
"Sandi.. apa Wadma bersikap aneh belakangan ini?" Tanya kak Wanda dengan aku yang menjawab "keceriaan dia sepertinya mulai hilang kak.. ada yang ia sembunyikan.. dan sepertinya itu bukan masalah kecil.." Ucap ku dengan Wansa yang baru saja berdiri.
Ep.104
"Setidaknya seharusnya kakak membantu ku berdiri.. tapi, mengapa kakak percaya pada orang ini.. bagaimanapun dia hanya pelayan dirumah kalian.. mengapa Wadma harus bergaul dengannya.." Ucapnya merendahkanku sementara aku hanya bisa menatapnya dan mengingat posisiku memang sebagai pelayan.
"Apa maksudmu? Mereka memang menjalankan pekerjaan mereka sebagai pelayan tapi itu bukan berarti mereka rendah.. jaga mulutmu.." Ucap Kak Wanda kesal. Kak wanda terlihat kurang suka dengan Wansa padahal aku ingat dulu kak Wanda yang paling menyemangati Wansa. "Kau menginap saja San.. sudah lama kakak tak berbincang denganmu.." Ucap Kak Wanda dengan aku yang masih diam.
"Kak.. kak Wanda gimana sih.." Ucapan Wansa dia sela "sebaiknya kau pulang dan urus saja adikmu itu.. cari cara supaya bisa mengambil alih perusahaan.. adikmu itu sangat boros.." Ucap kak Wanda dan merangkulku masuk. Sementara Wansa terlihat kesal karena seperti tak dianggap disini.
"Kak.. bukankah kakak seharusnya tak seperti itu pada Wansa? Diakan.." Ucapanku disela.. yah itu memang sifat kak Wanda yang suka menyela dan keras kepala.
__ADS_1
"Sepupu? Benar.. tapi aku tak suka bagaimana bisa dia menyalahkan semua yang terjadi padanya adalah kesalahan Wadma.. Dia tidak tau adikku sudah begitu menderita dengan sihirnya itu.. kau tau sendiri bagaimana cevin melatihnya kan?" ucapnya dan aku yang diam mengingat Wadma yang sering menahan tangis karena terluka saat Cevin mengajarkannya teknik-teknik sihir itu.
"Mbok.. bikinin minum.." Kami duduk diruang tamu. Perlakuan seperti inilah yang sering membuat pelayan keluarga Wadma hampir lupa posisinya. "Kak.. maaf aku tadi malah menepuk kakak.." Ucapku dengan dia yang tertawa. "Kau masih tak berubah yah.. tapi aku suka.. aku harap hatimu juga tidak berubah yah.." Ucapnya dengan aku yang tersedak.
Dia kemudian tersenyum dan berkata lagi "kau.. masih menyukai Wadma kan? Kakak masih menunggu kamu melamarnya loh.." Ucapnya membuatku diam dan panik dalam hati.
"Kakak tau sendiri itu tidak mungkin.. kita berbeda kak.. keluarga kami hanyalah pelayan.. dan kalian sudah sangat sukses.." Ucapku mulai merasakan rasa sakit saat mengatakannya.
"Kau sekarang kan kuliah.. tamat kuliah rintislah perusahaan mu sendiri.. aku akan berikan modalnya.. ah.. begini aku pinjamkan kau modal.. saat kau sukses kembalikan uangku.. anggap saja aku berinvestasi padamu.." Ucapnya semudah itu.
"Kau tau.. aku yakin Wadma punya perasaan yang sama padamu.. dia hanya menunggumu untuk mengatakannya.. kau tau disisi lain sifatnya yang sesuka hatinya itu dia adalah gadis yang pemalu.. percayalah padaku.." Ucapnya membuatku mengingat kejadian tadi sore dan bergumam "Yang tadi itu bukan pemalu.."
__ADS_1
"Hah?"
"Ah.. tidak.. tapi.. aku masih tidak yakin dengan orang tua kakak.." Ucapku dan respon Wanda tertawa.
"Kau yakin? Kau sudah tau bagaimana keluarga kami bukan memandang harta.. kami melihat karakter yang akan menjamin masa depannya sendiri.." Ucapnya lagi.
"Yasudah.. kamu menginap saja.. di kamar tamu. Kakak duluan .." Ucapnya lagi menepuk pundakku dan pergi ke kamarnya.
***
*Putri Weraa POV
__ADS_1
Ternyata begini hidup tanpa sihir sangat sulit. Aku harus secepatnya mengambil kekuatanku untuk menyelesaikan misiku. Aku harus kembali ke dimensi sihir dan menguasai kerajaan ku kembali. Bodo amatlah buat ngabisi mereka. Tapi, aku masih harus mencari tau kenapa ibunda ratu memilih ke dimensi manusia. Dia bukannya membesarkanku dan malah hidup disini setelah mendirikan kerajaan. "Dan mengapa harus Wadma yang memiliki sihir ibunda ratu bahkan sihir ibunda ratu Rinjani.. siapa gadis itu sebenarnya.. ah.. benar, si Cevin itu pasti tau sesuatu.."
"Hei!" Yaampun, nih bocah sumpahlah ngagetin aja. "Ada apa?" Tanyaku melihat kearah Windy. Dia menatapku tajam sinis ada apa dengan gadis ini? "Mengapa kau menatapku?" Tanyaku lagi.