
“Emang siapa lagi namanya Adri disini kalau bukan lu? Gua mau ngerjain tugas bareng ketos.. Lumayan kan Si Dika kan otaknya 11:12 Sama Rinjani ya kan Ni? Gua duluan bye!!” Ucap Saka.
Kesenyapan datang dan membuat kecanggungan. Rinjani sadar sewaktu ia masih tak memiliki perasaan pada Adri mereka bagai kakak adik yang cukup dekat dan tak pernah canggung. Namun, perasaannya kini sering membuatnya salah tingkah.
“Yaudah.. ayo!” Ucap Adri.
“Gak usah kak.. Rinjani pulang sendiri aja..”
“Yakin??” Tanya Adri.
“IYa..” Ucap Rinjani tersenyum lagi dan mencoba untuk kembali natural seperti dulu.
“Yasudah.. hati-hati yah.. Ah benar! Makasih nasi padangnya yah..” Ucap Adri.
Rinjani pergi meninggalkan Adri sendirian diruang latihan itu. Namun, saat di tengah perjalanan sosok itu datang dengan motornya. Saka membuka helm nya sambil menghela nafas. “Ada apa kak?” Tanya Rinjani.
“Dia tak mau mengantarmu?” Tanya Saka.
“Tidak.. dia ingin mengantarku.. hanya saja aku yang menolaknya..” Ucap Rinjani.
“Mengapa kau menolaknya?” Tanya Saka dengan Rinjani yang menghela nafas menggeleng sambil menaikkan bahu. “Rinjani pikir.. Masa dulu lebih menyenangkan dari pada saat ini.. Rinjani dan Kak adri seperti kakak adik dulu..”
“Kau ingin menghapusnya?” Tanya Saka.
__ADS_1
“Entahlah.. Kakak tidak berangkat?” Tanya Rinjani.
“ah.. itu.. Kakak antar mau?” Tanya Saka.
“Tapi, kakak ngejar Kak Dika.. entar ketinggalan loh..” Ucap Rinjani menggoda sementara Saka memakai helmnya lagi dan menyuruh Rinjani Naik “Cepetan!” Ucap Saka.
“Yakin??” Tanya Rinjani.
“Udah cepet makanya!” Ucap saka dan Rinjani pun menurut.
***
“Kak.. berapa lama lagi Dinda harus disini? Dinda bosan.. Gak boleh kerja.. sekolahpun dah bolos!!” Ucap Dinda dengan Shanti melihatnya.
“Nurut aja..” Ucap Shanti dengan singkat, padat, dan jelas.
“Kamu mau jadi korban pembunuhan berantai itu?” Tanya Nisa.
“.. Nggak lah kak... Tapi kan kalau gini.. Dinda ngerasa kek jadi anak asuh yang dirawat sultan:v”
“Biasa aja kali.. nenek moyang kita sama:v” Ucap Shanti.
“Kak.. kak Weraa itu dapat kekuatan itu gak dari lahir kan?” Tanya Dinda.
__ADS_1
“Apa maksud kamu?” Tanya Nisa berpandangan dengan Shanti.
“Yah.. Dia dapat gak dari lahir atau keturunan..” Ucap Dinda dengan Weraa yang datang membawa bungkusan. Dan melihat 3 gadis itu dan kebingungan “Ada apa?” Tanya Weraa.
“Kak Weraa dapat ke.. Mpph!! Mph!!” mulut dinda langsung ditutup oleh Shanti.
“Ke?? Dapat apa?” Tanya Weraa.
“Kemana pacarmu Wer??” Tanya Nisa.
“Ah.. dia baru saja pulang… Dia bilang dia ada urusan juga..” Ucap Weraa menuju kamar dan memegang gagang pintu namun berhenti dan melihat Shanti yang masih menutup mulut Dinda.
“Berhenti menutup mulutnya.. nanti dia sesak nafas.. Aku membeli 3 jus di plastik itu.. Minumlah..” Ucap Weraa masuk mengunci pintu dan duduk di meja belajarnya memandang tangannya. “Siapa dia sebenarnya..”
***
Sebelum Weraa sampai di apartemennya. Weraa dan Wansa sudah diikuti oleh seseorang yang hendak menyerang Weraa. Seperti yang dilihat Wadma sosok berpakaian serba hitam itu membawa pisau lipat. “Wad.. itu mereka..” Ucap Sandi yang melihat Weraa dan Wansa.
“Pria itu benar-benar mengikuti mereka..” Ucap Wadma.
“Bagaimana sekarang?”
“Aku sudah disini.. jika Allah mengizinkan ini akan baik-baik saja..” Ucap Wadma.
__ADS_1
ME_Maad
KSW_Part32