
“EH.. Wadma dah Sadar?” Tanya Sarah melihat aura jubah hitam semakin melemah. Wadma mengehentikan aliran energi yang disalurkannya ke Sandi. “Dia memulihkan kami..” Ucap Wadma.
“Jadi itu sebabnya kau pulih dengan cepat..” Tanya Sarah
“Hoaaam!! Sial.. aku masih mengantuk.. Sheli!!”
Ep.87
“Oh.. kau sudah bangun..”
“Apa makanan sudah siap?” Tanya Wadma.
“Mereka masih membeli bahan..” Ucap Sheli dengan Wadma melihat sekitar dan menyadari cevin dan yang lainnya sedang diluar.
“Kau sudah tidak papa? Apa ada yang sakit?” Tanya Cevin muncul tiba-tiba.
“Dia muncul tiba-tiba lgi..” Ucap Nisa yang meletakkan alat masak.
“Hei.. mengapa kau tak memulihkan mereka? Aku ingin makan mie..” Ucap Wadma yang berdiri namun terhenti saat melihat kilasan Rinjani yang akan menjadi korban oleh pembunuh berantai itu
“Ada apa?” Tanya Sheli.
“Telfon Rinjani!!” Pinta Wadma panik dengan Cevin yang baru mulai memulihkan Weraa, Sandi, dan Jubah hitam.
__ADS_1
***
“Aku lelah..” Ucap Sharika.
“Aku bingung mengapa kita tak membalas dendam saja.. setidaknya kita akan lebih tenang tidak ada yang menjadi korban lagi..” Ucap Kartika.
“Tadi aku mengikuti Wansa.. dia menemui kakak Wadma..” Ucap Cantika.
“Benarkah? Apa katanya?” Tanya Sharika.
“Benar.. dia membicarakan apa?” TAnya Kartika.
“Kalian ingat kan kita tau benar bahwa kita sering melihat pembunuh itu.. Wansa juga yang selalu melihat bersama kita..” Ucap Cantika.
“Lalu? Maksudmu gimana?" Tanya Kartika.
"Mau curiga tapi tanpa bukti .. nanti fitnah jadinya dosa" Cantika
"Emang lu dah jadi hantu masih dihitung dosanya:v ngaca woe.. dah jadi hantu mikirin dosa:v" ucap sharika.
"Santai lah woe.." Ucap cantika.
"Kalian..." Ucap suara seorang gadis campuran asia-eropa yang muncul entah dari mana dengan tersenyum. "Daebak.. cantik banget.." Ucap kartika.
__ADS_1
"He :! Usiaku sudah ratusan tahun.. Akan kukembalikan ingatan kalian.. bantulah Wadma segera aku akan menyusul.." Ucap gadis itu mengarahkan sihirnya ke arah 3 arwah itu.
***
Windy dan Ririn masuk ke pasar dan melihat yang terjadi adalah sebuah kekacauan. Dinda berada ditengah-tengah ebagai pelaku yang telah terjadi. Dagangan para pedagang pasar berantakan karena efek dari Dinda yang mengerjai para preman pasar. "Pergi kalian!! Jangan ganggu pasar lagi!!" Bentak Dinda.
Semua preman pasar yang kesakitan itu pun kabur namun, niat baik dinda menimbulkan kemarahan beberapa pedagang "Yaampun nak.. kamu niat menolong apa gimana? Liat nih sayuran kami rusak semua.." keluh salah seorang pedagang.
"Sayur-sayuran ku.." ucap salah satu pedagang yang melihat semua sayurannya rusak di tanah dengan sedih.
"Aduh.. gimana yah.. maaf pak, buk.. Dinda gk maksud kek gini.. Dinda cuman mau nolongin dari preman pasar tadi.." Ucap Dinda bingung.
Ririn dan Windy yang melihat itu langsung mendatangi tempat Dinda tersudutkan oleh para pedagang yang meminta pertanggungjawaban. Ririn tak habis pikir dibanding mengatakan terimakasih terlebih dahulu para pedagang itu malah fokus pada kerugian mereka sekali ini.
"Siapa kalian? Temennya? Cepet bantu kawan kalian tuh ganti rugi!!" Ucap pedagang lainnya. "Kak.. gimana nih.. Dinda kan gk maksud buruk:( gimana nih.. Dinda mana ada duit sebanyak itu ngeliat kerusakan segini banyaknya.." Ucap Dinda.
"KAmu gk salah Din.. yang salah mereka.." Ucap Ririn
"Apanya gk salah liat barang dagangan kami!!"
"Pak Buk.. bukannya kalian harus berterimakasih padanya karena para preman sudah berjanji tidak akan kembali untuk merampas hak kalian setiap harinya?? Hanya karena dagangan kalian rusak hari ini kalian lupa bahwa gadis ini telah menyelamatkan dagangan kalian untuk hari-hari berikutnya??" Ucap Ririn lagi membuat semua para pedagang itu terdiam.
"Anak ini benar.. kita tak seharusnya melupakan jasa nya meski kita mengalami kerugian hari ini.. toh jika anak ini tak mengerjai para preman mungkin kerugian kita akan terus berlanjut.." Ucap seorang nenek tua yang berdiri meratapi sayur-sayurannya tadi. Nenek itu kemudian mengelus kepala Dinda dan berkata "Kau anak yang baik.. terkadang niat baik memang butuh pengorbanan.. trimakasih.. aku mewakili pasar ini nak.. dan.. bertahanlah pada hati yang kuat.." Ucap nenek itu.
__ADS_1