
Hello everyone....!!! terimakasih buat kamu yang sudah setia menemaniku menulis dengan mendukungku melalui like, komentar, vote juga memberiku hadiah bunga atau kopi dan yang lainnya. Thank you very much pokoknya. Lope-lope deh buat kalian semua.
Aku mau mintak tolong boleh ya....! Aku lagi butuh nama buat bayi perempuan lucu yang nama awalnya L. Sama minta dua nama buat pelakor juga dua nama buat ibunya. Ini buat novel ku yang ini nih.
Udah pada mampir ke sana belum??
Aku itu paling sering lupa tentang nama orang jadi sering kesulitan kalau mau menetapkan sebuah nama buat tokoh-tokoh yang ada dalam ceritaku.
Dulu pas aku sekolah aja aku pernah jadi ketua kelas dan sampai aku lulus aku masih saja belum hafal nama-nama mereka padahal setiap hari aku absenin satu-satu. Heran sama otak gue ( ceile pakai gue-gue segala kayak anak kemarin sore ane)
Spesial buat Satriawanty, Mala, Tri Latifah, Nurianti, Susi Darmayanti, Luky Saldhytia , Tika karomah, kasih masukan dong....!
Mohon maaf dan makasih banyak sebelumnya....ā¤ļøā¤ļøš
*******
Setelah selesai makan dan solat Sofiyah pergi ke pantry untuk membuat kopi karena ia merasa mengantuk lagi. Hanya di tempat itulah Sofiyah bisa merasa nyaman selama beberapa bulan ini dia bekerja di perusahaan milik keluarga Basofi.
Para OB itu berbicara dengan sopan pada Sofiyah karena dia adalah sekretaris bos besar yang otomatis mereka juga harus memperlakukan Sofiyah dengan hormat. Berbeda dengan para staf yang selalu menggunjing dan menatap tidak suka padanya. Bahkan mereka juga secara terang-terangan menghina dan mencibirnya saat Basofi sedang tidak bersamanya.
"Eh ada bu Fiah...?" Kata para karyawan yang statusnya paling bawah di kantor itu.
"Mau bikin kopi ya bu?" Kata yang lainnya lagi.
Sebenarnya Sofiyah merasa risih di panggil bu karena usianya saja belum mencapai dua puluh tahun dan umur mereka juga lebih tua dari dirinya.
" Bu Sofi tumben nggak ikut meeting di luar sama pak bos..?"
"Kok tahu?" Tanya Sofi pemasaran.
"Iya tadi lihat pak bos sama pak Mikail jalan keluar. Kok tumben nggak sama bu Fia?"
"Nggak. Sebenarnya hari ini nggak ada meeting di luar. Nggak tahu pak Basofi pergi ke mana. Dia nggak ada bilang apa-apa"
"Hallah...!! kayak nggak tahu pak bos aja! Ya pergi cari enuk-enuk lah. Sekarang kan gadis-gadis itu nggak ada yang boleh datang ke kantor sama nyonya besar. Makanya kemarin-kemarin pak bos jadi alim begitu kan..? Dan mungkin sekarang lagi lapar. Lapar belaian dan kehangatan. Ahhhaha......"
"Shutt..!!" temannya yang lain menunjuk Sofiyah dengan dagunya.
__ADS_1
"Ups..!! Bu Fiah.... jangan bilang-bilang pak Bos ya kalau saya lancang ngomongnya..."
Sofiyah tak segera menganggukkan kepala, dia hanya tersenyum dikulum.
"Bu fiah... tolong....!! saya nggak mau dipecat... bu...!" Ia mulai terlihat ketakutan.
"Boleh tapi ada syaratnya..." Jawab Sofiyah membuat mereka penasaran.
"Eh syarat?" Mereka saling berpandangan satu sama lain. Syarat apa ya?
"Syarat? Sa-syarat apa bu Fiah ?" Tanyanya dengan cemas.
"Jangan panggil saya ibu. I belum dua puluh tahun lho..." Keluar lagi I nya Sofiyah.
"La-lalu lalu harus panggil apa bu?" kata si bawel yang kini terlihat agak takut.
"Fiah aja... Kan saya paling muda di sini...!"
"Wah nggak bisa Bu. Di lingkungan kerja harus panggil bu atau bapak pada atasan kita"
"Saya bukan atasan lho...!" Kata gadis bermata sipit itu sambil menuangkan kopi sachetan ke dalam cangkir.
" Iya terserah lah...." kata Sofiyah pasrah.
"Tapi bu Fiah, sekarang pak bos nggak suka godain cewek-cewek lho bu..... jadi kayak pendiem gitu. Dulu kalau lihat cewek bohay pasti di godain, di toel-toel. Terus ya bu, Pak Basofi dulu sering gonta-ganti sekretaris, yang seksi-seksi lagi. Ibu ini kayaknya lama banget. Kayaknya semenjak ibu jadi sekretaris nya pak Bos, pak bos itu kayak beda gitu bu....!"
