Kehidupan Song Weraa

Kehidupan Song Weraa
Ep.106


__ADS_3

"Kecuali.. ada yang membeberkannya?" tanya Ririn lagi. Aku terdiam dan tak lama setelah itu Wadma menelfon. "Halo?" Tanyaku.


"Lah.. iya tapi maksudku bukan yang itu, berita wajah Putri Weraa yang mirip dengan Kartika yang hilang.." Ucap Ririn dengan aku yang melihat beberapa potretku.


"Siapa yang memotret mu diam-diam??" Tanya Rinjani.


"Bukankah Kartika sudah lama hilang? Seharusnya tak ada yang sadar.." Ucap Sheli.


"Kecuali.. ada yang membeberkannya?" tanya Ririn lagi. Aku terdiam dan tak lama setelah itu Wadma menelfon. "Halo?" Tanyaku.


"Dengar.. untuk hari ini kalian jangan keluar!! Ada yang membeberkan keberadaanmu yang mirip kartika. Aku akan mencari Kartika dulu. Masalah kita mulai disorot publik.. Weraa kau juga jangan keluar.. kau yang dulu mencolok karena kekuatanmu di Betlan school juga sedang di cari para media.." Ucap Wadma.


"Mengapa kau tak membuat semuanya menghilang dengan kekuatanmu dan kekuasaanmu?" Tanya Weraa membuatku terkejut ada yang aneh darinya dia seperti lebih percaya diri dari kemarin yang masih diam dan aura yang menyakitkan.


"Siapa itu?" Tanya Wadma dengan semua bingung. Itu Weraa apa dia tak menyadari suaranya? "Aku weraa.." Ucap Weraa dengan suara telfon diseberang yang senyap. Dan kemudian terdengar suara lagi "HEI!! Apa yang kau lakukan dirumahku?" Ucap Wadma membuat kami bingung.

__ADS_1


"Dengar.. kakakmu menyuruhku menginap jadi aku menginap.." Ucap Sandi yang panikan. "Sudah dulu yah.. nanti kutelfon lagi.." Ucap Wadma mematikan ponsel. Sementara aku sudah melihat warna aura pada mereka. Ada yang aneh pada weraa auranya hitam pekat. Tunggu.. apa Wadma mulai mengembalikan kekuatanku?


"Aneh.. bagaimana dia tak mengenali suaramu?" Tanya Sheli.


"Assalamualaikum.." Ucap Sarah datang. "Waalaikumussalam" jawab yang lain. "Apa mungkin kau yang melakukannya yah Sarah?" Ucap Weraa dengan kami semua langsung menganga terkejut ada apa dengan Weraa? Sementara Sarah bingung dan meletakkan martabak mesir diatas meja. "Apa? Aku melakukan apa?" Tanya Sarah.


Aku masih menatap Weraa yang terlihat aneh itu. "Mengapa kau menatapku?" Tanyanya membuatku tersenyum dan menjawab dengan santai "tidak ada.. aku sering menatap orang-orang belakangan ini.. memang tak boleh?" Tanyaku.


"Ah.. benar, maaf.." Ucapnya.


Lalu apa yang harus kulakukan? Memangnya dia pikir aku mau membantu masalah mereka? Apa semudah itu dia lupa kajahatanku sampai meminta bantuan padaku. "Hidup itu mengalir wer.. Lakukan kedepan, bodo amat dengan yang lalu.. kau bisa berubah jadi lebih baik meski nantinya kau akan jatuh menjadi air terjun.. maksudnya adalah meskipun kau sekarat tetaplah berfikir seperti kau masih hidup besok.. tetap berbuat baik.. itu yang kupikirkan.." Ucapan Nisa waktu itu lagi terlintas dikepalaku.


"Kau kesambet apa bawak martabak mesir Sar?" Tanya Rinjani membawakan hidangan terakhir yang ia masak. "Waaaah.. Gulai pucuk ubiii enak nih pasti Rinjani yang masak!!" Ucap Ririn dengan mata berbinar-binar.


"Mau dong martabak mesirnya Sar.." Ucap Windy.

__ADS_1


"Emang ini sebenarnya untuk elo.. tadi ada yang nekan bel berkali-kali kalian gak ada yang bukain.. aku samperin tuh abang-abang pakai kacamata hitam badannya kekar.. kutanya katanya dari tunangan Windy.." Ucap Sarah membuat Windy membatu setelah memakan martabak mesir itu.


"Sepertinya karena kita sudah tau kebenarannya.. Kakaknya Wadma akan terus terang nih ke Windy didepan kita.." Ucap Sheli.


"Iya bener.." Ucap Weraa. Sementara Shanti masih diam men scrool berita. "Shan?" Tanyaku membuatnya menatapku dan langsung mencekikku. "Kau!! Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah yang membunuh Sharika adalah si Mirkah?" Tanya Shanti.


"Seharusnya iya.." Ucapku melepaskan cekikannya hingga ia terjatuh. Aku berdiri dan melihatnya dengan amarah "tapi aku mana tau itu benar atau tidak.. saat itu aku bersama kalian dan ada ditubuh gadis itu.. kau tau aku bahkan membela sharika dan menjadi orang baik.. cih.. seperti orang bodoh saja.." Ucapku kesal.


"Shan.. kau tidak papa?" Tanya Windy. Semua melihat kearahku seakan aku adalah yang jahat. Yah maksudku aku memang orang jahat tapi dalam hal tadi yang mencekik ku duluan adalah teman mereka. Aku tersenyum melihat tatapan mereka "Manusia sungguh lucu yah.. ketika teman mereka yang berbuat salah mereka tak akan menyalahkan mereka.." Ucapku dengan senyum sinis.


"Kau juga awalnya teman kami.." Ucap Sarah yang membuatku menoleh kearahnya. "Shanti? Mengapa kau mencekiknya? Kau tau kita disuruh untuk mengawasinya bukan menyiksanya.. dan aku akan ingatkan pada kalian dia mungkin bukan Weraa asli tapi dia yang menghabiskan waktu kebersamaan kita selama beberapa tahun, maaf weraa bukan aku mengatakan kau bukan teman kami.. tapi orang ini tak pernah mencoreng nama baikmu dimata kami.. walau sedikit angkuh.." Jelas Sarah membuat hati ini merasa aneh sakit? Apa yang terjadi denganku ada rasa lega juga. Tersentuh? Yang benar saja tidak mungkin kan..


"Maaf.. aku yang salah.. aku terlalu terbawa suasana.." Ucapnya menutup wajahnya dan menawarkan tangannya yang meminta maaf. What? "Apa nih?" Tanyaku bingung dengan dia yang menghela nafas "Sarah benar.. aku salah aku hanya terbawa perasaan melihat berita rekaman itu mirip dengannya.. aku masih berharap itu bukan dia.. maafkan aku putri weraa atau loosa.. namamu itu sebenernya siapa sih.. putri weraa kuno banget woe.." Ucapnya mulai bertindak seperti biasanya.


"Shan.. dia belum menjawab mu.." Ucap Sarah meletakkan sayuran yang ia beli ke kulkas. Sementara Shanti langsung menawarkan tangannya lagi "jadi? Maaf yah.." Ucapnya tersenyum. Aku kembali mengingat saat aku ditubuh weraa aku pernah bertengkar dengan mereka dan melakukan hal ini. Tanpa sadar tanganku membalas tangannya dan mengatakan "lupakan saja.." Ucapku seperti dulu dan langsung sadar setelah melihat weraa yang jelas dihadapanku.

__ADS_1


#KSW106


__ADS_2