Kamu Bukan Yg Pertama

Kamu Bukan Yg Pertama
Talk


__ADS_3

"Gak usah pegang-pegang!" Kata Sofiyah dengan ketus.


"Ay, jangan marah!" Katanya sambil memeluk Sofiyah lebih erat lagi.


"Ayy.....!!" Suara Basofi terdengar serak karena air matanya jatuh lagi dan Aya bisa merasakannya. Wanita itu pun membalikkan badan dan melihat suaminya itu sedang menyusut ujung matanya.


"Kenapa koko nangis? Harusnya aku yang menangis dan marah!!!"


"Aku minta maaf!!" Kata Babas untuk sekian kalinya meminta maaf.


"Koko tuh jahat tau nggak?"


"Aku minta maaf" Katanya sambil memegang jemari Sofiyah.


"Nggak usah sentuh- sentuh aku!!"


"Maafin aku Ay!!" Wajah dan mata mantan playboy itu sayu.


"Minta maaf untuk apa???!!!" Pertanyaan yang sejatinya mengintimidasi. Nadanya marah penuh emosi.


"Aku udah ngediemin kamu...." Basofi tak berani menatap mata Sofiyah karena dia tak tahu kenapa hatinya jadi melow kayak anak-anak yang kepergok melakukan kesalahan dan sedang disidang orang tuanya.


Sofiyah duduk dan bersiap untuk memberikan ceramah panjang lebar pada sang suami.


"Bukan cuma itu. Aku tahu aku pernah melakukan kesalahan tapi kenapa koko tidak berpikir kalau koko juga pernah melakukannya juga. Bahkan bukan hanya sekali tapi berkali-kali dengan wanita yang berganti-ganti. Bukannya aku yang harusnya marah? Kenapa malah koko yang marah. Kalau koko boleh cemburu kenapa aku tidak boleh cemburu? Huhuhu huuuuu..... Koko jahat!! Koko jahat!!!! " Sofiyah mengeluarkan semua unek-unek dalam hatinya sambil memukul-mukul tubuh suaminya dengan guling.


Basofi kemudian ikut duduk dan tak sekalipun menampik serangan bertubi-tubi dari sang istri. Ia memegang kedua daun telinganya seperti anak-anak india saat mereka bersalah dan minta maaf.


"Aku bersedia dihukum apa saja asal kamu mau memaafkan aku. "


Melihat tindakan Basofi, Sofiyah malah semakin meraung-raung. Ia kesal tapi juga tak tega karena terus memukuli Basofi yang tak menghindar sama sekali. Ia menutup muka dengan kedua tangannya dan menangis sesenggukan karena tak bisa mengontrol emosinya.


Basofi kemudian memeluk Sofiyah yang ternyata diam saja menikmati bau khas tubuhnya. Merasa kalau istrinya sudah tenang ia pun mencium puncak kepala Sofiyah tapi ternyata Sofiyah malah menjepit bibir Basofi menggunakan jari-jarinya.


"Sudah berapa bibir yang merasakan bibir jelek ini. Huuuhuuuuu..... Sudah berapa kali bibir ini nyosor perempuan? Ha.., bilang sudah berapa kali??!!! Huhuhu ....... huu.....hu....." Sofiyah kembali marah-marah dan memukul pundak dan dada suaminya.

__ADS_1


"Maaf....! Terus aku harus gimana?" Tanya nya sambil menunduk dan meremas jari-jarinya.


"Bilang dulu berapa kali??!!" Sofiyah membentak-bentak sang suami.


"Banyakk....." Jawab Basofi tak berani mengangkat kepala.


"Dasar playboy tengikkkk! Koko itu sudah tua jelek pula. Tahu nggak??!!"


"Tahu... " Basofi masih duduk menghadap Sofiyah sambil menunduk tak berani melihat mata sang istri.


"Pokoknya koko nggak boleh pegang-pegang aku! Nggak boleh nyentuh aku!! Kalau mau mandi dulu sana sama kembang tujuh rupa!!!" Menakutkan sekali kalau si kecil mungil itu marah.


"Tapi aku pingin meluk kamu. Cium-cium kamu..."


Sofiyah melepas kancing baju suaminya dengan buru-buru membuat Basofi kebingungan dengan tindakan istrinya tapi dia diam saja. Pikirannya sudah kemana-mana dan berharap apa yang ada dalam otaknya yang akan terjadi selanjutnya.


Sofiyah melepaskan baju suaminya kemudian mengusap air mata dan ingus yang keluar dari hidungnya dengan pakaian milik sang suami. Setelah puas dia mengusap bibir Basofi menggunakan kain yang sama. Menggosoknya berkali-kali dengan gerakan yang kasar.


