
*Flashback
"Sumpah.. nyebelin banget tuh anak.. siapa sih?! Kok bisa-bisanya berani ngelawan aku!! Dia gak tau apa aku putri dari keluarga Song group!!" Keluhku kembali ke mobil dengan sepatu yang aku perebutkan tadi dengan gadis yang berbicara soal pangeran. "Ah iya.. pengeran apa maksudnya?" Ucapku bingung dan tak lama setelah itu aku melihat sosok di depan mobil kami dan berteriak pada sopir untuk berhenti. Namun, saat kami turun sosok yang mirip denganku itu menghilang seketika. Aku dan sopir melihat kesana kemari hingga aku melihat sosok itu bersembunyi di belakang pohon di seberang jalan.
Berjalan perlahan mendekatinya namun, "gelap.. apa yang terjadi.. sakit..." Batinku yang tak bisa terucap setelah dentuman keras. "Nona.. nona.." Panggilan sopirku yaitu paman Wansa yang mulai tak terdengar.
Gelap semua terasa gelap. Aku melihat sosok arwah yang menyebabkanku kecelakaan. "Siapa kau?" Tanyaku ketakutan dan semakin mundur dari hadapannya. Dia tersenyum dan kemudian mencekik leherku dengan keras.. sakit.. sial.. mengapa aku tak punya tenaga.. tak lama setelah itu muncul orang lain yang memakai jubah hitam dia berbisik kepada arwah yang mencekikku. "Benarkah?" Arwah itu menatapku dan melemparkanku ke dinding hingga aku terbaring lemah. "Jadi aku harus biarkan dia dulu?" Tanyanya dengan jubah hitam itu yang bersuara "Apa kau ingin kesakitan menanggung beban koma dia? Sebaiknya saat sudah hampir sadar saja kau ambil alih tubuhnya.." apa? Tidak.. aku tidak mau.. siapapun selamatkan aku!! Mengapa mataku terus tertutup.
"Haaaa!!! Yaampun.. tubuh siapa itu?" Tanya Wadma yang terbangun dari mimpinya yang bermimpi di tubuh orang lain. "Ada apa?" Tanya Cevin muncul tiba-tiba. "Aku bermimpi aneh.. ada seorang gadis kecil yang meminta bantuan.. sepertinya aku pernah dengar suaranya.." Ucap Wadma dengan Cevin yang menatap wajahnya dengan kejulitan "kau sendiri masih kecil.. mungkin alam bawah sadarmu meminta bantuan dari bahaya.."
"Bahaya apa?" Tanya Wadma. "Dirimu sendiri.." Ucap Cevin pergi menghilang sementara Wadma melihat pemandangan diluar jendela "Gadis kecil macam apa yang bisa melihat masa depan orang lain.." Ucapnya.
__ADS_1
...****************...
"Nona? Nona sudah sadar?" Ucap Paman Wansa kepada tubuh ku yang ada disana. "Kau sudah lihat kan? Tak akan ada kesempatan mu untuk hidup.. jadi sebaiknya lakukan saja hal yang kau inginkan sebagai arwah yang bergentayangan. Jika kau muncul di hadapan tubuhmu maka kau akan merasakan ini.." Ucapnya dengan aku yang langsung merasakan sakit yang begitu mendalam. Tidak.. rasanya ingin menghilang saja.. "kau mengerti kan? Aku akan melepaskanmu.. tapi, kau tidak boleh mendekatinya.. atau.. jangan harap kau masih bisa melihat dunia ini.." Ucapnya lagi dengan aku yang di siksanya lagi dengan sihir dan pinsan tak sadarkan diri. Gelap lagi.. aku masih seorang gadis kecil mengapa aku harus mengalami semua ini.
Saat bangun, aku di gedung aneh tak terpakai sendirian. Tubuh.. tidak maksudku jiwaku terasa sakit. Aku berjalan mencari dimana tubuhku berada dia menjalani harinya dengan baik-baik saja. Seperti diriku yang hilang ingatan tanpa terlihat ada niat yang buruk.
