Kehidupan Song Weraa

Kehidupan Song Weraa
Ep. 110


__ADS_3

"Pada dasarnya rasa sakit itu dari jiwa atau raga?" Tanya suara seseorang yang terdengar ditelingaku.. aku melihat sekeliling hingga akhirnya aku terduduk lemah seperti kedinginan. "Apa yang terjadi... Aku sudah lama tak merasakan dingin, panas atau semacamnya.." Ucapku bingung.


Ep.110


"Tadi kau membicarakan jubah hitam? Jubah hitam siapa yang kau maksud?" Tanya Sosok tampan membuka penutup kepalanya dengan jubah hitam itu.


"Pembunuh berantai itu? Apa dia yang membunuhmu?" Tanya Pria itu dengan aku masih terdiam kedinginan. "Ada yang aneh dengan indramu.. kau sudah mati atau belum? Tadi saat ku kembalikan indra perasamu ada ilmu hitam yang seperti menahan emosi dirimu... Kau ini makhluk apa?" Tanyanya dengan menyentuh daguku menghadap ke arahnya yang tepat dihadapanku. Sial.. wajahku memerah reflek mendorongnya jauh terbanting.


Aku melihat itu dan melihat kedua tanganku dan mendatanginya. "Apa kau baik-baik saja? Maaf aku tidak tau apa yang terjadi.. aku.." Panik.. yaampun apa yang harus kulakukan? Aku melihat darah di kepalanya dan mencoba melihat namun dia langsung menggenggam pergelangan tanganku dan menatap tajam. "Siapa kau?" Tanyanya sambil memegang kepalanya sendiri dan menyembuhkan dirinya sendiri. "Kau bisa menyembuhkan dirimu?" Tanyaku mulai mundur takut.


Siapa pria ini. "Dia tampan tapi dia memiliki magis.. dia juga mengembalikan semua rasa panca indra seorang arwah sepertiku.. menakutkan.." Ucapku dalam hati. Dia berdiri dan membersihkan debu yang ada di jubahnya.


Seketika dia ada dihadapanku dan aku tepat bersandar di pohon. "Ada apa denganmu? Reaksimu berlebihan.. seakan baru melihat penyihir pertama kali.." Ucapnya dengan aku masih kaku diam.


"Padahal kau yang melemparku tadi... Kau ini apa?" Tanyanya lagi-lagi mendekatkan wajahnya ke wajahku.


"Heeei!! Hentikan!! Mengapa kau mendekatkan wajahmu ke wajahku!! Menjauhlah sedikit!!" Ucapku dengan dia yang menutup mulutku dan mengenggam kedua tanganku dengan kuat. "Tenang dulu.. aku sedang membuat ilusi.. ada yang mencarimu sepertinya.." Ucapnya dan kemudian aku melihat jubah hitam lainnya sedang melihat kesana kemari. "Sepertinya tadi aku merasakan keberadaannya disini.. aku ingin tau bagaimana dia bisa mengambil rasa panca indra yang harusnya ada di raganya? Kalau aku tidak segera memindahkan panca indranya.. Sang Putri akan hidup tanpa merasakan apa-apa.. meski hatinya sudah mulai seperti orang biasa yang memiliki kehangatan aku takut dia akan kembali jahat.." Ucap jubah hitam itu membuatku benar-benar takut tak bisa kembali ke tubuhku.

__ADS_1


Pria dihadapanku menatapku dan mengisyaratkanku untuk tetap diam. dan melakukakan sesuatu... Magis lagi.


Aku berada ditempat lain bersamanya. Dia menyuruhku untuk tenang di rumah besar itu. "Ini.." dia melihatku dan membuka jendela.


"Aku sudah paham ada yang mengambil alih tubuhmu.. kau belum meninggal.. tinggallah disini selama kau mau.. mulai sekarang rumah ini akan membuka jendelanya agar udara dan cahaya masuk ke dalam.. Aku belum bisa mengembalikan tubuhmu sekarang.. tapi suatu saat pasti aku akan membantumu.. aku juga sudah membuat ilusi agar dia menangkap orang lain.. maksudku arwah lain.." Ucapnya membuatku merasakan kehangatan setelah sekian lama.


"Trimakasih.." Ucapku dengan dia yang langsung menarikku menuju lantai atas.


