Kehidupan Song Weraa

Kehidupan Song Weraa
Ep.102


__ADS_3

Dikatakan seperti apa rasanya, aku cemburu melihat Cevin guru Wadma satu itu pasti memiliki perasaan yang sama terhadap Wadma. Meskipun dia pergi meninggalkan kami berdua saja tetap saja aku tak bisa menjadikannya rivalku. Setelah ia menghilang dengan teleportnya kami masuk kerumah besar itu dan disambut orang tua Cantika.


Ep.102


"Silahkan duduk nak.. wah kami sangat tidak mengira ada yang mau menyelidiki kasus anak kami.. karena kasusnya selalu tak membuahkan hasil.." Ucap ibu cantika.


  "Kami sudah membayar berbagai detektif sampai detektif yang terkenal.. namun, hasilnya sama saja.. mereka menyerah.." Ucap papa cantika.


Aku hanya bingung memperhatikan mereka seperti sedang membanggakan uang mereka yang digunakan untuk membayar detektif terkenal di banding raut wajah sedih kehilangan putri mereka. Wadma hanya netral dengan senyum palsunya, sepertinya dia juga tau ada yang tidak beres dengan kedua orang tua cantika.


"Wah.. bibik.. seleramu sangat tinggi yah.. ada banyak miniatur mahal disini.." Ucap Wadma memancing.

__ADS_1


  "Benar nak.. apa kau tau? Itu bibik belik dari thailand miniatur itu benar benar sakral" ucapnya dengan semangat.


Wadma melihat miniatur itu baik-baik dan mengangguk seperti mengerti sesuatu. Kemudian dia melihat ke arah pintu kamar atas yang terlihat dari ruang tamu. "Ah.. iya.. bibik, apa saya boleh melihat kamar Cantika?" Tanya Wadma dengan bibik yang mulai menggigit jari berpikir.


"Barang kali disana ada petunjuk dari sisi favorit dan kehidupan dia.." Ucap Wadma dengan bibik yang berpura-pura menangis terpukul.


  "Cantika anak yang baik hiks.. dia selalu pergi ke sekolah tepat waktu.. hiks.. dia juga sering membantu neneknya sepulang sekolah.." Ucap bibi itu dengan paman yang berdiri mengiringinya untuk duduk disofa. wadma memutar mata malas dan duduk kembali disebelahku. Baik.. itu menandakan wadma tau bahwa itu hanya acting.


  "Oiyah.. bibik tadi kau bilang detektif terkenal yang kau bayar itu siapa yah bik? Dan apa hasil yang dia dapat?" Ucap ku tak peduli pada tangisnya.


Aku membulatkan mataku dan melihat kearah Wadma yang menyandarkan dirinya sambil berfikir. "Apa kau yakin memang detektif mingyu bik?" Tanyaku.

__ADS_1


  "Benar.. kalian kira kami tidak bisa membayar mahal detektif terkenal itu begitu?" Bentak ayah cantika sambil memeluk ibu cantika. "Yang kami maksud hasilnya.. bukan masalah bayarannya.. setau kami detektif Mingyu itu tak pernah tak menyelesaikan kasus tanpa bukti.." Ucap Wadma meletakkan tehnya dengan tenang.


  "Lalu maksud mu kami berbohong begitu??" Bentark ayah cantika emosi.


  "Loh kok emosi..? Santai dong om.. tante.. bisa berhenti acting nangisnya gak?" ucap Wadma santai lagi berdiri dan membersihkan sofanya. Dia menatap kedua orang tua itu dan tersenyum dan menunduk "maaf telah mengganggu waktu om dan tante.. sepertinya tidak ada gunanya kita datang kesini San.. biar Cantika saja yang mencari tau sendiri.." Ucap Wadma melihat ke arah kamar cantika lagi.


Setelah masuk ke mobil aku pun tak bisa menahan rasa penasaran ku "Mengapa kita keluar tanpa dapat apa-apa?" tanyaku. Dengan dia hanya diam menatap ke depan dengan tatapan kosong. "Yang tadi itu... Bukan manusia..." Ingin aku berkata kasar karena terkejut dengan pernyataannya.


Seketika itu juga aku langsung membeku dan langsung melihat tawanya yang bercanda. "Kau tau itu tidak lucukan?" Ucapku menghela nafas. Dia pun berhenti tertawa dan mengatakan "maaf.." dengan nada datar dan melihat ke arah rumah cantika tepat di jendela lantai dua.


"Tapi.. mereka memang bukan manusia.. manusia macam apa yang menyiksa anak mereka sendiri dan menumbalkan anak mereka sendiri?"

__ADS_1


Aku hanya terdiam terkejut menatapnya lagi. Dengan dia yang menyandarkan kepalanya dengan pasrah sambil menghela nafas dan berkata "Hal tersedih adalah saat manusia lupa untuk menggunakan hatinya.."


  "Jadi maksudmu.. mereka.."


__ADS_2