Kamu Bukan Yg Pertama

Kamu Bukan Yg Pertama
suami istri


__ADS_3

Basofi keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk pendek yang cuma bisa menutupi area bawah pusar dan sedikit pahanya. Tak ada kecanggungan saat Sofiyah melihatnya malah dia berjalan biasa saja menuju ke kamar seolah dia adalah foto model yang melakukan peragaan busana khusus handuk.


Sofiyah yang masih duduk di situ menelan ludah sambil memalingkan muka karena melihat pemandangan indah di depan matanya. Meski tak berbentuk kotak-kotak tapi perut dan kulit Basofi mulus tanpa tato seperti yang pernah dibayangkan oleh Sofiyah.


Sofiyah memukul angin saat suaminya sudah masuk ke dalam kamarnya.


"Tadi aja ketakutan bentar-bentar panggil. Ay Aya ...Ay...! sekarang malah pamerin badan dan sok cool kayak gitu. Cuih". Katanya ngedumel sendiri.


"Kamu ngatain aku Ay?" Tanya Basofi dari dalam kamar yang tidak sepenuhnya ia tutup pada istrinya yang masih dalam jangkauan matanya.


" Jangan ge-er deh ko" Kata Sofiyah dag dig dug sambil melipat bibirnya dan tangannya bergerak menutup mulutnya karena tahu yang dikatakan suaminya memang benar adanya.


Sofiyah yang memang masih lemah tak ingin beranjak dulu dari tempatnya duduk dan tak lama setelah itu Basofi keluar dari kamar dengan tampilan yang berbeda. Memakai busana koko dan celana juga kopyah hitam di kepalanya. Sofiyah menjadi terpana melihat ketampanan suaminya sampai matanya berkedip-kedip saking tidak percayanya.


'Kenapa koko jadi tampan begitu?' Batinnya


"Di situ saja kalau masih lemas. Kalau aku sudah pulang nanti aku gendong ke kamar" Katanya sambil berjalan meninggalkan Sofiyah.


Sofiyah menentramkan getaran dalam dadanya dan bergumam untuk mengusir rasa takjub yang mulai merayap di sela-sela kalbunya. " Kenapa jadi dag dig dug begini sih? Mami.....!!" Ucapnya pelan.


"Dia bener-bener sudah taubat ya, kok bisa secepat itu?" Gumamnya lagi. Bukannya bahagia ada orang yang bertaubat Sofiyah malah terlihat kurang rela.


Suara adzan subuh memecah keheningan pagi itu. Panggilan adzan itu mengalun indah di telinga siapa saja meski suara orang yang mengumandangkannya seperti belum terbiasa.


"Itu bukan suara koko kan?" Tanya Aya pada dirinya sendiri saat mendengar suara muadzin yang berbeda dari biasanya.


Sofiyah kemudian melahap kue kemarin sore yang ada di bawah tudung saji sebelum dirinya pergi ke kamar mandi.


'Lho kok keluar banyak lagi?' Batin Sofiyah yang melihat darah berwarna merah di ****** ******** meski tidak sampai bocor di luar roknya. Mau tak mau Sofiyah harus mencucinya. Kepalang tanggung dia kemudian mencuci bajunya sendiri juga bajunya Basofi yang tersampir disitu sehingga ia cukup lama berada di dalam kamar mandi.


"Ay..... cepetan keluar! Ngapain lama banget di kamar mandi?" Tanya Basofi yang sudah pulang dari masjid dan kini berdiri di dekat pintu kamar mandi.


"Ko, minta tolong!" Kata Sofiyah sambil melongokkan kepalanya keluar.

__ADS_1


"Apa?" Katanya dengan raut muka tak terbaca.


"Ehm.... tolong ambilkan handuk sama.... pem-balut!" Kata Sofiyah sedikit malu.


"Dimana?" tanya Basofi lagi


" Handuknya menggantung di atas, kalau itunya di kotak kabinet paling bawah" Jelas Sofiyah.


"Itunya apa?" Tanya Basofi lagi pura-pura tidak mengerti.


"Itunya, pembalutnya!!" Sofiyah memoncongkan bibirnya saat Basofi menuju ke kamarnya. 'Dasar !'batin Sofiyah kesal.


Tok tok tok, Basofi mengetuk pintunya.


"Ini....!" Kata Basofi setelah menemukan apa yang diminta oleh istrinya.


" Makasih " Kata Sofiyah sambil mengambil barang-barang yang dimintanya.


Setelah selesai mencuci ia kemudian membersihkan tubuhnya sampai bersih. Tong yang berisi pakaian ia taruh di bibir bak kamar mandi dan nanti akan dijemurnya setelah selesai berganti pakaian.


