Kamu Bukan Yg Pertama

Kamu Bukan Yg Pertama
tangannya halus


__ADS_3

Aku dan Sofiyah sudah berada di jalan sekarang. Aku memakai helm teropong yang kubawa dari rumah agar nanti tak ketahuan saat masuk gerbang perusahaan. Aku bersemangat sekali hari ini karena ingin mengerjai Aya dan dari semalam aku sudah mengirim pesan pada Aya kalau kami akan berangkat lebih pagi, jam tujuh. Aku membuat alasan ada yang harus ku selesaikan pagi-pagi sekali. Setelah mengirim pesan kumatikan hapeku agar aku tak mendengar penolakan Aya dengan bermacam alasannya. Titik.


Dan tadi pagi-pagi sekali mama melihatku berangkat kerja dengan membawa helm dan dia tersenyum sambil mengejekku,"Koko bucin.... semangat banget.. Jam segini sudah mau berangkat aja. Di kantor paling cuma ada security doang ko. Nggak sarapan dulu ko?!."


"Nanti saja di kantor. Berangkat ma..."


" Iya hati-hati. Duh yang lagi jatuh cinta. Bucin banget anak mama....!"


Yaelah mama tidak tahu saja kalau kami ini sedang bersandiwara mama. Aku cuma mau mengerjai dia saja. Nggak ada yang spesial dari Aya, batinku.


Saat sampai dirumahnya hanya ada Aya seorang. Dia sudah rapi dengan setelan kemeja dan blazer dipadupadankan dengan celana bahan yang tidak terlalu ketat. Wajah dan rambut nya dibalut dengan kerudung dengan warna senada. Lumayanlah penampilannya nggak jelek-jelek amat. Kalau dibawa keluar buat ketemu klien nggak bikin malu.


"Papi minta maaf karena harus ke sawah pagi-pagi tadi." Kata Aya membuka suara.


"Hm.,"Jawabku tanpa membuka mulut.


"Mami juga minta maaf karena harus ke pasar untuk belanja keperluan pondok pagi-pagi sekali..."


"Ya sudah ayo berangkat sekarang! Mana kontaknya?" Kataku sambil menadahkan telapak tangan padanya.


Mobil sudah ku parkirkan di dalam kawasan pondok di samping tempat tinggalnya Aya.


"Pak.. saya tunggu di depan sana ya !. Nggak enak sama anak-anak pondok.."


"Hmm" Jawabku lagi.


Memang jam segitu kawasan pondok itu terlihat mulai riuh dengan aktifitas anak-anak sekolah yang mulai berdatangan, mungkin itu adalah anak-anak kampung yang sekolah di dalam pondok.

__ADS_1


Kupakai helm teropong yang kubawa dari rumah tadi lalu ku panaskan mesinnya sebentar karena ini baru pertama kalinya dan aku juga baru kali ini memakai motor matic seperti ini.


Aku punya motor cowok tapi mesinnya kan manual. Jadi kemarin aku bahkan harus belajar terlebih dahulu memakai sepeda motor matic yang ada di rumah. Entah punya siapa itu? Tapi ternyata motor matic itu lebih mudah. Cara pengoperasiannya hampir mirip dengan mobil matic. Aku berputar-putar di sekeliling halaman rumah dan tentu saja aku langsung menguasai bagaimana cara memakainya.


Kumatikan motor saat sudah sampai di dekatnya lalu standar samping ku turunkan.


"Coba!" Kataku sambil turun dari motor.


Aya pun mulai naik ke atas motor kemudian memutar kunci kontak pada posisi netral dan lampu berwarna hijau mulai menyala. Tapi kemudian dia diam saja. Seperti perkiraanku dia pasti belum bisa.


Aku ikut naik ke atas motor dan duduk di belakangnya.


" Naikkan dulu standar nya baru putar kunci kontaknya pada posisi on. Kalau lampu hijau ini sudah menyala...secara bersamaan tekan tombol elektrik starter dan tarik tuas rem dengan perlahan!" Aku mempraktekkan bagaimana caranya dengan posisiku berada di belakangnya. Kalau ada orang yang melihat kami dari belakang pasti orang mengira aku sedang memeluknya.


"Brum brum brum brummm...." Setelah sepeda motor berbunyi maka kumatikan lagi mesinnya.


Aya pun mempraktekkan seperti apa yang aku ajarkan.


