
"Sudahlah tak perlu memaksakan kehendak.. Kalian tak boleh memaksa orang lain melakukan sesuatu.. Dalam persahabatan saja kita tak boleh melakukan itu! Apa lagi pada orang lain!" Ucap Shanti kesal.
"??!"
"Shanti!!" Ucap Sarah bermaksud agar semuanya berhenti.
"Kenapa? apa kalian tak merasa bahwa sheli selama ini menjaga hubungannya dengan kita agar tetap biasa saja seperti teman biasa.. Dia tidak ingin berhubungan dekat dengan siapapun di hidupnya.. Kenapa? Ah.. Benar gosip yang beredar itu yah.. Seorang teman yang tak melakukan apapun saat teman dekatnya di bully teman sekelas? Kau kira kami tak tau rumor itu.. Owh.. Bukan rumor! Aku lupa itu faktanya.."
"Apa yang.."
"Mengapa? Biar ku jelaskan juga kau begitu karena hanya ingin dekat dengan satu teman yaitu weraa.. Owh maaf masa itu masa smp dan itu berarti dia bukan weraa tapi loosa.. Aku jadi penasaran kau ini ingin berteman dengan siapa sebenarnya?"
"Aku.."
"Shanti.. Berhenti.. " Ucap Nisa.
"Nisa! Kau yang berhenti! Dari dulu aku ingin mempertanyakan padanya apa dia benar-benar menganggap kita sahabatnya?? Masalah ayahnya terlibat pembunuhan, ibunya pengedar narkotika, dan keluarganya yang hancur! Itu semua!! Apa dia tak pernah sekali pun mengganggap kita sahabat sampai kita harus tau semua itu dari berita di tv??"
"shanti.." Ucap Nisa lagi.
"Apa dia pernah bercerita tentang masalahnya itu pada setidaknya salah satu dari kita?!"
"SHANTI!!!" Bentak Nisa membuat yang lain terkejut melihat nisa yang tak pernah berteriak sekeras itu.
"Cukup! Pada dasarnya kita masih belum mengerti satu sama lain!" Ucap Nisa lagi sambil menghela nafas. Namun, setelah itu Sheli terlihat menahan air matanya dan segera mengambil tas dan keluar dari apartemen itu. "Sheli!" Panggil nisa namun shanti berkata lagi.
__ADS_1
"Biarkan saja! Jika dia mengganggap kita sahabatnya dia akan kembali.. "
"Shanti? Sejak kapan kau mengikuti emosimu seperti itu??" Tanya Rinjani.
"Rinjani benar.. Tak seharusnya kau menyinggung permasalahan yang telah berlalu.. Apalagi itu buakan masalah sepele.." Ucap Ririn.
"Itu yang kumaksud seharusnya dia bercerita tentang masalahnya agar ia tak kesulitan sendiri... Keluarga kita bisa membantunya.. " Ucap Shanti.
"Keluarga kita sudah membantunya.. Kau yang membuat dirimu merasa tak dianggap teman shan.. Bukan sheli!" Ucap Sarah.
***
"Dia.." Ucapan Wadma yang tiba-tiba merasa bersalah.
"Bagaimana waktu itu aku tak melihat masa lalunya??" Tanya Wadma.
"Makanya jangan lakukan sesuatu saat kau sedang emosi.. Dan bila itu soal aku kau tak perlu hawatir aku bisa mengurus diriku sendiri.."
"Cih.. Lalu kau ingin aku diam saja saat dia mengata-ngataimu? Bagaimana bila satu sekolah membicarakanmu dengan gadis itu? Kau bahkan tak memberitau kedua sahabat mu itu! Bagaimana kau bisa hidup nantinya karena semua komentar jahat itu??" Celotehan Wadma malah membuat sandi tersenyum geli.
"Hei!! Mengapa kau tersenyum seperti itu??" Tanya Wadma.
"Tidak.." Ucap Sandi menggeleng-gelengkan kepalanya.. "Ah iya.. Ini ponselmu.." Ucap Sandi memberikannya dan mengelus kepala Wadma secara perlahan "Jangan hawatir soal dramamu.. Aku sudah mengurusnya.." Ucap Sandi berbicara mendekatkan wajahnya pada Wadma.
"Hei! Jangan karena kau lebih tinggi dariku, kau menundukkan kepalamu.." Ucap Wadma memukul tangan Sandi.
__ADS_1
"Maaf.." Ucap Sandi tersenyum
"Yaampun.. " Wadma tiba-tiba berbicara sambil menatap kosong.
"Ada apa?" Tanya Sandi.
"Kepercayaan yang luntur akan membuat suatu masalah.. Aku melihat para gadis itu sepertinya bertengkar.. Sejak kapan mereka bersahabat btw??" Tanya Wadma.
"Siapa??" Tanya Sandi.
"Sheli dkk.." Jawab Wadma.
"Ah.. Itu.. Mereka baru 2 tahun kira-kira.. Tapi dari yang kudengar Loosa atau weraa sudah dekat dengan sheli dari kecil kan??" Ucap Sandi mengingat obrolan kemarin.
"Kau juga pasti tau karena kejadian kemarin.. Sheli.. Keluarganya lumayan rumit.. Tapi itu sudah berlalu.. Mereka hanya salah paham.."
"Tapi.. Bagaimana kau tau mereka sedang bertengkar??" Tanya Sandi lagi.
"Aku mengawasi mereka.. Tadi aku juga memberi Sarah kekuatan baru saat kau sedang kesal dan menyebalkan tadi.." Tutur Wadma.
"Hah?" Sandi terkejut karena Wadma perlu kekuatan lebih besar untuk melakukan itu.
ME_Mawad
KSW_Part76
__ADS_1