"Kamarmu disini.. rumah ini belum sepenuhnya bersih.. besok pagi aku jamin akan bersih.. Aku akan mencari pelayan juga agar kau memiliki teman" ucapnya lagi. "Hmm bukankah.. kau sudah jadi temanku? Maksudku kau menolongku.. aku malah takut pada arwah lain sampai saat ini.. pada manusia pun yang ada terakhir kali membuatku menangis karena merindukan ragaku.." Ucapku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


"Kau sepertinya memiliki kekuatan yang tak bisa kau kuasai. Aku bantu kau menguasainya.." Ucapnya menepuk kepalaku dan menunjuk bawah "kita mulai dari lantai dasar ruang tamu dulu.." Ucapnya bergegas kebawah dengan aku membeku menepuk rambutku bingung dan turun lantai dasar.


Semenjak itu aku bersama dengannya sebelum tau bahwa namanya Angga aku memberikan nama untuknya yaitu Azril.


"Apa hutan ini tidak bisa kutembus.. aku sudah berjalan sejak tadi.. apa aku harus coba terbang?" Tanyaku berbicara sendiri dan menghela nafas. Aku melihat jariku ada cincin waktu itu dari kak Adri. Apa dia benar-benar menyukai ku? Aku rasa tidak. Aku juga hanya kagum dengan ketampanannya. Tapi masih tampanan Wansa dan kehangatan wansa pada putri Weraa. tapi mengapa aku disini, siapa yang mengambil alih tubuhku sih? entah mengapa aku merasa Putri weraa tak sejahat itu. Apa ada orang lain? "Hei!! Siapapun yang ada disini keluarlah.. aku lelah sendirian.." Triakku membuat para burung yang di pepohonan didekatku kabur ketakutan dan muncullah singa yang menatapku.


"Eh- kenapa harus singa? Aku benci sendirian tapi gak singa juga lah.." Ucapku mundur perlahan namun dia malah duduk seperti kucing jalanan.

__ADS_1


"Kau?" Ucapku dengan dia yang kemudian menjilat tangannya dan mulai menghela nafas. Well sejak kapan singa bisa seperti manusia? "Kau ingat pelindungmu? Aku adalah bentuk dari pelindung yang diberikan tuanku padamu.." Ucapnya dengan aku bingung.


"Siapa?" Tanyaku.


"Kau bertanya namaku atau pelindungmu?" Tanyanya dengan aku yang masih gugup menjawab "keduanya"


"Ah.. nama ku kau bisa memberikanku nama.. kalau yang memberikanku padamu kau pasti ingat sosok yang menyelamatkan mu berulang kali?" Ucap singa itu tiduran.


"Angga?" Tanyaku.


"Bukankah kau memberinya nama Azril? Apa itu nama aslinya dari keluarganya? Angga Pratama Wijaya yah.. hmm makin keren .. tpi Azril juga keren sih.." Ucapnya.


"Hei.. bisa kau beri tau sekarang kita ada dimana?" Tanyaku. "Alam bawah sadarmu... Tempat ini adalah tempat yang dibuat otakmu dan kenangan terbaikmu. Tak kusangka kau jatuh hati pada tuanku.. ada yang mengambil alih tubuhmu.. kau.. harus keluar dari sini.." Ucapnya membuatku terkejut dengan wajahku memerah. "Tunggu apa maksudmu jatuh hati tadi hah?" Tanyaku marah panik, ah aku tidak tau emosi apa ini.


"Lihat.. kau emosi.. dasar wanita.. dari pada kau emosi seperti itu lebih baik pikirkan cara kau agar bisa mengambil alih tubuhmu lagi.." Ucapnya dengan aku yang diam. "Apa kau tau solusinya?" Tanyaku lagi dengan dia berdiri dan menghadap ke puncak gunung es yang jauh dari kami.


"Pertama kita harus ketempat aku bisa kembali ke wujudku sebagai phoenix" Ucapnya mulai berjalan dengan aku mengikutinya. "Tapi bagaimana kau bisa kemari?" Tanyaku. "Sebagai pelindung dirimu tentu saja aku selalu ada disini.. dibawah alam sadarmu.. karena waktu itu kau tidak di ragamu kan? Aku mungkin bisa melindungi ragamu jika tuanku memberikan sesuatu mediaku agar bisa melindungi mu" Ucapnya. Tapi, aku merasa terakhir kali dia tak berbicara padaku dan fokus pada wadma Saudara kembarnya. "Aku pikir dia melupakan diriku.." Singa itu berhenti dan menatapku remeh.

__ADS_1


__ADS_2