"Kalau sudah begini lepaskan remnya dan gas secara perlahan!" Ku sentuh tangannya agar dia melepaskan jari-jarinya dari tuas rem dan tangan kananku ku letakkan diatas tangan kanannya kemudian ku tarik ke belakang secara perlahan maka motor pun berjalan secara perlahan di gang desa yang terletak di pinggiran kota ini.


"Pak saya sudah bisa. Tolong tangannya...!" Kata Aya yang langsung membuat harga diriku jatuh seketika. Sebegitunya dia tak menyukaiku.


"Nanti! kalau aku rasa kamu sudah bisa menguasai jalanan..." Aku pun tak mau kalah.


"Tapi pak....."


"Bisa tidak kalau diluar kantor kamu tidak memanggilku seperti itu..." Akhirnya keluar juga kata-kata itu karena tak tahan mendengarnya memanggilku demikian. Aku cuma merasa aneh dan nggak nyaman aja. Bukan karena menginginkan sesuatu yang spesial darinya.

__ADS_1


Dia diam saja setelah itu tak menjawab maupun menyangkal. Dalam keadaan seperti ini aku malah merasa nggak enak lebih baik mendengarnya marah dan ketus daripada dia diam seperti itu.


Ku lepaskan tanganku dari tangannya agar dia tak marah lagi.


"Asal kau tahu, aku melakukan semua ini untuk sandiwara kita agar orang tua kita tak curiga. Terutama.... karena papimu memintaku untuk menjagamu". Kataku dengan suara yang keras dan terdengar ketus disamping telinganya yang tertutup helm. Aku tidak mau dia menyangka yang bukan-bukan dan berharap lebih pada hubungan kami.


Kubiarkan dia membawa motor dengan kecepatan pelan di jalan raya. Dan sekitar 10 menit kemudian kami bahkan belum mencapai separuh jalan menuju ke tempat kerja.


"Berhenti dulu!" Kataku memberi perintah. Aya pun segera meminggirkan motornya kemudian berhenti di samping trotoar. Lelet sekali dia ini. Kalau begini mungkin baru besok pagi kami akan sampai di kantor.


"Kamu di belakang!" Kataku tanpa melihatnya.


Jujur saja ini pertama kalinya ada cewek merajuk padaku. Biasanya tak ada yang berani seperti ini padaku. Memangnya mereka mau kucampakkan begitu saja kalau mereka berulah. Coba saja! Akan ku tinggalkan begitu saja karena yang lain akan datang secara suka rela. Bahkan aku tak perlu mencari, mereka yang akan datang sendiri.


Setelah Aya duduk dibelakang aku pun menjalankan motor dengan kecepatan sedang. Tak ada percakapan diantara kami sama sekali.


Ku tarik gas dengan sedikit kencang saat lampu lalu lintas sudah menyala hijau dan Aya yang tersentak kaget segera mencengkeram punggungku. Aku tersenyum dibalik helm ku. Tahu begini aku akan mempermainkannya seperti ini seperti yang sudah ku rencanakan sejak kemarin.


Sekitar 500 meter dari pintu gerbang perusahaan aku menurunkannya agar tak ada yang melihatku berduaan dengan Aya. Bisa jatuh reputasiku sebagai playboy.


Kulepaskan tali helmnya dengan posisi kami saling berhadapan. Dia memalingkan matanya seperti jengah sehingga aku bisa memperhatikan wajahnya dengan seksama. Kulit putih, wajahnya oval hidungnya tak mancung juga tak pesek. Bibirnya indah dengan bagian bawah sedikit tebal dan menggantung seksi. Matanya sipit seperti mata papi itu yang paling aku benci darinya.


"Kamu jalan sendiri aku tidak mau ada yang melihat kita naik motor berdua seperti ini!" Kataku sambil menaruh helmya di dalam jok sepeda motor.


Segera kutarik gas agar melesat dengan cepat dan segera sampai di parkiran.


Tunggu..... Aku melihat dari kaca spion ada motor yang mendekati Sofiyah. Aku pun segera berhenti dan menoleh ke belakang.

__ADS_1


"Oh sial.... Si Mikail itu kenapa mencoba menggoda Aya" Aku mengomel sendiri kemudian kembali melajukan sepeda motor Aya menuju ke perusahaan.


__ADS_2