
"Ini pesanannya.." Ucap seseorang yaitu Dani.
"Cih.. Hanya seorang pelayan tapi berlagak sok kaya.." Batin Wadma kesal.
"Apa kita pernah bertemu?" Tanya Dani yang kemudian menyadari dan terjatuh dengan pesanan orang lain yang terjatuh juga. "Kau.. Gadis waktu itu.." Ucap Dani.
Wadma meminum jusnya dan mulai makan tanpa menghiraukan perkataan Dani. "Hei! jawab aku! Kau gadis waktu itu kan?!" Jangan jatuh kelubang yang sama untuk kedua kalinya... Urus saja pesananmu yang berantakan.. Gara-gara kau aku harus melihat sesuatu yang tak ingin kulihat.. " Ucap Wadma dengan membereskan barang-barangnya, sementara sandi yang baru selesai memperhatikan kejadian itu dari pintu.
"Maaf atas keributan ini.. Sebagai gantinya hari ini semua makanan ini di gratiskan! Aku yang akan mentraktir kalian.. Bibik... Aku sudah transfer uangnya yah.. "
"Tunggu non... Biarkan anggota bibik minta maaf dulu.."
"Tidak perlu bik.. Wadma ada urusan lain.. Selamat menikmati yah semuanya!!" Triak wadma senang melambai pergi.
Sandi mengejar Wadma dan sudah jelas dengan raut wajah bingung namun, tak ingin bertanya karena melihat raut wajah Wadma yang seperti baru saja melihat sesuatu.
"Kau melihat masa lalu Dani?" Tanya Sandi membuat Wadma berhenti.
***
Wansa sampai ke suatu tempat karena ia sudah terbiasa teleportasi secara tiba-tiba saat loosa dalam bahaya. Atau saat ia mendengar suara loosa yang berteriak ia akan langsung teleportasi di hadapan loosa.
Tempat itu sangat gelap seperti gudang yang tak terpakai. Wansa melihat sekeliling namun tak melihat keberadaan Loosa. "Dia belum tau kami akan menyebutnya loosa.. Sebaiknya aku panggil saja dengan nama weraa" Batin Wansa yang mulai mencari keberadaan Loosa dengan memanggil-manggil "weraa.. Weraa!!".
"Cih.. Temui dia! Aku harus pergi!!" Ucap sosok yang tak terlihat namun Wansa bisa mendengar dan tau benar suara itu. Wansa datang ke tempat Loosa dengan loosa yang bertanya "Mengapa kau kemari??" Tanya Loosa yang terlihat berkeringat.
"Aku teleportasi secara tiba-tiba lagi.. Karena kau berteriak.. Apa kau tidak papa??"
__ADS_1
"Kau.. Masih memanggil ku dengan nama itu meski aku bukan orang itu.."
"Ah.. Itu.. Aku.. Ingin mengatakan sesuatu.."
"Kau.."
"??"
"Apa kau masih mencintaiku??" Tanya Loosa dan entah mengapa Wansa terdiam tak bisa mengatakan apa-apa. Dia mengingat bahwa wadma merencanakan pertemuannya dengan Weraa bukan dengan Loosa yang bahkan tak diketahui seperti apa rupanya.
"Hah.. Lupakan.. Apa yang ingin kau katakan??"
"Sebaiknya kau temui teman-temanmu dan tanyakan langsung pada sheli.. Tapi, sebelum itu apa kau baik-baik saja?? Apa kau benar tidak papa?"
"Iya aku tidak papa.."
***
"Heh!! Apa aku tak bisa keluar?? Aku lelah menjadi figuran lama-lama seperti ini.. Harus tetap diam dirumah itu menyebalkan.. Bukankah kau penyihir? Cepat bawa aku keluar tanpa sepengetahuan kak Wadma!!" Ucap Dinda kesal.
"Kau kira ini di dalam drama? Hei.. Kau juga pasti tokoh utama karena kau punya hidupmu kan? Dan kenapa kau berbicara santai seperti itu padaku??"
"Hah?"
"Kau! Kenapa berbicara tanpa menggunakan kata sapaan?"
"Kenapa? Aku sudah dengar dari kak Wadma.. Kau itu sebenarnya sudah berumur ratusan tahun.. Kau ingin aku memanggilmu tua bangka??" Tanya Dinda.
__ADS_1
"Hei!! Jangan membuatku kesal.."
"Kenapa memangnya?? Kau memang tua bangka kan?? Bwekk.." Ucap Dinda menghentakan kaki kesal.
"hei!! Kau yang mengejekku tua bangka kenapa menghentakkan kaki seperti kau yang kesal?? Hei!!" bentak Cevin ingin mengerjai dinda dengan sihir namun benda yang diberi paman wansa jatuh dari meja.
"cih.. Gadis culun itu.. Selamat hari ini.." ucapnya membuka surat itu dan membacanya.
***
"No no no! aku tidak mau!" Ucap Sheli.
"Kau lebih mengenal weraa dari pada kami! Apa kau tak mau membuat mereka akur?" Tanya Rinjani.
"Benar.. Kami juga tidak terlalu mengenal Weraa yang asli kan.." Ucap Windy.
"Aku bilang tidak yah tidak!" Ucap Sheli lagi.
"Ayolah Shell hanya kali ini saja!" Ucap Ririn.
"Aku paling benci jadi orang ketiga baik penghubung atau perusak.. Aku ingin jadi orang yang tak punya hubungan special sejak awal.. Tapi, mereka.. " batin sheli kesal.
"Sudahlah tak perlu memaksakan kehendak.. Kalian tak boleh memaksa orang lain melakukan sesuatu.. Dalam persahabatan saja kita tak boleh melakukan itu! Apa lagi pada orang lain!" Ucap Shanti kesal.
"??!"
ME_Mawad
__ADS_1
KSW_Part75