
"Hei! Bagaimana jika kau buat ketegasan dan kepastian dengan Weraa agar kak Adri tak … (Melihat pintu yang terbuka oleh Weraa yang terhenti melihat Wansa disana) mengejarnya..” Ucap Rinjani.
“Weraa?!” Ucap Rinjani dan Wansa yang terkejut satu sama lain.
“Ck!” Tersenyum sinis dan berjalan mendekat di hadapan Rinjani. “aku menghawatirkanmu.. Karena itu aku membawa makanan dari kantin.. Yang menchatmu tadi bukan Senior.. melainkan Sheli.. Tapi aku bahkan sudah tau kau dimana sebelum kau mambalas.. Kau mengatakan saat kau sedang ada masalah kau terbiasa merenung sendirian..” Ucap Weraa melihat Wansa yang menatap Weraa.
“Aku pikir kau akan sakit bila kau tak makan.. karena jika kau terlalu banyak berpikir pikiranmu akan kelelahan.. jadi aku membawakan makanan agar Pikiranmu tidak akan membuat kepalamu sakit.. Tapi, sepertinya lain kalia aku harus membwa 2 untuk pria ini juga..” Ucap Weraa berbalik keluar namun berhenti karena panggilan Wansa.
“Tunggu! Weraa! Kuharap kau tak salah paham..” Ucap Wansa yang dilanjutkan oleh Rinjani “Aku bisa jelaskan Wer..” Ucap nya.
“Jangan jelaskan apapun.. aku sedang mencoba tak salah paham.. Aku bahkan tak mengerti dengan jantung ini..” Ucap Weraa pergi berlari dengan mata berkaca-kaca. Ia datang kekelas mengejutkan semua murid. “Weraa? Kau sudah bertemu Rinjani?” Tanya Nisa.
“Mengapa matamu berkaca-kaca?” Tanya Ririn dengan Santi yang menyiku perutnya.
“Au!! Sakit woe!” Bentak Ririn.
__ADS_1
Weraa mengambil tasnya dan keluar dari kelas membuat semuanya bingung. Ia bahkan berlari dengan sangat cepat tanpa ia sadari dia sudah ada di luar sekolah dan sudah berada di taman jalur dimana ia berjalan ke betlan school dulu.
Weraa duduk di kursi taman dan menutup wajahnya. Matanya yang sejak tadi menahan air matapun melepaskan ledakan dengan Weraa yang menangis dengan perasaan aneh. Wansa mengejarnya namun, menjaga jarak karena weraa bisa menyadari keberadaannya.
“Mengapa aku menangisss…Hiks.. Hiks.. Dia mengembalikan semua emosiku.. Bahkan tangisan ini.. mengapa ia melakukan ini padaku?”
“Apa yang kutangisi sebenarnya?? Aku bilang aku mencoba tak salah paham kan? Benar!” Ucap Weraa mengusap air matanya mencoba tersenyum. “Benar! Tapi tak bisa! AH!! Apa mauku? Dengar jangan gila! Lakukan keinginanmu! Baiklah! Ayo lampiaskan keinginanmu!” Ucap Weraadengan Wansa yang tersenyum lucu.
Namun, seketika Cantika mengejutkannya dengan muncul tiba-tiba. “Aish! Mengapa kau selalu muncul tiba-tiba?!!” Bentak Weraa dengan Cantika yang terdiam.
“Aku sudah sering melakukannya mengapa kau marah? Aku hantu! Tentu saja aku muncul tiba-tiba.. Dan mengapa kau terkejut hari ini? Biasanya kau menatapku tanpa emosi..” Keluh arwah gadis satu itu.
“Kau juga menyadarinya? Bagaimana aku menghilangkan emosi satu ini? Yaampun..” Ucap Weraa melangkah dengan cepat dan mencari taksi. “Kau mau kemana?” Tanya Cantika. “Beli barang, makan ice kream dan yang bisa membawa perasaanku lebih baik..” Ucap Weraa.
“Apa kau sedang sakit?” Tanya Cantika.
“Aku Sehat wal afiat! Ah.. benar mengapa kau disini? Bagaimana dengan Dinda?” Tanya Cantika.
__ADS_1
“Mereka membaca buku harianmu tentang pria itu.. Mereka kan belum terlalu mengenalmu apa lagi kau itu sangat datar dan sulit menebak ekspresi senangmu.. Karena itu aku kan sudah mengenalmu.. makanya aku memilih bermain seperti biasa bersamamu…”
“Kau bilang apa?” Tanya Weraa kembali datar sementara Wansa pergi keapartemen Weraa untuk menyelamatkan 2 arwah dan seorang gadis dari kemarahan Weraa.
***
“Weraa kenapa?” Tanya Sarah.
“...”
“Rinjani? Apa yang kau sembunyikan? Bagaimana kau bisa membuat matanya berkaca-kaca?” Tanya Nisa.
ME_Mawad
KSW_Part20
__ADS_1