Suatu hari, aku berjalan berkeliling kota dan ada yang bisa melihatku dan langsung menangkapku dan membawaku ke suatu tempat. "Siapa kau.." Tanyaku dengan dia yang tersenyum sumringah. "Kau tidak mengenalku? Apa kau benar adiknya song Arvandita? Cih.. tapi aneh.. bagaimana kau bisa disini? Dimana sahabatku? Oh yah.. mungkin dia berhasil mengambil alih tubuhmu.." Ucap pria itu dengan aku yang terdiam. Setelah itu dia pergi meninggalkanku dengan segel yang membuatku tak bisa keluar dari gedung itu.
"Kau benar.. tapi dia tak mengingat apapun soal aku!! Aaaarrghhh!! Kau!! Hei! Jubah hitam siksa dia!!" Pintanya yang dengan berjalannya waktu aku tau namanya adalah Randa. Dan jubah hitam itu.. bagaimana bisa mengenalnya.. siapa sebenarnya mereka.. "apa kau pikir jika sahabat mu ditubuhku dia akan mendapatkan kebahagiaan? Hidup dikeluargaku itu penuh dengan tekanan.. aku sudah melihat dia dari jauh dan dia sering menangis karena tidak mengerti mengapa ia dilahirkan dikeluarga itu.. dia sendiri merasa bahwa dia yang disebut weraa bukanlah jati dirinya!! Kau paham!!" Bentakku kesal dan seketika semuanya hancur dan aku menghilang tepat melihat Wansa dan dia yang ada di tubuhku bertemu. Aku juga melihat sosok gadis yang waktu itu berkelahi denganku masalah sepatu.
"Dia punya magic..." Aku kembali melihat ragaku yang ada disana. "Dia..." Tersenyum tersipu malu. "Dia memang tampan.. tapi, memangnya dia semenarik itu?" Tanyaku dalam hati melihat pria itu.
__ADS_1
Kehidupanku hanya mengawasi mereka dari jauh. Bagaimana perkembangan hubungan dua orang itu. Aku kadang berpikir jika aku kembali mungkinkah pria itu akan menyukaiku? Benar, akupun mulai jatuh hati padanya.
Namun, apa benar gadis yang ada di ragaku adalah orang jahat? Entah kenapa aku merasa dia tak punya niat buruk. Tapi, mengapa aku harus mengalah dengan semua yang ditakdirkan untukku? Wadma.. dia juga pergi keluar negeri.. bagaimana aku mempertanyakan semuanya?
"Hi.. gadis kecil.." Sosok menyeramkan muncul dihadapanku dan disekitarku. "Siapa kalian?" Ucapku melihat mereka dan hendak melarikan diri namun, percuma aku dikepung. "Mari bermain menakuti para manusia.." Ucapnya dengan aku yang diam dan dia membawaku pada seseorang. Benar.. aku diperalat untuk menggantikan arwah yang membawaku tadi. Dan jika aku ingin berhenti menjadi alat orang licik ini aku harus mencari arwah lain.
Sejauh ini aku hanya menurutinya. Lucu bukan? Aku bahkan belum mati dan sudah seperti orang mati. "Harusnya aku yang disana.." Ucapku melihat ragaku yang diselamatkan oleh Wansa saat hampir tertabrak truk. Aku juga melihat arwah lain bersamanya. Benar, sepertinya ragaku itu masih bisa melihat arwah bergentayangan.
"Bukankah dia korban pembunuhan itu?" Tanya ku melihat wajah Cantika Dwi Pramawati. Pembunuhnya adalah jubah hitam waktu itu yang juga memindahkanku. "Dia tidak berniat membantu Cantika menemukan pembunuh berantai itu kan? Sementara dia ada di ragaku karena si jubah hitam itu.. atau ada jubah hitam lain?" Ucapku yang kemudian merasa aneh dengan jiwaku. "Aneh.. apa mungkin aku tidak enak badan? Yang benar saja? Bagaimana arwah bisa tidak enak badan?"
"Pada dasarnya rasa sakit itu dari jiwa atau raga?" Tanya suara seseorang yang terdengar ditelingaku.. aku melihat sekeliling hingga akhirnya aku terduduk lemah seperti kedinginan. "Apa yang terjadi... Aku sudah lama tak merasakan dingin, panas atau semacamnya.." Ucapku bingung.
__ADS_1