Kehidupan Song Weraa

Kehidupan Song Weraa
Ep.103


__ADS_3

"Tapi.. mereka memang bukan manusia.. manusia macam apa yang menyiksa anak mereka sendiri dan menumbalkan anak mereka sendiri?"


Aku hanya terdiam terkejut menatapnya lagi. Dengan dia yang menyandarkan kepalanya dengan pasrah sambil menghela nafas dan berkata "Hal tersedih adalah saat manusia lupa untuk menggunakan hatinya.."


  "Jadi maksudmu.. mereka.."


Ep.103


"Menyembah iblis.. agar memiliki rumah sebesar ini.. mereka melakukan pesugihan.. semacam itu.." Ucap Wadma lagi dengan aku mulai menghidupkan mobil dan berhenti di restoran untuk makan.


  "Ternyata dijaman seperti sekarang masih ada orang-orang yang seperti itu yah.. lalu bagaimana dengan Cantika?" Tanyaku penasaran.


  "Pilihannya ada dua.. merelakan perlakuan orang tuanya.. atau balas dendam.." Ucapnya dengan santai.

__ADS_1


  "Maksudmu.. dia bisa saja membunuh kedua orang tuanya?" Tanya ku dengan dia mengangguk. Kami makan dengan senyap. Usai makan aku tak berkata apapun. Dia hanya meminta untuk ke bukit. Sampai dibukit dia melihat kota dan kemudian duduk dan berbaring direrumputan.


Kulihat dia dengan penuh tatapan cinta dan kasih.   "Apa kau pernah melihatku dengan caraku melihatmu wadma.." Batinku yang kemudian mengikutinya yang terbaring menutup mata.


  "Mengapa kita kemari?" Tanyaku dengan dia melihat kearahku dengan tatapan yang membuat hati ini berdebar. Yaampun, bagaimana menghapus rasa ini. "Mencari kenyamanan sebelum rasa sakit yang akan tiba datang.." Ucapnya.


  "Rasa sakit seperti apa? Dalam hal apa?" Tanyaku.


  "Bagaimana kalau aku ditakdirkan untuk tidak didunia ini?" Ucapnya membuatku bangun terduduk. "Apa maksudmu?" Tanyaku sementara dia hanya tersenyum tertawa kecil memukul punggungku. "Serius amat?.. aku bercanda weh.." Ucapnya dengan aku langsung menyentil dahinya.


  "San.. woe! Mu ngabayangin apa? Kok bengong?" Ucapnya mendekatkan wajahnya lagi dan aku langsung mundur tergeletak. Lagi-lagi dia tertawa kecil, sepertinya gadis satu ini mengerjainku.


  "Imanmu kuat juga.. mungkin kalau cowok lain udah langsung nyosor nyium aku.." Ucapnya tertawa kecil lagi.

__ADS_1


  "Jangan melakukan itu lagi.." Ucapku duduk menutupi wajahku yang mulai memerah dan hawa tubuhku terasa panas. Sialnya jantungku masih berdebar-debar membayangkan wajah Wadma yang dekat tadi itu. "Imut.."


***


"Makasih yah.." Ucapnya mau masuk kerumah.


  "Makasih buat apa? Keluargaku kan emang pelayan keluarga mu.. tidurlah.. jangan pikirkan yang macam-macam.." Ucapku mengelus rambutnya secara tak sadar.


  "Apa yang terjadi disini?" Tanya Wansa yang entah muncul dari mana dan menatapku tak senang. Wadma langsung melihat terkejut "apa yang kau lakukan dirumahku?" Tanya Wadma tak senang.


  "Mengawasi kalian.. Dan sebenarnya apa yang kau rencanakan? Dibuku ini tertulis mungkin saja kau akan menghilang.. apa maksudmu?" Tanya Wansa membuatku bingung menatap Wadma yang terdiam menatap kosong dan memindahkan buku yang ditangan Wansa ke tangannya.


Itu adalah buku harian yang kuberikan padanya. "Kau.. sepertinya kau menyalah gunakan kekuatan mu yah?" Ucap Wadma meremas buku hariannya dengan amarah.

__ADS_1


  Sebentar, itu artinya Wansa masuk ke kamar Wadma tanpa izin. "Hanya karena kau sepupuku bukan berarti kau bisa seenaknya memeriksa barang-barang ku.." Ucap Wadma dengan Wansa yang terlihat kesakitan melayang di pojokkan didinding rumah Wadma. "Wadma! Berhenti!!" Ucap Wanda. "Kakak.." Wadma menurunkan Wansa dan seakan mengerti yang terjadi. "Jadi, kakak yang memeriksa?" Tanya Wadma dan belum sempat kak Wanda menjawab Wadma langsung menyela "Cukup.. aku mau istirahat.." ucapnya masuk kerumah dan membuat keadaan diluar menjadi canggung.


  "Sandi.. apa Wadma bersikap aneh belakangan ini?" Tanya kak Wanda dengan aku yang menjawab "keceriaan dia sepertinya mulai hilang kak.. ada yang ia sembunyikan.. dan sepertinya itu bukan masalah kecil.." Ucap ku dengan Wansa yang baru saja berdiri.


__ADS_2