Kehidupan Song Weraa

Kehidupan Song Weraa
Ep. 112


__ADS_3

Seketika itu dia langsung mendorong meja makan kami ke samping hingga memecahkan piring dan gelas. "Yaampun! HEI!! Aku bahkan belum menghabiskan makananku!!" Bentakku kesal. Huaaa aku sudah lama tak memesan ayam panggang... Apa yang dia lakukan.. "ah.. aku harus tetap tenang.." batinku.


"SIAPA kau berani menanyakan itu padaku?" Bentaknya membuat pusat perhatian. Aku diam mendengar semua gosip yang mulai dibicarakan tanpa dasar. Aku tersenyum dan langsung menepuk tangan 2 kali dan polisi langsung membuka penyamaran dan menangkap Randa untuk intrograsi. "HEI!! Apa-apaan ini?!! Lepas!!"


"Maaf saudara Randa.. anda menjadi tersangka atas pembunuhan Sharika berdasarkan bukti rekaman dan banyak yang menduga suara itu adalah suara saudara.." Ungkap salah seorang polisi. "Hei.. suara orang ada memiliki banyak kesamaan.. lalu mengapa hanya aku yang menjadi tersangka?!!" Berontaknya lagi.


"Sampai dikantor polisi kau akan bertemu dengan mereka yang memiliki kemiripan suara denganmu.." Ucap Sandi.


"Kau.. ah.. jadi begitu.. itu sebabnya kau datang ke kota ini?" Ucap Randa dalam hati. What? Dia bisa berkomunikasi lewat batin? "Jawab aku!! Apa maumu datang ke kota ini?" Tanyanya lagi padaku. Well artinya dia tak bisa membaca pikiranku sepenuhnya. Dia hanya bisa mendengar jawaban sesuai dengan konteks pembicaraannya. "Aku datang kemari untuk menyelesaikan hidup pembunuh berantai itu.. namun, kau malah mengikuti jejaknya" batinku menjawab dengan dia dibawa polisi keluar dari coffee shop. "Bagaimana dia bisa memiliki kemampuan itu?" Tanyaku dengan Sandi bertanya "kemampuan apa?".


Aku menghela nafas kembali membaca pesanku pada putri weraa yang berbunyi "Mari kita lihat bagaimana kau menanggapi ini.. aku melupakan Sirah.. kau tau sirah? Dia sepertinya masuk ke tubuh Weraa dan mengambil ahli tubuhnya sama sepertimu dulu... bedanya dulu kau membuatnya keluar dari tubuhnya.. namun, si Sirah ini masuk tanpa mengeluarkan arwah Weraa.. mungkin lebih tepatnya Weraa dibawah alam sadarnya.." bagaimana keadaan Weraa? Dia sudah cukup menderita.. aku harus akhiri semuanya secepat mungkin.


"Sandi.. ayo kita ke rumah Cevin.." Ucapku dengan dia yang menaikkan alis kirinya. "Harus kesana?" Tanya nya yang penuh rasa curiga. "Angga ada disana.. dia menungguku.." Ucapku menyadari aura Angga ada di rumah itu.


"Bagaimana kau bisa tau?" Tanya Sandi.


"Perasaan.. feelingku mengatakan seperti itu.." Ucapku masuk ke mobil dengan dia yang menyetir.


...****************...

__ADS_1


Setelah memarkirkan mobil sandi melihatku "Kalian terhubung begitu kuat? Apa yang membuat kalian tak menyadari satu sama lain sebelumnya?" Tanyanya membuatku melihat dia dengan senyum tipis. "Apa yang membuatmu tidak yakin pada perasaanmu?" Tanyaku


"Saat kau tak mengenal atau mengetahui orang itu.. bagaimana kau akan memiliki perasaan padanya? Aku tidak tau bahwa aku memiliki adik laki-laki yang merupakan kembaranku.. maka pikiran ku hanya berfikir tentang aku dan hanya diriku yang merupakan anak terakhir dari keluarga Pratama Wijaya.. jika aku tau aku punya adik.. pasti akupun bisa mencarinya sejak awal.." Ucapku dengan Sandi yang mengangguk paham keluar dari mobil.