"Sakit sayang..." Basofi menghiba pada sang istri minta dikasihani.


"Kamu itu menyebalkan ko! Ughhh...." Ia mengepalkan kedua tangannya kemudian baju milik Basofi di unyet-unyetkan ke muka suaminya.


"Maaf..... !" Basofi menelan ludahnya, baru tahu ternyata istrinya yang berbadan kecil sangat menakutkan saat marah.


"Bisa diem nggak? Ngapain minta maaf terus?" Sofiyah membentak Basofi lagi. Ia kemudian berbaring miring memunggungi suaminya dengan muka yang ditekuk-tekuk dan rambut yang berantakan kayak tumbu jebrak.


"Sa-sayang.... nasi gorengnya gimana?" Basofi saat ini seperti seorang siswi ketakutan karena sedang di bully.


"Nggak usah panggil sayang-sayang!!"


"Cuma itu yang tersisa. Aku nggak pernah manggil mereka sayang. Aku cuma mau panggil sayang sama istriku seorang"


"Nggak usah nggombal. Nggak lucu!" Katanya belum mau merubah posisi tidurnya.


Basofi kemudian berdiri dan meninggalkan Sofiyah sendirian. Sofiyah yang ingin dibujuk dan dirayu penasaran juga kesal sebenarnya Basofi mau kemana. Tapi beberapa menit kemudian ia sudah kembali lagi dan bergabung dengan Sofiyah di atas kasur di dalam selimut yang sama. Ia pun memeluk Sofiyah dari belakang lagi.

__ADS_1


"Nggak usah pegang-pegang!" Kata Aya sambil menyingkirkan lengan suaminya.


Basofi membalikkan badan Sofiyah dengan sedikit memaksa agar istrinya mau melihat penampilannya.


"Apa sih ko?" Katanya dengan nada sengal meskipun ia suka karena memang ingin dipaksa. Hanya pura-pura ingin tahu sejauh mana Basofi akan memperjuangkannya.


"Lihat dulu!" Katanya Babas dengan nada merayu.


Sofiyah melihat tangan sang suami yang sudah dibungkus sarung tangan tebal yang biasanya di pakai pengendara sepeda motor. Memakai baju lengan panjang dan wajahnya juga sudah ditutup dengan masker sehingga yang terlihat hanya matanya saja.


"Kalau begini nggak papa kan? Tidak langsung bersentuhan?" Basofi melihat manik mata milik sang istri dan ternyata Aya hanya diam saja. Itu berarti dia tidak menolaknya. Begitu yang didengar dari ustadznya. Kalau wanita itu kerapkali kalau setuju itu cuma diam tapi kalau tidak setuju maka mereka akan spek up, berbicara.


Sofiyah mau membalikkan badan lagi tapi Basofi mencegahnya.


"Aku ingin bicara.... " Basofi memegang lengan Sofiyah meskipun kurang nyaman karena terhalang sarung tangan tapi kali ini ia benar-benar tulus ingin minta maaf dan mau mulai lembaran baru lagi sebagai suami istri.


"Aku minta maaf Ay! Kamu bisa menghukumku apa saja aku akan terima asal kamu mau memaafkan aku. Aku memang egois. Aku sendiri berlumpur dosa, bercinta dengan banyak wanita tapi aku tak terima saat aku tahu kalau kamu juga pernah melakukan hal yang sama. Maaf kan aku. Kamu mau kan memulai semuanya lagi. Kita sama-sama taubat dan memperbaiki diri?"


"Sok bijak tahu nggak?" Mata sipit Sofiyah menatap Basofi dengan kesal.


"Ya maaf. Aku kan baru belajar Ay...."


"Bisa diem nggak sih ko? Dari tadi bilang maaf maaf terus..." Suaranya masih saja ketus.


"Aku mau tanya sekarang. Kalau malam abis isyak koko pergi kemana? Kenapa ninggalin aku sendirian di apartemen?"


Basofi diam saja karena Sofiyah tadi menyuruhnya diam.


"Bisa ngomong nggak sih ko? Kenapa diajak bicara malah diam saja?"


"Ta-tadi kan kami nyuruh aku diam Ay?" Tanya Basofi terbata-bata.


"Hhiiih.... Tapi kalau ditanya itu jawab ko!!" Sofiyah kesal bukan main pada suaminya yang tak mengerti perasaannya.


'Ngomong salah, diem salah juga Terus aku harus gimana? Kenapa aku nggak pernah lihat mama ngambek sama papa? Ternyata ribet juga menghadapi wanita yang marah. Ya Nasib. Eh salah, Ya Alloh lembutkanlah hati istri sata. Sehingga tidak pernah lagi marah-marah.

__ADS_1


__ADS_2