
"3 bersaudara.. kedatangan putri weraa membuat lukisannya menjadi seperti ini? Kau yang melukisnya Mark? Ada rasa sakit, putus asa, kecewa, keinginan balas dendam.. namun kau meletakkan cahaya kecil disana sebagai simbol harapan yang kecil.. namun kemudian awan menutupinya.. kau yakin.. bahwa ada hati yang hangat di hati putri weraa? Boleh kutanya mengapa kau yakin?" Tanya Wadma.
Ep.101
"Aku tidak terlalu yakin, tapi.. dia pernah menyelamatkan seekor kucing yang hampir tertabrak remaja yang tengah belap liar.." Ucap Mark.
"Permisi nona.." Ucap seorang pria dengan jas yang rapi membawa beberapa dokumen.
"Dia pengacara kalian.. aku akan urus bagian keluarga yang ditinggalkan.." Ucap Wadma.
"Kau ingin mengurangi masa tahanan kami? Mengapa?" Tanya Mirkah.
"Aku tau benar air mata palsu dan benar.. kau hanya takut jika putri weraa akan membunuh kedua adikmu.. seorang kakak yang bertugas menggantikan posisi ibunya.. bagaimana aku tidak memikirkan perasaan seorang seperti itu? Tapi aku tak berjanji.. aku akan lihat bagaimana kondisi orang tua Sharika, Kartika, dan Cantika.." Trimakasih adalah kata yang tak cukup untuk diucapkan mirkah itulah yang ia pikirkan. "Mark.. ayo lukis sesuatu yang indah untuk gadis itu bersama-sama.." ucap mirkah dengan semua mulai mengambil kuasnya. Pengacara itupun bingung mencoba berbincang namun mirkah malah berkata "jangan tanya apapun.. aku sekarang hanya ingin berterimakasih pada gadis baik itu.. tidak peduli jika aku dan Randi di penjara seumur hidup.. aku akan tenang jika bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat untuknya.." Ucap Mirkah.
"Apa kalian akan meninggalkan ku lagi.." Ucap Mark.
__ADS_1
"Hiduplah dengan damai.. kau harus tetap tegar.. jangan ikuti langkah buruk kami berdua.. dan jika kau bisa membantu gadis itu.. maka bantulah dia.." Ucap Randi membuat Mirkah melihatnya lega.
"Akhirnya adikku yang satu ini kembali.." ucap mirkah tersenyum sementara Randi hanya diam tanpa emosi memoleskan cat di kanvas.
***
*Cevin POV
"Dia yang mereka maksud bukan aku.. melainkan weraa.. Itu sebabnya aku melihat sihir para ratu juga ada sangkut pautnya dengan utuhnya arwah Putri Weraa.. tapi mengapa para ratu tidak menemuimu Cevin?" Tanya Wadma padaku.
"Hei.. kok diam aja sih.. ngomong dong.." Ucap Wadma.
"Jika aku tau.. mungkin aku akan mengatasinya sendiri.. kau tau sendiri aku tau jati diriku setelah paman Wansa menunjukkan surat itu.." Ucap Cevin.
"Jadi kita akan kemana?" Tanya Sandi menyetir.
__ADS_1
"Ini.. kau tau ini dimana?" Tanya Wadma.
"Rumah orang tua Cantika.. tentu saja aku tau setelah rumahnya ikut disorot di semua pemberitaan.." Ucap Sandi.
Aku melihat kedua orang ini memiliki aura perasaan satu sama lain. Benar, aku tidak bisa berbohong jika aku tidak jatuh cinta pada gadis ini. Namun, aku juga tak bisa berbohong bahwa ada hal besar yang aku sembunyikan dan tak bisa ku beritau mereka. Akan lebih baik jika mereka tak mengetahuinya.
"Aku harus segera membawa weraa ke dimensi sihir agar ia tak menghancurkan dunia manusia.." batinku.
Sesampainya dirumah Cantika aku tidak ikut turun ataupun masuk. Aku memilih kembali ke rumah tempat aku menginap. Sampai dirumah aku membuka kembali surat itu tulisan yang akan terlihat jika terkena sinar mentari itu bertulisakan "Bulan itu bersinar karena dibantu sinar matahari dan dikelilingi kegelapan langit malam.." begitulah bunyinya.. siapa dia? Yang akan menghancurkan matahari? Aku menutup kembali gulungan kertas itu dan menyimpan nya dengan sihir dan tiduran di sofa.
"Bulan yang bersinar itu.. siapa?" Ucapku terbayang putri weraa dan Weraa serta laki-laki yang satu itu apa mungkin dia?
***
*Sandi POV
__ADS_1
Dikatakan seperti apa rasanya, aku cemburu melihat Cevin guru Wadma satu itu pasti memiliki perasaan yang sama terhadap Wadma. Meskipun dia pergi meninggalkan kami berdua saja tetap saja aku tak bisa menjadikannya rivalku. Setelah ia menghilang dengan teleportnya kami masuk kerumah besar itu dan disambut orang tua Cantika.