
“YA! Dia melakukannya! Karena itu aku bilang kau selalu menyakitinya.. mengapa? Kau bertemu dengan nya hanya untuk menanyai Weraa dan Weraa apa kau pikir dia tak merasakan sakit?” Tanya Saka berdiri.
“Ada apa ini?” Tanya Rinjani membuat 2 pria itu terdiam melihatnya.
***
“Sharika! Bagaimana kau bisa bertemu dengan Wadma?” Tanya Shanti.
“Dia sedang memotret dan menemukan kami yang sedang bertengkar saling menjambak rambut.. Aku bersyukur rambut ku masih utuh..”
“Memotret?” Tanya Sheli.
“Dia memiliki hobi memotret tempat sepi untuk dijual jika mendapat foto yang mistis.. Sekaya apapun ia pikirannya masih business dan business..” Ucap Sarah melihat komputernya.
“Aku juga melihat keinginan kuat akan banyak hal..” Ucap Nisa.
“Sejak kapan kau melihat yang seperti itu?” Tanya Windy.
“Entahlah..”
“Tapi.. dia lebih kuat dari Weraa ataupun Wansa.. Namun ia bisa lebih lemah dari pada manusia biasa..” Ucap Sheli.
“Dari mana kau tau?” Tanya Windy.
“Kartika yang memberitaukannya..” Ucap Sheli.
“BTW, Kartika dimana?” Tanya Windy.
“Eh.. kemana dia?” Tanya Dinda yang melihat disampingnya kosong.
__ADS_1
***
“Wansa?”
“Hm??”
“Apa kau pernah ke Coffe Shop? Waktu itu ada pria yang mengatakan pada pelayan bahwa pria itu temanku dan aku membayarkan Coffe nya.. tapi, aku tak bertemu dengannya apa itu kau??” Tanya Weraa.
“Aku.. belum pernah kesana..”
“Belum? Kalau begitu siapa dia?” Tanya Weraa berhenti.
“Apa kau tidak punya teman pria? Mungkin itu teman priamu..” Ucap Wansa.
“Boro-boro.. Ingat nama mereka aja susah.. apalagi jadi temen..” Ucap Weraa.
“Terus kamu kok ingat nama aku?” Tanya Wansa mulai menjahili.
“Baiklah.. aku akan mengantarkan pacarku terlebih dulu!” Ucap Wansa tersenyum. Mereka menuju ke apartemen dengan seseorang yang bersembunyi di balik gedung membuka pisau lipatnya.
***
Sekilas senyum licik terlihat di pandangan Wadma dan membuatnya terdiam sejenak melihat sekeliling. “Ada apa Wad?” Tanya Sandi. “Aku mendengar suara pisau lipat yang dibuka.. dan melihat senyum licik dari seorang pria..” Ucap Wadma dengan senior Dinda yang melihat mereka berdua.
“Apa itu ada hubungannya dengan pembunuhan Betlan School?” Tanya Sandi.
“Entahlah.. biasanya iya…”
“Pria yang kau kejar tadi? Apa dia pembunuhnya?” Tanya Sandi.
__ADS_1
“Entahlah.. mungkin ya mungkin juga tidak..”
“Kau ini..” Ucap Sandi kesal.
“Selamat datang..” Ucap pelayan hantu itu membuat Wadma melihat ke pintu dan itu adalah Kartika. “Dia mengucapkan pada siapa? Padahal tak ada orang yang datang..” Ucap pelanggan bingung.
Kartika datang ke meja Wadma dan Sandi dan duduk diam seperti ingin mengatakan sesuatu. “Kau kenapa?” Sandi bingung melihat Wadma melihat ke bangku kosong disebelahnya.
“Aku.. Sebenarnya.. mereka tidak jahat..”
“Siapa yang mengatakan mereka jahat?” Tanya Wadma.
“Weraa.. dia membawa dinda dari toko ini..”
“Aku tau.. Weraa juga tau.. Hantu disini ingin menyelamatkan Dinda.. Karena itu jika Dinda bekerja disini ia akan bisa diawasi terus menerus dan Seniornya itu teman Cantika kan?” Tanya Wadma membuat Kartika menatap bingung.
“Wad..”
“Sandi.. kau diam dulu mengerti!” Ucap Wadma.
“Bagaimana kau bisa tau itu?” Tanyanya.
“Mimpi itu datang.. Sekilas namun bisa kupahami.. aku seakan tau hal yang sudah kalian ketahui.. Tapi, para pelayan disini masih tak bisa percaya padaku..” Ucap Wadma.
“Cantika mengatakan mereka seperti itu karena..”
“Wansa? Dia sudah tau semuanya namun ia tak bisa melakukan apa-apa..” Ucap Wadma.
__ADS_1
ME_Mawad
KSW_Part30