"Itu sama seperti Wansa.. Kau terlalu memaksanya tuk menyukai weraa yang asli.." Ucapnya membukakan pintu mobil untukku. "Aku tak pernah memaksa Wansa tuk menyukai weraa yang asli.. lagi pula Weraa yang asli itu menyukai orang lain.. hanya saja dia masih tidak yakin dengan perasaannya sendiri.." Ucapku dengan Angga yang memegang gagang pintu hendak pergi dari rumah itu. "Kau tau siapa yang dia sukai?" Tanya Angga padaku.


Tentu saja aku tau.. dia menyukaimu adikku.. tapi disisi lain dia juga ragu dan berpikir bahwa dia menyukai Wansa bahkan ia sempat berfikir dia menyukai Adri.. serumit itu hati seorang wanita jika dibawa berfikir. "Tidak.. aku tidak tau.. yang kutau dia hanya bimbang dengan perasaannya.." ucapku santai.. benar, mana mungkin aku memberitahu nya. Akan lebih baik orang-orang menyadari perasaannya masing-masing dengan sendirinya.


"Kau tidak sedang berbohong kan?" Tanyanya.


Aku melihatnya lagi dengan senyum tipis sambil menghela nafas. "Dari pada kau menanyakan itu.. lebih baik kau pikirkan dia baik-baik saja atau tidak? Beruntung aku memperkuat jiwanya agar tetap diraganya.." Ucapku yang masuk ke rumah dan duduk di sofa sebentar dan menuju dapur untuk membuat teh.


"Kau memberikannya pelindung? Apa kau bisa menghubungi pelindungmu itu? Si phoenix itu?" Tanyaku membuatnya terkejut melihatku.


"Bagaimana kau tau?" Tanyanya.


"Sebelum itu kau harus kuberi pelajaran dulu.." Ucapku dengan menggunakan sihir tuk menidurkannya sehingga ia jatuh ke alam bawah sadarnya. "Kau apakan dia?"


"Memberinya pelajaran lewat alam bawah sadarnya.. sekalian dia belajar bagaimana mengatasi alam bawah sadarnya sendiri.. jika suatu saat dia berhadapan dengan ilusi dia bisa menghancurkan ilusi yang dibuat orang lain dengan mudah.. karena dia sudah bisa menghancurkan ilusi di pikirannya sendiri.." Ucapku membawakan teh panas padanya.

__ADS_1


"Tumben teh? Biasanya kopi?"


"Ada sesuatu yang berbeda yang sedang menanti.. anggap saja dia seperti teh ini.." Ucapku mencoba berfikir tentang Sirah. Aku melipat kaki ku dan melipat tanganku serta menutup mataku. "Kau mau apa Wad?" Tanyanya dengan aku menjawab "Mencari tau kebenaran tentang gadis itu dan semua ini..."


Aku melakukan meditasi terakhir kali saat menetralkan sihirku yang menuju kepada gadis-gadis itu. Alasan aku tak meditasi sejak awal karena meditasi ku terakhir kali membuat sekitarku kesakitan terserang sihirku. Karena itu aku ragu tuk mencari kebenaran melalui meditasi. Namun, sekarang aku sudah yakin bisa mengendalikan pusat pengendalian sihirku.


"Kau yakin mau melakukan ini?" Tanyanya.


Aku yang masih menutup mata hanya mengangguk dan melanjutkan tahap awal. Namun, sebelum itu aku mengatakan padanya "usahakan jangan ada yang mencoba membangunkanku.. aku butuh waktu 24 jam.." Ucapku dengan suara samar terdengar "baiklah..".


...****************...


*Sarah POV


"Udah tuh.. baik kita sarapan dulu.. yakan Sar!" Kata Rinjani.


"Ya tuh.. Shan.. tenang.. klw dia memang gak baik buat kamu berarti dia bukan jodohmu.." Ucap Ku.


"Masalahnya aku kan udah love in silence selama 6 tahun ke dia.. dan bahkan setelah kematian kak Sirah aku berharap banget bisa berjodoh sama kak Randa.." Ucap Shanti.

__ADS_1


"Cih.. berarti mu dah tau dong kalau si Randa suka sama Sirah.. kenapa masih suka sama pria bodoh kek dia sih? Sia-sia tau gak?" Tanya Weraa membuat semua bingung melihatnya. Ada yang berbeda dari dirinya. Dia seperti orang lain yang berbeda dari weraa yang kemarin. Meski aku baru mengenal Weraa aku yakin dia takkan mungkin berkata hal seperti itu karena dia pun tau arti dari perasaan seorang wanita. Karena itu dia tak memaksa Wansa tuk menerimanya. Lalu ada apa ini?


__ADS_2