafasnya kemudian menaruh hape pribadinya itu disamping laptop yang sedang menyala di depannya.
Bel sudah berbunyi yang menandakan waktu jam kerja sudah selesai dan Sofiyah hanya menghela nafasnya.
Kalaupun pulang sekarang toh nanti malam juga harus mengerjakannya di rumah karena pekerjaan nya belum selesai, begitu ia menyemangati dirinya sendiri agar lebih enjoy menjalaninya.
Tiba-tiba handphone nya berbunyi dan ia melihat ada nama camer di sana. Sofiyah pun segera mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum sayang...." Sapa suara yang ada di seberang.
"Waalaikumsalam ma..."
__ADS_1
"Gimana hari pertama bekerja?"
" Baik kok ma..."
"Maaf ya tadi mama sakit perut jadi nggak bisa jemput kamu sayang..."
"No problem ma...." Jawab Sofiyah.
"Tadi di jahilin sama koko nggak?"
" Nggak lah ma. Sibuk sama pekerjaan masing-masing..." Jawab Sofiyah.
"Kalau ada cewek yang datang kamu harus bilang kalau kamu adalah calon istrinya. Kalau perlu ancam saja mereka! Mereka itu hanya mau menghabiskan uangnya si Babas yang gila itu. Koko mu itu bodoh. Sudah jelas-jelas diporotin mau saja...." Wanita yang melahirkan Basofi itu malah mengata-ngatai anaknya sendiri di depan calon menantunya. Tapi ia tak sampai hati mau bilang kalau Basofi itu sering colok sana sini. Ia benar-benar berharap Basofi bisa bertaubat karena kehadiran Sofiyah.
Sofiyah awalnya ternganga mendengar calon mertuanya itu malah menjelek-jelekkan putranya sendiri. Tapi beberapa detik kemudian ia seakan punya teman untuk menggunjing atasannya yang juga calon suaminya itu.
"Mama tenang saja! Fiah bisa menanganinya. Mereka tidak akan ada yang berani menginjakkan kakinya disini lagi." Kata Sofiyah bersemangat.
"Bagus! kamu...."
Telpon nya terputus dan wanita paruh baya yang sedang ada di mobil itu heran tapi tak coba menghubungi calon mantunya lagi. Ia akan menunggu sebentar lagi karena para karyawan sudah banyak yang pulang dan kini gedung itu sudah mulai sepi.
Sementara di lantai atas Basofi yang sudah melimpahkan semua pekerjaan nya pada Mikail kemudian berjalan ke meja Sofiyah yang sepertinya sedang asyik menelpon. Tak menghiraukan asistennya yang menahan marah karena kesewenang-wenangannya.
"Katanya aku boleh mendekatinya karena dia tak tertarik padanya. Bahkan burungnya tak bisa berdiri meski melihat Sofi ku dari atas sampai bawah dari pagi sampai malam. Tapi lihatlah tingkahnya...! Dari tadi pandangannya cuma pada Sofi ku seorang dan dia pasti memaksanya pulang bersamanya. Aku sumpahi kau melarat dan aku kaya raya sampai kau menjadi budakku dan aku akan memperlakukanmu sesuka hatiku. Hem....!!" Mikail menggerutu kemudian tersenyum dengan sinis membayangkan teman gilanya itu menjadi suruhannya.
"Rasanya aku tak sabar... bahkan.... meski dalam mimpi sekalipun aku ingin merasakan nya......" Mikail masih saja belum puas berandai-andai.
Sementara Basofi yang semakin mendekati Sofiyah samar-samar bisa mendengar pembicaraan nya. Dari nada bicaranya sepertinya Basofi tahu Sofiyah sedang berbicara dengan siapa.
"Ehem..." Basofi berdehem dengan keras dan itu sukses membuat Sofiyah kaget dan segera mematikan hapenya dengan kepanikan yang luar biasa. Tangannya harus menekan gambar telpon yang berwarna merah berkali-kali karena saking paniknya.
"Oh my God....!!" jantung Sofiyah berdetak kencang karena takut jangan-jangan Basofi mendengarkan ucapannya barusan.
" Siapa yang tidak berani ke sini lagi?" Tanya Basofi sambil menatap lawan bicaranya itu dengan tajam. Kedua tangannya dimasukkannya ke dalam saku celananya.
__ADS_1
Sofiyah tersenyum untuk menghilangkan rasa paniknya tapi beberapa detik kemudian ia langsung bertampang dingin.
"Apa salah satu pekerjaan direktur adalah menguping pembicaraan karyawannya? "
"Ka-u?" Basofi menuding Sofiyah kemudian menarik tangannya kembali dengan muka jengkel.
"Ikut aku... !!" Katanya sambil melewati meja Sofiyah.
Sofiyah mendesah kesal sambil mematikan laptop setelah menyimpan hasil kerjanya. Ia tidak segera beranjak karena menata mejanya terlebih dahulu agar tidak berantakan.
"Kau tidak dengar ucapanku...?!" Bentak Basofi.
"Iya pak, sebentar....saya bereskan dulu mejanya.."
"MEKkk.....! Kau bereskan mejanya!" Kata Basofi sambil menendang tempat sampah khusus rokok yang letaknya tak jauh dari Sofiyah. Sontak Sofiyah mengambil tasnya dan buru-buru mengejar Basofi. Tak ingin melihat laki-laki itu uring-uringan.
"Pak Mike saya duluan,.... maaf ya..!"
"Its ok. hati-hati!" Kata Mikail sambil tersenyum dan setelah Sofiyah berlalu ia mencak-mencak untuk menumpahkan kekesalannya sambil ngedumel tak karuan sampai ia capek barulah ia berhenti.
Di dalam lift Basofi memasang wajah kesalnya. Bagaimana bisa Sofiyah bertingkah lemah lembut pada asistennya dan kepada dirinya selalu memasang muka juteknya.
'Dan apa tadi panggilannya pada Mikail, Mike?' Batinnya.
"cih.., "
Sofiyah melirik Basofi yang sepertinya masih ingin marah-marah.
Begitu sampai di lantai bawah Basofi segera keluar dengan menyulut rokok. Ia memang perokok tapi sebisa mungkin ia berusaha tidak merokok di depan karyawannya agar tak menjadi contoh untuk semua anak buahnya. Namun kali ini ia benar-benar tak bisa menahannya. Padahal sebentar lagi dia akan sampai di mobil dan biasanya di sanalah dia akan merokok setelah pulang kerja.
Sofiyah mengikutinya di belakang tanpa berkata sepatah kata pun. Toh ia tadi pagi berangkat di jemput Daniel jadi sekarang kalau di antar pulang abangnya ya kebetulan sekali. Lumayan nggak harus naik gocar jadi uangnya tak berkurang.
Begitu sampai di depan mobilnya Basofi membukakan pintu depan untuk Sofiyah kemudian bergegas menuju tempat duduknya di belakang kemudi.
Dari jarak yang lumayan jauh mama Rosi yang melihat hal itu tersenyum penuh makna. Ia urungkan niatnya untuk mengajak calon menantunya pulang bersama dan melihat sepeda motor yang sudah dikirim ke rumah calon besannya.
__ADS_1