"Ya Allah ko!!! Bikin kaget saja!" Sofiyah kaget ketika keluar dari kamar mandi dan mendapati Basofi ada di depannya. Ia menghantam lengan Basofi dengan tangan kecilnya yang lemah.


Basofi langsung menelan salivanya mendapatkan pameran gratis dari istrinya. Bukan termasuk kategori seksi seperti wanita-wanita yang menjadi teman ranjangnya tapi entah kenapa ia malah berhasrat untuk mencicipinya. Apa mungkin karena dia sudah lama tak melakukannya jadi dia sangat menginginkannya sekarang?


Lagipula Sofiyah adalah istrinya yang berarti halal untuk dinikmati. Apa sekarang dia sudah boleh berbuka? Basofi sudah cukup lama, menurut versinya untuk menahan agar tak berbuat zina lagi dan sekarang sudah ada yang halal, dia tidak ingin menundanya lagi.


Tapi kemudian ia ingat kalau Aya baru saja meminta diambilkan pembalut. Itu artinya dia sedang datang bulan dan tidak boleh melakukannya.


'Sial' umpatnya tapi hanya dalam hati saja


"Kau sedang men?" Tanya Basofi sambil membuntuti istrinya yang jalannya terlihat aneh seperti menyembunyikan sesuatu diantara kedua kakinya.


"Bisa keluar sebentar ko, aku mau pakai baju..." Kata Sofiyah saat sudah sampai di kamarnya.

__ADS_1


"Pakai saja! Memangnya kenapa? Kita ini suami istri kalau kau lupa!"


Sofiyah yang mau mempertahankan egonya menantang dirinya sendiri untuk memakai bajunya satu persatu di depan lelaki yang sepertinya ingin meremehkannya. Dengan rasa malu yang luar biasa dia melakukannya. Dimulai dari CD, bra, kemudian memakai atasan dan bawahan. Yang terakhir dia membenarkan letak pembalutnya karena ia tidak membuka perekatnya tadi sehingga tempatnya bergeser tidak seperti seharusnya.


.


.


.


CURHAT DONG MAHH!!!!


IYA DONGGGG!!!!


Para pembaca yang budiman, aku mau curhattt, tolong didengerin ya??!!


Aku tidak menyangka diantara cerita-cerita yang ku tulis ' BUKAN YANG PERTAMA' ini adalah yang paling banyak peminatnya dan pembacanya paling stabil. Meskipun aku sadar kenapa tulisan-tulisan ku sepi pembaca . Ya karena memang ceritanya kurang menarik, gaya bahasanya masih kaku, masih banyak tipo di mana-mana. Tapi entah kenapa di tulisanku yang ini pembacanya setia-setia sekali.🤭🤭 Meski belum sampai ratusan apalagi ribuan yang meninggalkan like nya tapi menurutku ini yang paling banyak.


Sebelum menulis novel ini aku cukup galau dan merenung untuk beberapa lama. Menulis novel dengan tema casanova seharusnya harus penuh gairah yang meledak dimana-mana. Bagian itu-itunya juga seharusnya ditonjolkan dan dijabarkan sedemikian rupa tapi aku nggak bisa kalau harus detail menjabarkan bagaimana gaya mereka dalam bercinta, takut kalau-kalau anakku suatu saat baca tulisanku ini.


Dan lagi aku khawatir jika semakin banyak yang menulis tentang hal-hal yang vulgar dan casanova, masyarakat akan semakin merasa itu adalah hal yang lumrah dan biasa saja melihat fenomena ini.


"Jaman saiki yo wis ngunu iki, yo opo maneh"


"Arek saiki seng jek prawan yo mung keno di ijir nganggo driji"


"Jaman wis ngene jek onok ta arek jek joko"


Dan berbagai komentar yang menganggap itu adalah hal lumrah yang sudah biasa terjadi di masyarakat kita padahal itu adalah salah satu dosa besar yang dibenci oleh Alloh dan rosul Nya.


Aku butuh waktu cukup lama untuk berpikir apakah yang kutulis ini akan bermanfaat atau tidak sama sekali. Dan yang ingin ku tekankan disini sebenarnya adalah bahwa setiap orang bisa berubah, bisa tobat dan mendapat hidayah. Juga pasti ada ujian didalamnya untuk mengetahui apakah kita sungguh-sungguh bertaubat atau tidak.


Tolong digarisbawahi ya beberapa poin pentingnya.

__ADS_1


Semoga kita dan keluarga kita, anak cucu kita, dijauhkan dari zina dan semoga kita senantiasa terjaga kesuciannya.


Aku berjanji pada diriku sendiri tidak akan menulis cerita tentang casanova lagi selain "Bukan yang pertama" ini , semoga aku bisa menepati janjiku sendiri.


__ADS_2