Kehidupan Song Weraa

Kehidupan Song Weraa
Hati itu akan berubah atau tidak? Apa kau masih menunggunya?


__ADS_3

  “Kalau begitu aku takkan berubah!” Ucap Adri dengan Rinjani yang tertegun.


 


  “Tak akan?” Tanya Sarah yang sebenarnya memandang Rinjani. “Kalau begitu mungkin hati Weraa takkan berubah juga yah..” Ucap Sarah lagi dan pergi sementara Sheli melihat Rinjani yang mengambil tisue dan memberikannya pada Adri. “Trimakasih.. kau selalu mengerti aku.. kau junior terbaik..” Ucap Adri.


  “Sheli yang melihat itu pergi berjalan dengan kesal sementara Rinjani mehendak menyusul namun Adri memanggilnya. “Hei! Kakak ingin menanyakan soal Weraa makanlah bersama kakak di kantin yah..” Ucap Adri dengan Rinjani tersenyum dan memberikan jempolnya “Jangan Hawatir! Semua pasti akan membaik!” Ucap Rinjani pergi dan semua murid mulai mengerubungi Adri.


  “Dia mengatakan ‘Jangan Hawatir! Semua pasti akan membaik’?? Dia menyemangati dirinya sendiri lagi..” Ucap Wansa di bawah pohon rindang. Saat Wansa akan melangkah pergi ia terhenti dan melihat gadis di balik pohon lain. “Weraa? Sejak kapan dia disana?” Tanya Wansa berpindah ke dekat Weraa namun dia membuat kesalahan dan malah berada diatas pohon.


  “Senior itu memiliki info tentang pembunuhan itu.. mustahil bila aku tak berbicara dengannya.. Tapi bagaimana aku membuatnya sadar? Rinjani mencintainya…” Ucap Weraa yang baru menyadari detak jantungnya berdetak kencang lagi.

__ADS_1


  “Jadi.. dia tau Rinjani mencintai Adri.. apa dia juga mencintainya dan hanya melakukan pengorbanan?” Tanya Wansa dalam hati. “Tunggu! Apa yang dia lihat? Dia seperti mencari sesuatu..” Pikir Wansa.


  Weraa memutari pohon dan melihat kesana kemari namun, tak menemukan siapapun. “apa dia tau keberadaanku?” Pikir wansa lagi. Wansa memperhatikan Weraa yang memegangi dadanya dan berhenti dan mundur mendekati pohon dan melihat ke atas pohon namun tak ada siapa-siapa.


  “Dimana kau? Kau pasti ada disini! Tunjukkan dirimu!” Ucap Weraa. Namun, Wansa masih bersembunyi di balik pohon itu. Weraa memutari pohon itu lagi dan masih merasakan detak jantungnya yang cepat. “Aku yakin kau disekitar sini… Aku bisa merasakannya..” Ucap Weraa namun, Wansa yang hendak menepuk pundak gadis itu kembali mengurungkan niatnya karena Windy yang datang.


  “Hei! Apa yang kau lakukan! Bel dah mau bunyi!” Ucap Windy dengan Weraa yang melamun berhenti menatap kosong. “Ada apa dengan jantungmu? Apa kau sakit? Atau? Jantungmu berulah lagi?” Tanya Windy. “Berdetak lagi sangat cepat.. Namun, gara-gara kau…” Ucap Weraa menatap tajam Windy penuh amarah.


  “Ck! Kau bilang kau temanku?” Tanya Weraa membuat ia terdiam sedangkan Wansa mendengarkan dari kejauhan.


  “Jika kau temanku! Cobalah percaya padaku! Aku benar-benar yakin dia itu ada! Dia bukan hanya halusinasiku! Waktu itu dia yang memberikanku sapu tangan di lomba renang! Kau ada disebelahku! Kau hanya tak ingat!! Dia benar-benar ada!! Jantungku selalu berdebar saat aku berpapasan dengannya atau dengan kata lain dia berjarak minimal 3-5 meter dariku!” Keluh Weraa kesal memukul pohon besar itu.

__ADS_1


  “Maaf aku hanya..” Ucapan Windy disela.


  “Maaf.. bukan salahmu bila kau tak percaya pada hal seperti itu.. kurasa aku terlalu memaksakanmu.. kau teman baikku.. tapi setidaknya jangan menyakiti perasaanku.. apalagi bila kau mengatakan bahwa dia tidak ada! Dia lebih dulu menemaniku sebelum kalian…” Ucap Weraa dengan Windy yang menangis.


  “Huaaa~ Maaf.. aku tak bermaksud~ hiks.. hiks.. aku hanya hawatir bahwa kau..”


 


ME_Mawad


KSW_Part18

__ADS_1


__ADS_2