"Tuh kan... ibu terus...." kata Sofiyah pura-pura serius sambil mengaduk kopinya.
"Eh iya, sudah kebiasaan bu... maaf.."
"Hahaha...." Mereka tertawa bersama.
Tiba-tiba ada seorang wanita dari depertemen pemasaran masuk ke ruangan itu.
"Ooohh... begitu ya kalau pak direktur nggak ada. Kerja seenaknya saja. Pantes sih.... kalian itu emang selevel. Ayo bubar bubar! kerja semua! Bukan ngasih contoh yang baik malah berhaha-hihi di sini. Mau makan gaji buta lu.....?" Katanya yang dimaksudkan untuk Sofiyah.
Dengan secepat kilat semua yang tadi ada di situ berhamburan keluar termasuk Sofiyah. Ia tahu dia memang salah jadi dia diam saja. Sofiyah juga tak ingin membuat masalah jadi ia segera membawa kopinya dan berjalan keluar.
bruk...
__ADS_1
"Ya Allah....!" Sofiyah berteriak kaget karena kulitnya terkena tumpahan kopi yang masih panas.
Wanita tadi dengan sengaja menabrak tangan Sofiyah sehingga kopi itu tumpah di bajunya.
"Ups sorry tak sengaja...!" Katanya tak ada rasa bersalah dan segera pergi meninggalkan Sofiyah sambil menutup bibirnya yang terkikik bahagia
Sofiyah segera menaruh cangkir yang sudah kosong tadi di meja. Ia mengikatkan kerudungnya lebih kencang di belakang lehernya. Untung hanya baju atasannya yang terkena tumpahan kopi. Celananya juga basah tapi itu bisa diakali jika saja ada baju ganti.
Sofiyah mengibaskan-ngibaskan bajunya karena kopinya tadi masih sangat panas dan itu mengenai sebagian kulit perutnya. Ia pun segera berjalan menuju ke lift untuk naik ke lantai atas sambil menahan bajunya agar tak menyentuh kulitnya.
Biasanya dia memakai outer atau jas terkadang juga memakai rompi tapi hari ini dia hanya memakai kemeja yang dimasukkan ke dalam celana sehingga tumpahan kopi tadi bisa dengan cepat menyentuh kulitnya.
Hanya gara-gara kurang tidur saja Sofiyah kurang fokus sejak pagi hingga siang ini.
Sesampainya di lantai atas ia yakin bos dan asistennya belum kembali ke kantor. Ia pun mengendap-endap ke ruangan bos memberanikan dirinya untuk meminjam baju si bos. Ia tak punya pilihan lain. kulitnya sudah sangat panas dan berdoa semoga saja tidak melepuh nantinya.
Ia sudah melepas kemejanya dan kini sedang asyik melihat isi lemari di kamar istirahatnya Basofi. Mencari baju yang sekiranya tidak terlalu menenggelamkan dirinya sambil berkali-kali meniup perutnya yang terasa panas.
Derap langkah kaki yang semakin mendekat membuatnya panik dan dengan segera ia mengunci pintu itu dari dalam tak ingin Basofi melihatnya dalam keadaan yang terbuka aurotnya.
"Hari Minggu kamu harus datang dan bawa pacarmu! Perkenalkan sebagai calon istrimu. Aku tidak suka kalau mereka bertanya kapan kamu menikah. Kami akan merayakan anniversary jadi kamu harus datang, nggak ada alasan. Kita juga akan melakukan pemotretan untuk foto keluarga..."
Sofiyah menguping di balik tembok mencoba mengingat itu suara siapa.
Tapi anehnya suara si bos tak terdengar sama sekali.
"Ingat itu! Kalau kau tidak datang aku akan meminta pada papamu agar mengeluarkan namamu dari kartu keluarga. Kau dengar itu?" Suaranya sangat menggelegar dan membuat Sofiyah merinding sampai melupakan rasa terbakar di kulitnya.
'Apa itu mamanya Daniel, madunya mama yang berarti mama tirinya koko?' Ia menutup mulutnya sendiri karena shock mendengar perkataan wanita tadi.
Kalau Daniel hidup bersama mama lalu mama kandungnya ini hidup dengan siapa. Apa hanya dengan papa? Tapi saat beberapa kali ke sana papa selalu ada di rumah mama.
Sofiyah jadi bingung sendiri bagaimana kehidupan rumah tangga yang di jalani calon mama mertuanya.
Sepi, sudah tak ada suara lagi.
"Ceklek ceklek ceklek"
Mata Sofiyah langsung terbelalak melihat gagang pintunya berusaha di buka dari luar dan itu pasti si pemiliknya yang ingin masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Saking paniknya Sofiyah tak langsung membuka atau mengancingkan bajunya. Dia malah berjalan mondar-mandir mencari kata-kata yang pas yang tidak membuat Basofi marah padanya.