
“Kau pacarnya jangan mengulurkan tangan pada orang lain.. Cinta itu pecemburu..” Ucap weraa membuat 2 insan itu tertawa.
Weraa melihat perlombaan dengan wajah yang datar hingga membuat Wansa yang berada di belakang hendak menghampiri Weraa. Namun, Adri sudah menghampirinya terlebih dahulu dan memberikan minuman kaleng yang sama seperti yang biasa di berikan Wansa pada Weraa.
“Maaf.. aku tak mau minum..” Ucap Weraa kembali melihat pertandingan sedangkan Adri membisikkan sesuatu yang membuat Wansa terganggu. “Jangan menurunkan martabat ku! Kau lupa aku seniormu dan aku popular..” Bisik Adri.
“Jangan menurunkan martabat ku! Kau lupa aku seniormu dan aku popular..” Bisik Adri.
“Maaf, jika kau sadar kau senior harusnya kau ingat yang tua harus mengalah.. dan biar kuberi tau aku lebih popular dan aku yang mengaturmu dalam hal ini..” Ucap Weraa mengambil minuman kaleng itu dan menelfon Santi untuk menangkap minuman kaleng yang ia lemparkan.
Weraa berniat pindah dan duduk di kursi bagian belakang dan berjalan melewati Wansa yang berdiri bersandar. Namun, Weraa berhenti dihadapan Wansa karena jantung nya berdetak dengan kencang. “Hei! Mengapa kau memberikannya pada Santi!” Adri berbicara pelan berada di samping Weraa.
Wansa yang melihat itu pun pergi dan detak jantung Weraa kembali normal. Weraa berbalik dan melihat sosok pria namun Weraa tak bisa mengingatnya atau merasa mengenalinya. “Kau kenal dia?” Tanya Adri sementara Wansa berhenti.
Air mata weraa menetes lagi dan membuat Adri bingung. “Mengapa kau menangis?” Tanya Adri. “Aku tidak tau..” Ucap Weraa yang melihat pria itu berbalik melihat Weraa namun, Windy datang dari arah yang sama dengan wansa dan menendang Adri karena mengira Weraa menangis karena Adri.
“Ada apa disana?” Tanya Rinjani selaku ketua osis.
Semua melihat kearah Weraa yang memandangi air mata yang diusapnya dan berada di tangannya. Sementara semua terpaku pada pria tampan yang berjalan memberikan sapu tangan secara natural dengan tangan mereka yang sempat menyentuh satu sama lain.
__ADS_1
“Mengapa kau selalu menangis saat kita bertemu? Simpan ini.. Jika kau menangis lagi kau bisa menggunakan ini..” Bisik Wansa sementara Weraa berfokus pada detak jantungnya. Wansa melanjutkan langkahnya dan Weraa yang mengejarnya.
“Tunggu!”
***
“Weraa!! ada apa dengannya?” Tanya Windy.
“Apa dia melihat Hantu?” Tanya Nisa.
“Hantu? Jika dia melihatnya aku pasti juga melihatnya kan?” Ucap Windy.
“Manusia?” Tanya Windy dan Nisa bingung. Namun, Windy melanjutkan pertanyaannya yang tragis. “Mengapa kau membuat Weraa menangis hah?” Tanya Windy.
“Hei.. Apa kau lihat pria tadi?” Tanya Rinjani pada anggota osis.
"Pria? Kak Adri?" Tanya Cika.
"Bukan! Pria yang memberi kan sapu tangan ke Weraa!" Ucap Rinjani
__ADS_1
“Tidak.. Bukankah hanya ada 3 temanmu dan kak Adri?” Tanya cika.
“Bukankah kau yang barusan bertanya siapa pria tampan disana?” Tanya Rinjani.
“Apa yang kau bicarakan? Aku tak menanyakan apapun soal pria tampan.. jika ada itu pasti kak Adri” Ucap Cika membuat Rinjani bingung.
***
“Tunggu! Siapa kau sebenarnya? Mengapa aku menangis setiap bertemu denganmu?” Tanya Weraa meremas sapu tangan itu kesal.
“Kau melupakan sesuatu.. jika kau melupakannya kau tidak akan ingat apapun yang bahkan aku ceritakan sekarang..”
“.. Apa maksudmu? Katakan padaku!” Bentak Weraa mengejutkan semua arwah disekitar dan bersembunyi.
“Siapa kau? Mengapa aku menangis dan mengapa aku tak ingat jika kita saling mengenal? Apa yang kulupakan? Dan mengapa aku peduli?” Tanya Weraa dangan suara senduh menatap Wansa.
#ME_Mawad
#KSW_Part8
__ADS_1